Peneliti: Pemanasan Arktik dan Antartika Bisa Picu Gelombang Penyakit di Dunia

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 13 November 2025 | 15:37 WIB
Peneliti: Pemanasan Arktik dan Antartika Bisa Picu Gelombang Penyakit di Dunia
Ilustrasi global warming di Arktik, Kutub Utara. [Shutterstock]
baca 10 detik
    • Pemanasan di wilayah kutub mempercepat pencairan es yang memicu efek berantai terhadap kesehatan manusia di seluruh dunia.
    • Studi internasional menemukan bahwa model iklim saat ini belum mampu menangkap dampak kesehatan kompleks dari perubahan di Arktik dan Antartika.
    • Para peneliti menegaskan bahwa krisis iklim di kutub telah menjadi darurat kesehatan global yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

Suara.com - Perubahan iklim yang kian mempercepat pencairan es di wilayah kutub kini tak hanya mengancam ekosistem Bumi, tetapi juga kesehatan manusia di seluruh dunia.

Temuan ini berasal dari studi terbaru yang mengungkapkan bahwa dampak dari pemanasan Arktik dan Antartika dapat memicu krisis kesehatan global yang selama ini belum sepenuhnya disadari oleh para pemimpin.

Penelitian internasional yang dipimpin oleh Profesor Gail Whiteman dari Sekolah Bisnis Universitas Exeter, Inggris, menyusun sebuah kerangka ilmiah baru untuk memahami bagaimana perubahan fisik di dua wilayah kutub Bumi dapat memperkuat risiko kesehatan global.

Arktik Rusia. [Handout/RUSSIAN ARCTIC NATIONAL PARK/AFP]
Arktik Rusia. [Handout/RUSSIAN ARCTIC NATIONAL PARK/AFP]

Studi ini, yang dipublikasikan dalam jurnal Ambio, melibatkan tinjauan mendalam terhadap berbagai literatur ilmiah di bidang iklim, kesehatan masyarakat, hingga biologi lingkungan.

Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar model iklim yang digunakan saat ini masih gagal menangkap dampak kesehatan secara menyeluruh, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dari penyakit kronis, tekanan psikologis, hingga komplikasi kehamilan, para peneliti menemukan bahwa pemanasan di kutub memiliki keterkaitan yang jauh lebih kompleks dengan kondisi manusia di berbagai belahan dunia.

“Perubahan di kutub bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan kita. Mencairnya lapisan es, naiknya permukaan laut, dan berubahnya pola cuaca akan menimbulkan efek berantai yang memengaruhi ketahanan pangan, penyebaran penyakit, dan kemampuan sistem kesehatan untuk bertahan. Ini bukan sekadar masalah lingkungan, tapi darurat kesehatan global,”  ujar Netra Naik, peneliti di lembaga Arctic Basecamp sekaligus penulis utama studi ini.

Para ilmuwan menjelaskan jika pemanasan di wilayah kutub yang terjadi lebih cepat daripada rata-rata global sudah pasti akan menciptakan “rantai kejadian” yang saling memperkuat.

Ketika suhu meningkat, pola arus laut dan aliran jet atmosfer terganggu, yang kemudian memperburuk cuaca ekstrem di lintang menengah dan tropis. Kondisi ini meningkatkan risiko kematian akibat gelombang panas, cedera, dan tekanan mental.

baca juga

Selain itu, Arktik yang semakin sering mencair berpotensi memicu lebih banyak episode El Niño—fenomena cuaca yang menyebabkan peningkatan suhu ekstrem di kawasan tropis.

Dampaknya terhadap kesehatan manusia begitu nyata, risiko penyakit jantung, gangguan ginjal, dan dehidrasi meningkat tajam di negara-negara panas.

Kenaikan permukaan laut juga menimbulkan ancaman tersembunyi. Dimana air laut yang menyusup ke dalam tanah dapat membuat air minum menjadi asin dan tercemar. Kondisi ini, menurut penelitian, bisa meningkatkan risiko preeklamsia pada ibu hamil, kematian bayi, serta munculnya berbagai jenis kanker.

