Dua Kunci Syahganda Nainggolan Agar Rakyat Kaya dalam 5 Tahun: Upah dan Redistribusi Tanah

Dwi Bowo Raharjo

Rabu, 31 Desember 2025 | 17:21 WIB
Dua Kunci Syahganda Nainggolan Agar Rakyat Kaya dalam 5 Tahun: Upah dan Redistribusi Tanah
Analis politik sekaligus Ketua Dewan Direktur Great Institute, Syahganda Nainggolan di Podcast Keadilan TV. [YouTube]
baca 10 detik
  • Syahganda juga menyoroti ketimpangan penguasaan lahan di Indonesia.
  • Syahganda menekankan bahwa kegagalan kementerian mencapai target ekonomis seperti pertumbuhan di atas 5 persen.
  • Prabowo tidak boleh lagi tersandera oleh kepentingan koalisi partai politik.

Suara.com - Memasuki tahun kedua pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Ketua Dewan Direksi GREAT Institute Syahganda Nainggolan, memberikan catatan kritis dalam "Outlook Indonesia 2026".

Syahganda menegaskan bahwa perombakan kabinet atau reshuffle menjadi syarat mutlak jika Presiden ingin mewujudkan visi besar transformasi Indonesia.

Dalam dialog di podcast bersama Bambang Widjojanto, ia menyoroti adanya jarak yang lebar antara ideologi besar Presiden dengan eksekusi di level kementerian yang dinilai masih terjebak pada pola lama.

Syahganda mengawali diskusinya dengan menyoroti minimnya dialog substantif antara Presiden dengan para pemikir dan rakyat selama setahun terakhir. Hal ini dinilai memicu banyaknya kebijakan yang ambigu dan kontradiktif.

"Ada slip of tongue yang berkali-kali. Misalnya, bencana alam diakui muncul karena pembukaan lahan perkebunan, namun beberapa hari kemudian muncul kebijakan sawitisasi besar-besaran. Ada ambiguitas dan kontradiksi yang terus-menerus," ujar Syahganda dalam kanal YouTube Bambang Widjojanto, Rabu (31/12/2025).

Menanggapi hal tersebut, Syahganda juga menyarankan Prabowo untuk mencontoh langkah reformasi Pemimpin tertinggi Republik Rakyat Tiongkok, Deng Xiaoping di Cina pada tahun 1978.

Dirinya menjelaskan bagaimana Deng berhasil menaikkan produksi tani sebesar 43% hanya dalam waktu enam tahun melalui perubahan tata kelola.

"Deng Xiaoping mengubah communal-based production menjadi household-based. Ada tanggung jawab keluarga dan unsur kompetisi di sana," kata dia.

"Prabowo punya ide Koperasi Desa Merah Putih di 82.000 desa, tapi faktanya setahun ini yang dibangun baru gerainya, bukan sistem produksinya," lanjutnya.

baca juga

Lebih lanjut, ia menyebut jika Presiden serius dengan paradigma sosialis-kerakyatan, maka Prabowo harus berani menindak pihak-pihak di dalam birokrasi yang menghambat kemajuan ekonomi komunal.

"Presiden harus bilang 'Ini perintah saya, bangun ekonomi komunal. Lu ngelawan, gua tangkap!'," kata dia.

Selain itu Syahganda juga menyoroti ketimpangan penguasaan lahan di Indonesia.

Ia mendesak adanya redistribusi tanah produktif yang saat ini 60 persennya dikuasai oleh segelintir konglomerat.

"Jangan sekadar menertibkan yang nyolong batas, tapi yang sudah punya lahan berlebihan harus diproporsionalkan. Kuncinya dua: redistribusi ekonomi melalui upah dan redistribusi tanah untuk rakyat. Jika ini dilakukan, lima tahun lagi kita semua kaya," jelasnya.

Syahganda menekankan bahwa kegagalan kementerian mencapai target ekonomis seperti pertumbuhan di atas 5 persen disebabkan oleh masalah transparansi dan akuntabilitas.

Menurutnya, Prabowo tidak boleh lagi tersandera oleh kepentingan koalisi partai politik dalam memilih bawahannya.

"Deng Xiaoping menyeleksi orang bukan hanya berdasarkan kompetensi, tapi ideologi. Di Indonesia, Presiden punya mandat rakyat, tidak perlu tunduk pada partai-partai itu jika mereka menghambat kebenaran," kata Syahganda.

Ia mendorong Presiden untuk segera melakukan reshuffle untuk mengisi pos-pos strategis, terutama Kementerian Perindustrian dan Kementerian Sumber Daya Alam.

Di akhir diskusinya, Syahganda menekankan bahwa negara tidak boleh merasa nyaman dengan status quo. Pertumbuhan ekonomi harus berlandaskan keadilan, bukan sekadar angka di atas kertas.

