Suara.com - Brigade Izz al-Din al-Qassam, sayap militer Hamas, telah mengonfirmasi pembunuhan seorang komandan senior dalam serangan Israel di kota Sidon, Lebanon.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat, Brigade al-Qassam mengatakan bahwa Hassan Ahmed Farhat, seorang komandan senior Al-Qassam, dibunuh bersama putri dan putranya dalam sebuah serangan udara yang dilakukan oleh rezim pendudukan di rumah mereka di kota Sidon di Lebanon selatan.

Pernyataan itu menambahkan, “Kebijakan pengecut untuk membunuh anak-anak dan mujahidin kami oleh rezim pendudukan Israel, baik di wilayah Palestina yang diduduki maupun di luar negeri, tidak akan pernah menghalangi kami untuk melanjutkan jalan jihad dan pengorbanan.”
Serangan itu, yang dilakukan oleh pesawat tak berawak Israel pada hari Jumat, menghantam sebuah apartemen hunian di kota Sidon, tempat Farhat dilaporkan berada.
Terbunuh bersama anggota keluarga
Seorang komandan senior Hamas, Hassan Farhat, tewas dalam serangan udara Israel di kota pelabuhan Sidon, Lebanon, pada Jumat dini hari.
Serangan itu juga menewaskan dua anggota keluarganya, yakni putra Farhat, Hamza, yang juga merupakan anggota sayap militer Hamas, serta putrinya yang sudah dewasa, Jenan.
Militer Israel mengonfirmasi dalam pernyataan resminya bahwa operasi tersebut dilakukan oleh pasukan Israel dan badan keamanan dalam negeri Shin Bet sebagai serangan terarah yang menargetkan Farhat.
Menurut Israel, Farhat adalah komandan Hamas untuk wilayah barat Lebanon dan dianggap bertanggung jawab atas sejumlah serangan terhadap tentara dan warga sipil Israel sejak pecahnya perang di Gaza pada Oktober 2023.
"Dia terlibat dalam sejumlah aksi teror, termasuk penembakan roket ke kota Safad pada 14 Februari 2024, yang menewaskan seorang tentara Israel," demikian bunyi pernyataan militer Israel.
Serangan yang terjadi sekitar pukul 03.45 waktu setempat itu menyebabkan dua ledakan besar dan kebakaran hebat di sebuah blok apartemen empat lantai di lingkungan padat penduduk di Sidon.
Media pemerintah Lebanon melaporkan bahwa serangan dilakukan oleh pesawat tak berawak milik Israel.
Petugas darurat menemukan tiga jenazah di lokasi kejadian.
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, mengecam serangan tersebut sebagai “serangan mencolok terhadap kedaulatan Lebanon” dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata 27 November antara Israel dan Hizbullah.

“Serangan ini tidak hanya melanggar kesepakatan yang telah disepakati, tetapi juga menimbulkan ancaman serius terhadap stabilitas Lebanon. Kami menyerukan tekanan maksimum pada Israel untuk menghentikan serangan berkelanjutan terhadap wilayah permukiman sipil,” ujar Salam.