Perubahan iklim yang dipicu pemanasan kutub juga mengganggu pola curah hujan global, mempengaruhi hasil pertanian, dan memperburuk krisis gizi di banyak negara. Kekurangan gizi dapat memperlemah daya tahan tubuh, meningkatkan risiko infeksi, serta memperparah kondisi kronis seperti gagal ginjal dan penyakit kardiovaskular.

Di saat yang sama, suhu hangat memperluas jangkauan penyebaran nyamuk dan hewan pembawa penyakit. Penyakit seperti demam berdarah, vibriosis, dan penyakit Lyme kini mulai ditemukan di wilayah yang sebelumnya terlalu dingin bagi vektor tersebut untuk bertahan hidup.

Banjir yang makin sering terjadi akibat pencairan es mempercepat penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air seperti kolera dan tifus, serta memperparah penyakit pernapasan di daerah padat penduduk.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

COP30 Brasil: Indonesia Dorong 7 Agenda Kunci, Fokus pada Dana dan Transisi Energi

COP30 Brasil: Indonesia Dorong 7 Agenda Kunci, Fokus pada Dana dan Transisi Energi

Bisnis | Rabu, 12 November 2025 | 22:39 WIB

Lonjakan Kasus Flu di Perkotaan, Benarkah Dipicu Perubahan Iklim?

Lonjakan Kasus Flu di Perkotaan, Benarkah Dipicu Perubahan Iklim?

Lifestyle | Rabu, 12 November 2025 | 15:33 WIB

Greenpeace Ingatkan Pemerintah: COP30 Jangan Jadi Panggung Retorika Iklim

Greenpeace Ingatkan Pemerintah: COP30 Jangan Jadi Panggung Retorika Iklim

News | Rabu, 12 November 2025 | 14:29 WIB

Terkini

Cerita di Balik Pertemuan Sekjen Parpol Koalisi, Dari Refleksi Kemerdekaan Hingga Obrolan Politik

Cerita di Balik Pertemuan Sekjen Parpol Koalisi, Dari Refleksi Kemerdekaan Hingga Obrolan Politik

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:48 WIB

Prabowo: Prabowonomics Sebenarnya Marhaenisme, PDIP Sulit Tak Mendukung

Prabowo: Prabowonomics Sebenarnya Marhaenisme, PDIP Sulit Tak Mendukung

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:45 WIB

Anggaran MBG di RABPN 2027 Sejumlah Rp240 Triliun

Anggaran MBG di RABPN 2027 Sejumlah Rp240 Triliun

Bisnis | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:44 WIB

Target 150 Ribu Siswa Sekolah Rakyat Disorot, Dinilai Abaikan Akar Ketimpangan

Target 150 Ribu Siswa Sekolah Rakyat Disorot, Dinilai Abaikan Akar Ketimpangan

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:41 WIB

PT KIMA Siap Eksekusi Lahan Sengketa Usai Menang di Mahkamah Agung

PT KIMA Siap Eksekusi Lahan Sengketa Usai Menang di Mahkamah Agung

Sulsel | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:38 WIB

Kisah di Balik Video Viral Kakek Roy Kebingungan di Halte Cawang Transjakarta

Kisah di Balik Video Viral Kakek Roy Kebingungan di Halte Cawang Transjakarta

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:37 WIB

4 Shio Beruntung Besok 15 Agustus 2026, Akhir Pekan Dipenuhi Energi Positif

4 Shio Beruntung Besok 15 Agustus 2026, Akhir Pekan Dipenuhi Energi Positif

Lifestyle | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:35 WIB

Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Bakal Ditinggal Orang Dekat: Saya Mencintai Dia

Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Bakal Ditinggal Orang Dekat: Saya Mencintai Dia

Bola | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:35 WIB

Bansos, PKH, Hingga Subsidi KUR Masih Ada di 2027, Anggarannya Rp549,9 T

Bansos, PKH, Hingga Subsidi KUR Masih Ada di 2027, Anggarannya Rp549,9 T

Bisnis | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:33 WIB

Prabowo Ingin Bahasa Asing Sejak SD, DPR: Jangan Semua Wajib, Biarkan Siswa Memilih

Prabowo Ingin Bahasa Asing Sejak SD, DPR: Jangan Semua Wajib, Biarkan Siswa Memilih

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 19:33 WIB

×