Kekerasan di Tubuh TNI: Analis Soroti Pelaku Gen Z yang Bawa Mental Tawuran dari Bangku SMA

Wakos Reza Gautama

Sabtu, 16 Agustus 2025 | 13:53 WIB
Kekerasan di Tubuh TNI: Analis Soroti Pelaku Gen Z yang Bawa Mental Tawuran dari Bangku SMA
Analis militer menyoroti kasus kekerasan di tubuh TNI yang memakan korban, salah satunya Prada Lucky Namo dari NTT. [istimewa]

Suara.com - Tragedi memilukan yang menimpa Prada Lucky Chepril Saputra Namo, prajurit TNI AD anggota Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 834 Waka Nga Mere di Kabupaten Nagakeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, yang tewas diduga akibat dianiaya seniornya, kembali membuka kotak pandora tentang kekerasan yang mengakar di institusi militer.

Di tengah sorotan publik yang tajam, analis militer Selamat Ginting memberikan perspektif baru yang menyoroti fenomena generasi dalam lingkaran setan ini.

Menurutnya, para pelaku kekerasan di tubun TNI saat ini banyak berasal dari generasi muda atau Gen Z, yang membawa mentalitas sipil yang belum sepenuhnya tertempa oleh disiplin militer.

Selamat Ginting mengamati adanya pola yang mengkhawatirkan dalam beberapa kasus kekerasan terakhir di tubuh TNI. Ia menunjuk adanya keterkaitan antara generasi pelaku dengan latar belakang mereka sebelum masuk barak.

"Gini saya lihat dalam beberapa kasus ini memang generasi-generasi milenial nih baik korban maupun pelaku. Mungkin juga perlu dipikirkan, dalam beberapa kasus misalnya yang di angkatan laut misalnya itu rata-rata memang pelaku maupun korban gitu ya. Pelaku misalnya itu memang dari generasi-generasi Z," ujar Ginting dikutip dari Youtube Forum Keadilan TV.

Analisis ini membawa kita pada sebuah pertanyaan krusial: mengapa generasi yang tumbuh di era digital ini justru menjadi aktor dalam tradisi kekerasan fisik? Ginting mensinyalir adanya pengaruh dari kultur pop dan kebiasaan di luar militer yang terbawa masuk, salah satunya adalah dunia game.

Adaptasi Singkat dan Pengaruh Kultur Tawuran

Menurut Ginting, proses transisi dari kehidupan sipil ke dunia militer yang keras dan terstruktur kemungkinan tidak berjalan mulus bagi sebagian prajurit muda.

Durasi pendidikan yang relatif singkat dianggap belum cukup untuk mengubah total mentalitas yang sudah terbentuk sejak di bangku sekolah.

baca juga

"Mungkin juga terbiasa dengan apa dunia game yang terkait dengan kekerasan segala macam, tawuran dan mestinya juga dipikirkan dari kalangan sipil masuk ke dunia militer menurut saya juga harus dipikirkan berapa lama sesungguhnya mereka bisa beradaptasi. Ini kan baru," paparnya.

Faktor ini menjadi semakin relevan ketika melihat kasus Prada Lucky Namo, di mana salah satu terduga pelakunya adalah seorang prajurit satu (Pratu) yang notabene belum lama mengabdi.

"Misalnya prajurit satu yang ikut memukuli prada Luki Tamo ini kira-kira baru 5 tahun dia jadi tentara. Sementara pendidikannya tuh tidak terlalu lama, 5 bulan itu kan dari SMA mereka masuk ke dunia militer," ujarnya.

Keterangan ini menyoroti betapa tipisnya jeda waktu bagi seorang remaja lulusan SMA untuk sepenuhnya meninggalkan kebiasaan lama dan mengadopsi nilai-nilai Sapta Marga. Ginting secara blak-blakan menyamakan mentalitas ini dengan kultur tawuran yang jamak ditemui di kalangan pelajar.

"SMA tahu sendiri kan maunya tawuran gitu seperti kita dulu begitu. Berhadapan biasanya kalau kita lihat demo-demo itu yang dihadapi juga adalah polisi yang juga baru lulusan SMA menghadapi mahasiswa yang belum lama tamat SMA. Mentalnya masih mental tawuran. Mental jago," tegasnya.

Pola pikir "jagoan" dan penyelesaian masalah melalui adu fisik inilah yang diduga masih tersisa dan meledak di lingkungan tertutup seperti barak militer.

Solusi Sistemik: Pembinaan Mental dan Sadar HAM

Melihat akar masalah yang begitu dalam, Selamat Ginting menekankan bahwa solusi parsial seperti hukuman bagi pelaku saja tidak akan cukup untuk memutus rantai kekerasan. Perlu ada intervensi sistemik yang menyentuh langsung ke aspek psikologis dan mental para prajurit.

"Karena itu menurut saya pembinaan mental dan juga pembinaan psikologi kepada tentara-tentara ini harus keras gitu. Maka dinas psikologi, Dinas Pembinaan Mental harus juga masuk ke satuan-satuan lapangan termasuk dinas hukum," usulnya.

Lebih dari sekadar pembinaan mental disiplin, Ginting juga mendorong adanya penyuluhan hukum yang masif hingga ke satuan paling bawah.

