Tubuhku Otoritasku! Catatan Kritis Transpuan di 80 Tahun Kemerdekaan Indonesia

Erick Tanjung, Muhammad Yasir

Sabtu, 16 Agustus 2025 | 10:41 WIB
Tubuhku Otoritasku! Catatan Kritis Transpuan di 80 Tahun Kemerdekaan Indonesia
Sekretaris Jenderal Arus Pelangi, Echa Waode. [Foto: Dok pribadi Echa Waode ]

Suara.com - Di tengah gegap gempita 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, kelompok transpuan justru merasakan kemunduran demokrasi. Mereka merasa masih “dijajah” oleh kebijakan diskriminatif dan stigma yang dilanggengkan negara. Tapi mereka tak diam—tetap melawan, menolak bungkam dan bangga atas jati diri.

BENDERA merah putih berkibar gagah di setiap sudut jalan. Tawa anak-anak yang membawa bendera kecil memecah udara pagi. Di lapangan-lapangan, paduan suara berlatih khidmat menyambut upacara kemerdekaan.

Namun, di sebuah ruang yang sunyi, jauh dari hingar bingar perayaan itu, ironi pahit justru terasa begitu pekat. Bagi Echa Waode dan komunitasnya, kemerdekaan hanyalah ilusi. Sebuah kata manis yang terpampang di baliho dan pidato pejabat, tapi hampa dalam kenyataan.

“Sebenarnya kita sedang dibodohi oleh negara. Kita merayakan kemerdekaan, tapi sesungguhnya masih dijajah oleh sistem dan kebijakan yang ada,” ucap Echa Waode dengan suara yang terdengar berat saat berbincang dengan Suara.com beberapa waktu lalu.

Bagi Sekretaris Jenderal Arus Pelangi ini, gegap gempita kemerdekaan adalah sebuah anomali. Di saat negara merayakan kebebasan, ruang gerak kaum transpuan justru kian sempit, dibayangi razia, dan diintai persekusi yang bisa datang kapan saja—bahkan dari aparat yang semestinya melindungi.

Kemerdekaan Semu

Di usia Indonesia yang ke-80, Echa melihat demokrasi justru berjalan mundur bagi kelompoknya. Transfobia tak lagi sekadar komentar kebencian di media sosial, tapi telah menjelma menjadi kekerasan fisik dan kebijakan diskriminatif yang dilegalkan oleh negara.

“Bagaimana kita mau bilang sudah merdeka kalau masih banyak pejabat publik yang transfobia?” tanyanya dengan nada tajam.

Karikatur salah satu adegan Ruang Rias yang dipentaskan Teater Pohon, 2013. [Suara.com/Aldie Syaf Bhuwana]
Karikatur salah satu adegan Ruang Rias yang dipentaskan Teater Pohon, 2013. [Suara.com/Aldie Syaf Bhuwana]

Ia tak asal bicara. Memori kolektif komunitasnya penuh dengan luka. Echa mengingat betul insiden brutal di Kuningan, Jawa Barat, saat seorang petinju dengan bengis menganiaya seorang transpuan yang hanya sedang berjuang menyambung hidup.

baca juga

"Kawan transpuan berjuang mandiri sebagai pekerja seks untuk menyambung hidup saja seringkali dipersekusi. Lalu, bagaimana dia bisa bekerja di sektor formal jika stigma dan diskriminasi ada di mana-mana?" ungkapnya getir.

Transfobia Jadi Kebijakan

Diskriminasi ini, menurut Echa, bukanlah sekadar prasangka liar di masyarakat. Ia telah merasuki ruang-ruang kekuasaan dan dilegitimasi melalui kebijakan resmi.

Contoh paling anyar dan menyakitkan adalah larangan yang dikeluarkan oleh Bupati Gorontalo, yang secara eksplisit melarang keterlibatan transpuan dalam seluruh rangkaian perayaan HUT ke-80 RI.

Bagi Echa, ini bukan lagi soal sentimen pribadi, melainkan bentuk penjajahan modern yang dilakukan oleh negara terhadap warganya sendiri.

“Itu bukti nyata bahwa penjajahan itu masih ada! Tubuh dan ekspresi kami coba diatur dan dibatasi oleh kekuasaan,” tegasnya.

Namun, tekanan hebat itu tak membuat mereka layu. Sebaliknya, ia justru melahirkan perlawanan yang sunyi tapi kokoh. Di Gorontalo, banyak transpuan yang memilih kehilangan pekerjaan dan kesempatan daripada harus menyembunyikan jati diri mereka.

Bagi Echa, ini adalah bentuk perlawanan paling murni; menolak tubuh dan ekspresi mereka diatur dan dibungkam.

