Bikin Nyes, Perjuangan Para Pencari Kerja di Batam yang Berdesakan hingga Jatuh Masuk Selokan

Dinda Rachmawati

Senin, 21 April 2025 | 14:45 WIB
Bikin Nyes, Perjuangan Para Pencari Kerja di Batam yang Berdesakan hingga Jatuh Masuk Selokan
Viral Perjuangan Pencari Kerja yang Harus Berakhir di Selokan (X)

Suara.com - Fenomena pencari kerja yang berdesakan di tengah keterbatasan lapangan pekerjaan baru-baru inimenyita perhatian publik di media sosial. 

Sebuah video yang diunggah oleh akun X @mdy_asmara1701 memperlihatkan ribuan orang di Batam yang mengenakan pakaian formal—serba hitam dan putih—berkumpul dalam jumlah besar demi mendapatkan pekerjaan. 

Sayangnya, dikarenakan saling berdesakan, beberapa pencari kerja yang diduga hadir di dalam sebuah job fair itu terlihat jatuh ke dalam selokan. Untungnya, saat itu selokan tersebut dalam kondisi kering, sehingga tidak sampai menimbulkan korban jiwa. 

Aksi saling tolong-menolong kemudian terjadi secara spontan ketika para pencari kerja lainnya bergegas membantu rekan-rekan mereka yang terjatuh.

Peristiwa ini pun menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Tidak sedikit warganet yang mengungkapkan keprihatinan atas kejadian tersebut, yang dianggap sebagai simbol nyata tingginya angka pengangguran dan minimnya lapangan kerja yang layak.

Meski antusiasme dan harapan mereka begitu besar, situasi di lapangan tak sebanding, mencerminkan realitas getir dunia ketenagakerjaan di Indonesia.

Seorang pengguna, dengan nama akun @nev****, menyampaikan, "Sekarang banyak banget pengangguran, lapangan kerja tidak ada." Sebuah kalimat yang sesungguhnya menggambarkan kondisi sosial ekonomi yang kian memprihatinkan.

Dalam sistem ketenagakerjaan yang seharusnya modern dan efisien, peristiwa semacam ini menandakan adanya ketimpangan besar antara permintaan dan penawaran tenaga kerja. 

Masih banyak perusahaan yang mengandalkan sistem rekrutmen konvensional dengan pengumpulan berkas secara fisik, sehingga menciptakan penumpukan massa di satu lokasi. 

baca juga

Hal ini tidak hanya menimbulkan risiko keselamatan, tetapi juga menambah beban psikologis bagi para pencari kerja yang sudah tertekan secara ekonomi.

Beberapa warganet bahkan menyarankan agar peristiwa semacam ini disebarluaskan agar menarik perhatian pemerintah.

Akun @eko**** menuliskan, "Hal-hal seperti ini sebaiknya diviralkan agar sampai ke pemerintah!," Seruan ini menunjukkan bahwa masyarakat merasa kurangnya perhatian dari otoritas terhadap permasalahan pengangguran yang terus meningkat.

Tidak sedikit pula yang mengkritik ketimpangan sosial dan kemudahan akses yang dimiliki oleh sebagian kecil elite. 

Pengguna @dal**** menyindir, "Pupupapa mah gk perlu desak-desakan begini... tinggal ngerengek sama bapaknya, angkele... Sim salabim... tetiba jadi wapres paling dungu sepanjang sejarah." 

Komentar ini, walau bernada sarkastik, mencerminkan keresahan publik atas kesenjangan sosial yang makin lebar.

Sementara itu, @dew**** mengangkat isu korupsi yang dianggap sebagai akar dari berbagai kesulitan sosial, termasuk pengangguran. 

"Ya Allah....sedangkan mereka yang memakan uang haram dibiarkan... YTH Bapak Presiden @prabowo tidak kasihankah dengan anak-anak bangsa ini. Uang korupsi itu jika diperuntukkan untuk peningkatan kemampuan keterampilan akan lebih bermanfaat," tulisnya.

Sementara pengguna akun @naj**** memberikan kritik terhadap mekanisme seleksi kerja yang dianggap tidak transparan dan tidak efisien. 

"Memangnya itu berkas sebanyak itu dibaca sama HRD? Paling juga formalitas saja, sudah ada kandidat yang diterima di perusahaan tersebut. Era digital seharusnya kirim via email, tinggal seleksi, jadi mengurangi penumpukan manusia juga menghemat bagi pelamar kerja dan perusahaan," ucap dia.

