Jelang Peringatan Kemerdekaan, AKSI: Kebijakan Negara Mengarah Penyengsaraan Rakyat!

Dwi Bowo Raharjo, Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Jum'at, 15 Agustus 2025 | 11:42 WIB
Jelang Peringatan Kemerdekaan, AKSI: Kebijakan Negara Mengarah Penyengsaraan Rakyat!
Aliansi Keterbukaan Sejarah Indonesia (AKSI) bersama Amnesty International Indonesia mengeluarkan pernyataan sikap menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke 80 tahun. (Suara.com/Yaumal)

Suara.com - Aliansi Keterbukaan Sejarah Indonesia (AKSI) bersama Amnesty International Indonesia mengeluarkan pernyataan sikap menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke 80 tahun.

AKSI terdiri dari aktivis hingga akademisi seperti Jaksa Agung 1999-2001, Marzuki Darusman, Profesor Antropologi Hukum Sulistyowati Irianto, Direktur Lab45 Jaleswari Pramodhawardani, Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid, dan Amirrudin. Selain itu, ada juga tiga sejarawan Asvi Warman Adam, Andi Achdian, dan Firda.

Mereka menyatakan menjelang usia kemerdekaan Indonesia ke 80 tahun kebijakan negara justru mengarah menuju penyengsaraan, jauh dari mensejahterakan rakyat.

AKSI menilai para pemimpin tak lagi berpikir menempatkan bangsa Indonesia bermartabat dan sejajar dengan bangsa lain.

"Tapi justru merampok kekayaan negeri untuk diri pribadi, kelompok. Potret suram ini diperparah dengan kaum cerdik pandai atau sejarawan yang mencoba memanipulasi ingatan dan sejarah dengan tidak menuliskan pengalaman kelam dan traumatik yang terjadi pada rakyat," ujar Firda membacakan pernyataan sikap AKSI di Amnesty Internasional Indonesia, Kamis (14/8/2025).

Selain itu mereka juga memandang bahwa pemerintah era reformasi gagal mengubah Negara Keamanan Nasional ala rezim Soeharto. Indonesia kehilangan kesempatan mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

"Situasi seperti itu juga membuat 10 bulan Pemerintahan Prabowo Subianto dengan cepat menunjukkan ciri-ciri dan perangai Orde Baru, yaitu militeristik, penggunaan kekerasan, teror, mengabaikan hak asasi manusia, dan anti intelektual," kata Firda.

"Aliansi Keterbukaan Sejarah Indonesia yang peduli terhadap negeri ini berharap para pemimpin dan pemegang amanat rakyat tidak lagi mempermainkan suara rakyat, memanipulasi ingatan dan sejarah, dan fokus pada pembangunan negeri ini menuju kehidupan yang lebih bermartabat, adil, dan menjunjung hak asasi manusia," sambungnya.

Pernyataan sikap tersebut mereka beri judul 80 Tahun Indonesia Merdeka: AKSI ingatkan bahaya Kemerosotan Republik yang terdiri dari empat poin utama:

baca juga
  1. Pemerintah Indonesia tengah mendorong Indonesia ke dalam kemerosotan nasional (national decline) dari segi kerakyatan, dengan hancurnya sendi-sendi pemerintahan demokratis yang kini digantikan oleh Negara Keamanan Nasional.
  2. Prinsip Negara Keamanan Nasional telah dibangun sejak pengambilalihan kekuasaan pada 1965 dan diteruskan pada masa 30 tahun sesudah Orde Baru, melalui pemusatan kekuasaan dan manipulasi undang-undang.
  3. Rakyat dilumpuhkan kesadaran sejarahnya serta kedaulatannya sebagai manusia yang berpikir sehingga melahirkan masyarakat yang pasif dan apolitis.
  4. Negara berdiri di atas infrastruktur impunitas, ketiadaan akuntabilitas terhadap pelanggaran HAM yang berat masa lalu yang menanamkan ketakutan dan kecemasan bagi generasi muda melalui jargon ‘bahaya laten’, ‘ancaman asing’, dan ‘antek asing’, atas nama nasionalisme darurat yang agresif. Padahal, yang dibutuhkan Indonesia adalah nasionalisme kemanusiaan yang progresif.