“Ini adalah bentuk penolakan terhadap pembungkaman. Mereka tidak lagi mau diatur tentang ketubuhannya, karena setiap orang punya hak bebas berekspresi yang dilindungi oleh Undang-Undang Dasar 1945,” ujarnya.

Di tengah perayaan kemerdekaan yang terasa asing bagi mereka, kelompok transpuan justru sedang merayakan kemerdekaan versi mereka sendiri. Kemerdekaan untuk menjadi diri sendiri, untuk melawan, dan untuk menolak tunduk.

Menutup perbincangan, Echa menitipkan sebuah pesan menohok, sebuah tamparan bagi makna kemerdekaan yang selama ini digaungkan.

“Mari saling menghormati keberagaman. Kalau kita bisa beragam, kenapa harus seragam? Kemerdekaan jangan sekadar seremoni. Tapi harus benar-benar dirasakan setiap hari, oleh siapa pun, tanpa terkecuali!"

_________________________

Artikel ini khusus dibuat Redaksi Suara.com dalam rangka perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

BCA Syariah Gelar Donor Darah Karyawan Sambut HUT ke-80 Republik Indonesia

BCA Syariah Gelar Donor Darah Karyawan Sambut HUT ke-80 Republik Indonesia

Bisnis | Sabtu, 16 Agustus 2025 | 09:44 WIB

Wingstop Rilis Menu Spesial Kemerdekaan: Nusantara Heat Pedasnya Bikin Nagih!

Wingstop Rilis Menu Spesial Kemerdekaan: Nusantara Heat Pedasnya Bikin Nagih!

Lifestyle | Sabtu, 16 Agustus 2025 | 07:00 WIB

Taktik Nova Arianto Sukses! Timnas Indonesia U-17 Bikin Uzbekistan Tak Berkutik

Taktik Nova Arianto Sukses! Timnas Indonesia U-17 Bikin Uzbekistan Tak Berkutik

Bola | Jum'at, 15 Agustus 2025 | 21:45 WIB

Terkini

Semangat Muda: Ketika Tan Malaka Membaca Indonesia dari Pertarungan Kelas

Semangat Muda: Ketika Tan Malaka Membaca Indonesia dari Pertarungan Kelas

Your Say | Selasa, 29 September 2026 | 20:00 WIB

Kevin Diks 'Baper' Nama Shin Tae-yong Menggema di GBK

Kevin Diks 'Baper' Nama Shin Tae-yong Menggema di GBK

Video | Selasa, 29 September 2026 | 20:00 WIB

Jadi Tentara Bayaran Rusia, Warga Natuna Dikabarkan Tewas Kena Serangan Drone

Jadi Tentara Bayaran Rusia, Warga Natuna Dikabarkan Tewas Kena Serangan Drone

Batam | Selasa, 29 September 2026 | 19:56 WIB

Honor PestaPora Rp45 Juta, Saykoji Ungkap Cuma Terima Rp4,5 Juta

Honor PestaPora Rp45 Juta, Saykoji Ungkap Cuma Terima Rp4,5 Juta

Entertainment | Selasa, 29 September 2026 | 19:56 WIB

Ucapan Romantis Leo Rolly ke Istri Usai Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026

Ucapan Romantis Leo Rolly ke Istri Usai Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026

Sport | Selasa, 29 September 2026 | 19:55 WIB

Foto Jimmy Masrin Terpajang di Hunian Mewah Lapas Cibinong, Ini Kata Ombudsman

Foto Jimmy Masrin Terpajang di Hunian Mewah Lapas Cibinong, Ini Kata Ombudsman

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 19:55 WIB

Curah Hujan Tinggi tapi Kekeringan, Ahli UGM Ungkap Masalah Air Jawa Barat

Curah Hujan Tinggi tapi Kekeringan, Ahli UGM Ungkap Masalah Air Jawa Barat

Your Say | Selasa, 29 September 2026 | 19:55 WIB

Eks Wali Kota Sibolga Jadi Tersangka Dugaan Korupsi Pasar Ikan Modern

Eks Wali Kota Sibolga Jadi Tersangka Dugaan Korupsi Pasar Ikan Modern

Sumut | Selasa, 29 September 2026 | 19:54 WIB

Cukai Rokok Hanya Cover 18% Beban Kesehatan, Biaya Berobat Terus Membengkak

Cukai Rokok Hanya Cover 18% Beban Kesehatan, Biaya Berobat Terus Membengkak

News | Selasa, 29 September 2026 | 19:52 WIB

5 Gaya OOTD Kasual ala Park Jinyoung GOT7, Kece untuk Daily Outfit!

5 Gaya OOTD Kasual ala Park Jinyoung GOT7, Kece untuk Daily Outfit!

Your Say | Selasa, 29 September 2026 | 19:50 WIB

×