Peristiwa di Batam adalah cerminan nyata bahwa tantangan dunia kerja di Indonesia tidak hanya berada pada ketersediaan lapangan kerja, tetapi juga pada efektivitas dan transparansi sistem rekrutmen.

Diperlukan sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat sipil untuk menyelesaikan permasalahan ketenagakerjaan secara menyeluruh.

Mulai dari peningkatan kualitas pendidikan vokasional, pelatihan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri, hingga reformasi sistem rekrutmen yang lebih inklusif dan tidak diskriminatif.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pekerjaan Prestisius Ditho Sitompul, Anak Kandung Mendiang Hotma Sitompul

Pekerjaan Prestisius Ditho Sitompul, Anak Kandung Mendiang Hotma Sitompul

Lifestyle | Minggu, 20 April 2025 | 10:42 WIB

Benarkah 'Kerja Apa Aja yang Penting Halal' Tak Lagi Relevan?

Benarkah 'Kerja Apa Aja yang Penting Halal' Tak Lagi Relevan?

Your Say | Kamis, 17 April 2025 | 18:16 WIB

Nathalie Holscher Kerja Apa sebelum Dinikahi Sule? Kini Jadi DJ, Sekali Manggung Disawer Rp150 Juta

Nathalie Holscher Kerja Apa sebelum Dinikahi Sule? Kini Jadi DJ, Sekali Manggung Disawer Rp150 Juta

Lifestyle | Rabu, 16 April 2025 | 16:57 WIB

Terkini

Teka-teki Lokasi Muktamar NU, 5 Provinsi Ini Bersaing Ketat

Teka-teki Lokasi Muktamar NU, 5 Provinsi Ini Bersaing Ketat

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 18:30 WIB

DTKJ Usul Mikrotrans Tak Lagi Gratis, Tarif Rp 2.000 Dinilai Bikin Data Penumpang Lebih Akurat

DTKJ Usul Mikrotrans Tak Lagi Gratis, Tarif Rp 2.000 Dinilai Bikin Data Penumpang Lebih Akurat

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 18:24 WIB

Kenapa Warga Bela Bandar Narkoba? Bedah Kasus Katingan yang Tewaskan Aipda Yudhi Perdana

Kenapa Warga Bela Bandar Narkoba? Bedah Kasus Katingan yang Tewaskan Aipda Yudhi Perdana

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 18:24 WIB

Kasus dr Icha Jadi Titik Balik, Kemenkes Siapkan Perpres Perlindungan Nakes hingga Aturan Sanksi

Kasus dr Icha Jadi Titik Balik, Kemenkes Siapkan Perpres Perlindungan Nakes hingga Aturan Sanksi

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 18:13 WIB

Heboh Gembok 'Sakti' Rp92,5 Miliar di Kemenimipas, Anggota DPR Temukan Harga Tak Wajar

Heboh Gembok 'Sakti' Rp92,5 Miliar di Kemenimipas, Anggota DPR Temukan Harga Tak Wajar

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 18:09 WIB

DTKJ Usul Tarif Langganan Transjakarta Rp 200 Ribu per Bulan, Ada Diskon 20 Persen

DTKJ Usul Tarif Langganan Transjakarta Rp 200 Ribu per Bulan, Ada Diskon 20 Persen

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 18:07 WIB

Catatan Kritis DPR Soal Rencana Taruna Akmil Masuk Sekolah Rakyat

Catatan Kritis DPR Soal Rencana Taruna Akmil Masuk Sekolah Rakyat

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 18:03 WIB

Dukung Liga Akar Rumput, Kadispora DKI Intruksikan Sudin Fasilitasi Talenta Sepak Bola Jalanan

Dukung Liga Akar Rumput, Kadispora DKI Intruksikan Sudin Fasilitasi Talenta Sepak Bola Jalanan

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 17:56 WIB

Anak Disabilitas Psikososial Alami Hambatan di Sekolah, Apa yang Salah?

Anak Disabilitas Psikososial Alami Hambatan di Sekolah, Apa yang Salah?

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 17:29 WIB

Dugaan Intimidasi Dokter Icha Dilakukan 3-4 Orang, Hasil Investigasi Diserahkan ke Polisi

Dugaan Intimidasi Dokter Icha Dilakukan 3-4 Orang, Hasil Investigasi Diserahkan ke Polisi

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 17:20 WIB

×