"Prabowo harus didampingi orang-orang yang punya kompetensi dan ideologi untuk membangun bangsa ini jauh lebih dahsyat. Reshuffle harus segera dilakukan untuk memperpendek jarak psikologis antara kebijakan dengan kemaslahatan rakyat," tutup Syahganda.

Reporter: Tsabita Aulia

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Refleksi Akhir Tahun: IHSG Meroket 22% Sepanjang 2025, Pasar Menanti Prabowo di Pembukaan BEI 2026

Refleksi Akhir Tahun: IHSG Meroket 22% Sepanjang 2025, Pasar Menanti Prabowo di Pembukaan BEI 2026

Bisnis | Rabu, 31 Desember 2025 | 16:44 WIB

Menteri Berulah, Presiden Menanggung Beban? Syahganda Desak Prabowo Gunakan Strategi Sun Tzu

Menteri Berulah, Presiden Menanggung Beban? Syahganda Desak Prabowo Gunakan Strategi Sun Tzu

News | Rabu, 31 Desember 2025 | 12:30 WIB

Fahri Hamzah Sebut Pilkada Melalui DPRD Masih Dibahas di Koalisi

Fahri Hamzah Sebut Pilkada Melalui DPRD Masih Dibahas di Koalisi

News | Selasa, 30 Desember 2025 | 22:05 WIB

Refleksi 2025: Akademisi UII Nilai Pemerintahan Prabowo-Gibran Sarat Masalah HAM dan Militerisasi

Refleksi 2025: Akademisi UII Nilai Pemerintahan Prabowo-Gibran Sarat Masalah HAM dan Militerisasi

News | Selasa, 30 Desember 2025 | 18:23 WIB

Terkini

Dugaan Keracunan MBG, Akademisi: Jangan Berhenti pada Permintaan Maaf

Dugaan Keracunan MBG, Akademisi: Jangan Berhenti pada Permintaan Maaf

News | Rabu, 30 September 2026 | 10:39 WIB

5 Sepatu 910 Nineten untuk Trail Running Terpopuler, Lengkap Harga dan Spek

5 Sepatu 910 Nineten untuk Trail Running Terpopuler, Lengkap Harga dan Spek

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 10:36 WIB

Kenapa Pengering Mesin Cuci Tak Berputar dan Cuma Berdengung? Begini Solusinya

Kenapa Pengering Mesin Cuci Tak Berputar dan Cuma Berdengung? Begini Solusinya

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 10:35 WIB

Erick Thohir Konfirmasi Gianni Infantino Hingga Presiden Prabowo Hadiri Final FIFA ASEAN Cup 2026

Erick Thohir Konfirmasi Gianni Infantino Hingga Presiden Prabowo Hadiri Final FIFA ASEAN Cup 2026

Bola | Rabu, 30 September 2026 | 10:30 WIB

Pantauan Terkini Lapas Cibinong Jelang Kedatangan DPR RI Pascatemuan Fasilitas Mewah

Pantauan Terkini Lapas Cibinong Jelang Kedatangan DPR RI Pascatemuan Fasilitas Mewah

Bogor | Rabu, 30 September 2026 | 10:29 WIB

KPK Geledah 3 Rumah di Madiun Terkait Pengembangan Kasus TPPU

KPK Geledah 3 Rumah di Madiun Terkait Pengembangan Kasus TPPU

News | Rabu, 30 September 2026 | 10:23 WIB

Chandra Asri Group Gelar CHASE Volleyball Tournament 2026, Hadirkan Puluhan Tim dan UMKM Lokal

Chandra Asri Group Gelar CHASE Volleyball Tournament 2026, Hadirkan Puluhan Tim dan UMKM Lokal

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 10:18 WIB

Kabel Semrawut di Kuningan Barat Bikin Warga Resah, Dinas Bina Marga Janji Beres Oktober

Kabel Semrawut di Kuningan Barat Bikin Warga Resah, Dinas Bina Marga Janji Beres Oktober

News | Rabu, 30 September 2026 | 10:16 WIB

Bocah 8 Tahun Tendang Anggota PKI Solo, Heri Isranto Kenang Suasana Mencekam 1965

Bocah 8 Tahun Tendang Anggota PKI Solo, Heri Isranto Kenang Suasana Mencekam 1965

Jawa Tengah | Rabu, 30 September 2026 | 10:15 WIB

Ketika Tujuh Nyawa Mengubah Arah Indonesia: 5 Fakta Tragedi G30S

Ketika Tujuh Nyawa Mengubah Arah Indonesia: 5 Fakta Tragedi G30S

Jatim | Rabu, 30 September 2026 | 10:11 WIB

×