Untuk itu mereka menyampaikan tiga tuntutan, yakni:

  1. Mendesak pemerintah mencabut berbagai kebijakan yang membawa kemerosotan nasional, seperti kebijakan penulisan ulang sejarah, penetapan hari kebudayaan nasional, dan pemberian gelar kehormatan untuk orang-orang yang jelas telah merusak sendi-sendi kemanusiaan dan kebangsaan di masa silam
  2. Mendesak pemerintah menghentikan praktik-praktik otoriter melalui kebijakan atau upaya lainnya yang mematikan sendi-sendi demokrasi, termasuk yang melumpuhkan fungsi partai politik dalam permusyawaratan perwakilan rakyat, seperti pembentukan Koalisi Indonesia Maju,
  3. Mendesak pemerintah menghentikan kriminalisasi terhadap kebebasan berekspresi melalui berbagai instrumen hukum dan tindak kekerasan aparat terhadap berbagai elemen masyarakat yang bersuara kritis.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Potong Tumpeng dari Bagian Puncaknya Itu Keliru, Begini Etika yang Tepat

Potong Tumpeng dari Bagian Puncaknya Itu Keliru, Begini Etika yang Tepat

Lifestyle | Jum'at, 15 Agustus 2025 | 11:35 WIB

Film Merah Putih One For All Tayang di Mana Saja? Cek Daftar Bioskopnya

Film Merah Putih One For All Tayang di Mana Saja? Cek Daftar Bioskopnya

Lifestyle | Jum'at, 15 Agustus 2025 | 10:51 WIB

Bela Timnas Indonesia U-17, Djone Alexandre Nathanael Ungkap Target Pribadi

Bela Timnas Indonesia U-17, Djone Alexandre Nathanael Ungkap Target Pribadi

Your Say | Jum'at, 15 Agustus 2025 | 10:12 WIB

Legislator PDIP Sebut Indonesia Belum Merdeka dari Kesenjangan dan Ketidakadilan Sosial

Legislator PDIP Sebut Indonesia Belum Merdeka dari Kesenjangan dan Ketidakadilan Sosial

News | Jum'at, 15 Agustus 2025 | 09:56 WIB

Nova Arianto: Timnas Indonesia U-17 Siap Tempur Lawan Uzbekistan

Nova Arianto: Timnas Indonesia U-17 Siap Tempur Lawan Uzbekistan

Bola | Kamis, 14 Agustus 2025 | 21:46 WIB

Terkini

Teheran Tutup Wilayah Udara Selama Prosesi Pemakaman Ali Khamenei

Teheran Tutup Wilayah Udara Selama Prosesi Pemakaman Ali Khamenei

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 23:24 WIB

Pakar UGM: Wajar Publik Curiga Pengangkatan Komisaris BUMN karena Balas Jasa Politik

Pakar UGM: Wajar Publik Curiga Pengangkatan Komisaris BUMN karena Balas Jasa Politik

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 22:39 WIB

Kronologi Pertemuan Menhut dan Bupati Kuansing, Dari Amplop Sampai Alih Fungsi Hutan

Kronologi Pertemuan Menhut dan Bupati Kuansing, Dari Amplop Sampai Alih Fungsi Hutan

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 22:28 WIB

Penguatan Fiskal hingga Digitalisasi Layanan Masuk 10 Rekomendasi untuk Kota di Indonesia

Penguatan Fiskal hingga Digitalisasi Layanan Masuk 10 Rekomendasi untuk Kota di Indonesia

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 21:39 WIB

Bukan Provokasi, Boikot Pajak Dinilai jadi Hak Pembangkangan Sipil

Bukan Provokasi, Boikot Pajak Dinilai jadi Hak Pembangkangan Sipil

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 21:20 WIB

Minta Bantuan Dana Parpol Naik, ICW Tantang Partai Buka Laporan Keuangan

Minta Bantuan Dana Parpol Naik, ICW Tantang Partai Buka Laporan Keuangan

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 20:59 WIB

Perludem Usul Sistem e-Banpol, Publik Bisa Pantau Penggunaan Dana Partai Secara Real-Time

Perludem Usul Sistem e-Banpol, Publik Bisa Pantau Penggunaan Dana Partai Secara Real-Time

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 20:37 WIB

Vonis Seumur Hidup untuk Priyo, Eksekutor Keji yang Habisi 5 Nyawa di Indramayu

Vonis Seumur Hidup untuk Priyo, Eksekutor Keji yang Habisi 5 Nyawa di Indramayu

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 20:35 WIB

Korban Penyekapan 3 Tahun Bakal Jalani Operasi Bertahap, Begini Kondisinya Kini

Korban Penyekapan 3 Tahun Bakal Jalani Operasi Bertahap, Begini Kondisinya Kini

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 20:05 WIB

Bayar Rp200 Ribu Sebulan Bisa Naik Transjakarta Setiap Hari? Begini Skemanya

Bayar Rp200 Ribu Sebulan Bisa Naik Transjakarta Setiap Hari? Begini Skemanya

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 19:54 WIB

×