Tujuannya adalah untuk menanamkan kesadaran bahwa penganiayaan terhadap junior bukanlah sekadar pelanggaran disiplin, melainkan sebuah tindakan kriminal yang melanggar hak asasi manusia (HAM).

"Jadi seperti Direktorat Hukum Angkatan Darat harus banyak memberikan penyuluhan. bahwa ini pelanggaran hak asasi manusia gitu loh," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sosok Nafa Arshana Terduga Istri TNI yang Tuduh Prada Lucky Kelainan Seksual

Sosok Nafa Arshana Terduga Istri TNI yang Tuduh Prada Lucky Kelainan Seksual

Tekno | Rabu, 13 Agustus 2025 | 19:19 WIB

Viral Istri TNI Tuding Prada Lucky 'Menyimpang', Ayah Korban Murka: Ini Fitnah Keji

Viral Istri TNI Tuding Prada Lucky 'Menyimpang', Ayah Korban Murka: Ini Fitnah Keji

News | Rabu, 13 Agustus 2025 | 13:49 WIB

Komisi I DPR Desak Usut Motif di Balik Tewasnya Prada Lucky: Coba Dikejar!

Komisi I DPR Desak Usut Motif di Balik Tewasnya Prada Lucky: Coba Dikejar!

News | Selasa, 12 Agustus 2025 | 18:52 WIB

Kronologi Akun Diduga Istri TNI Sebut Prada Lucky 'Kelainan Seksual', Mendadak Hilang

Kronologi Akun Diduga Istri TNI Sebut Prada Lucky 'Kelainan Seksual', Mendadak Hilang

Tekno | Selasa, 12 Agustus 2025 | 16:22 WIB

Tragedi Kematian Prada Lucky Libatkan Perwira Muda Lulusan Akmil, TB Hasanuddin Ingatkan Tugas Ini

Tragedi Kematian Prada Lucky Libatkan Perwira Muda Lulusan Akmil, TB Hasanuddin Ingatkan Tugas Ini

News | Selasa, 12 Agustus 2025 | 15:38 WIB

Terkini

Tak Lagi 'Macan Ompong', RUU HAM Beri Komnas HAM Kewenangan Penyidikan

Tak Lagi 'Macan Ompong', RUU HAM Beri Komnas HAM Kewenangan Penyidikan

News | Senin, 29 Juni 2026 | 21:35 WIB

Menuju Kota Global, Jakarta Kejar Target Bebas Buang Air Sembarangan

Menuju Kota Global, Jakarta Kejar Target Bebas Buang Air Sembarangan

News | Senin, 29 Juni 2026 | 20:44 WIB

Jangan Terkecoh! Pendakian Gunung Merapi Masih Ditutup, Abaikan Ajakan di Medsos

Jangan Terkecoh! Pendakian Gunung Merapi Masih Ditutup, Abaikan Ajakan di Medsos

News | Senin, 29 Juni 2026 | 20:41 WIB

Jadi Otak Penyekapan, Bos Percetakan di Senen Perintahkan Anak Buah Pasung Kaki Korban

Jadi Otak Penyekapan, Bos Percetakan di Senen Perintahkan Anak Buah Pasung Kaki Korban

News | Senin, 29 Juni 2026 | 20:22 WIB

Bertemu Dony Oskaria, KPK Minta Pejabat BUMN Bandel Tak Lapor LHKPN Disanksi

Bertemu Dony Oskaria, KPK Minta Pejabat BUMN Bandel Tak Lapor LHKPN Disanksi

News | Senin, 29 Juni 2026 | 19:43 WIB

Gelar Budaya Jokowi Disorot, Dinilai Jadi 'Senjata' Politik Incar Masyarakat Paternalistik

Gelar Budaya Jokowi Disorot, Dinilai Jadi 'Senjata' Politik Incar Masyarakat Paternalistik

News | Senin, 29 Juni 2026 | 19:36 WIB

Satu Tahun Menuju 5 Abad, Apakah Jakarta Sudah Layak Kota Global?

Satu Tahun Menuju 5 Abad, Apakah Jakarta Sudah Layak Kota Global?

News | Senin, 29 Juni 2026 | 19:24 WIB

Sekjen Golkar: Pasar Tak akan Goyang Hanya Karena Gaya Pidato Prabowo

Sekjen Golkar: Pasar Tak akan Goyang Hanya Karena Gaya Pidato Prabowo

News | Senin, 29 Juni 2026 | 19:10 WIB

Rp1,1 Triliun Anggaran Pendidikan Jakarta Tak Terserap, DPRD: Harusnya Bisa untuk Sekolah Gratis

Rp1,1 Triliun Anggaran Pendidikan Jakarta Tak Terserap, DPRD: Harusnya Bisa untuk Sekolah Gratis

News | Senin, 29 Juni 2026 | 19:04 WIB

Kisah Yunita Bangun Dear June Official, Dari Satu Penjahit Hingga Tembus Pasar Singapura

Kisah Yunita Bangun Dear June Official, Dari Satu Penjahit Hingga Tembus Pasar Singapura

News | Senin, 29 Juni 2026 | 19:00 WIB

×