Akademisi Beri Peringatan Keras: Indonesia Belum Siap E-Voting, Ancaman Kejahatan Siber Mengintai!

Selasa, 03 Februari 2026 | 14:59 WIB
Akademisi Beri Peringatan Keras: Indonesia Belum Siap E-Voting, Ancaman Kejahatan Siber Mengintai!
Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi II DPR RI yang membahas evaluasi penyelenggaraan Pemilu di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (3/2/2026). (Suara.com/Bagaskara Isdiansyah)
Baca 10 detik
  • Akademisi Universitas Brawijaya memperingatkan ketidaksiapan Indonesia menerapkan e-voting karena ancaman kejahatan siber.
  • George Towar menyampaikan hal ini dalam RDPU Komisi II DPR RI pada Selasa (3/2/2026) di Senayan, Jakarta.
  • Rendahnya kepercayaan publik dan tren negara maju kembali ke metode manual menjadi isu utama penolakan adopsi e-voting.

Suara.com - Rencana transformasi digital dalam sistem pemilihan umum (Pemilu) melalui penerapan e-voting mendapat peringatan keras dari kalangan akademisi.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Brawijaya, George Towar Ikbal Tawakkal, menilai Indonesia belum siap mengadopsi sistem tersebut karena besarnya ancaman kejahatan siber.

Hal itu disampaikan George dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi II DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Ia menekankan bahwa risiko peretasan dapat datang dari berbagai pihak yang berpotensi mengganggu stabilitas politik.

"Saya masih melihat kita belum siap, karena rawan untuk di hack, keamanan siber itu ngeri ya, kejahatan siber itu. Entah dari lawan politik atau dari lawan iseng, kan enggak tahu," ujarnya di hadapan pimpinan dan anggota Komisi II DPR RI.

Selain kerentanan infrastruktur keamanan, George juga menyoroti persoalan fundamental lain, yakni rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap hasil pemungutan suara elektronik.

Ia merujuk pada studi kasus di sejumlah wilayah yang menunjukkan kegagalan instrumen digital dalam meyakinkan pemilih.

"Isu kepercayaan publik ini penelitian Riera & Brown di Amerika Latin itu memang yang parah orang nggak percaya dengan hasil e voting, kemudian kesiapan instrumen digital juga tidak siap," katanya.

Lebih lanjut, ia memaparkan tren global di mana negara-negara maju yang sempat mengadopsi e-voting justru memilih kembali ke metode manual.

Baca Juga: Di RDPU Komisi II DPR, Akademisi UI Usul Bawaslu Dibubarkan dan Cabut Wewenang Sengketa MK

Negara seperti Jerman dan Belanda disebut menjadi contoh bagaimana persoalan legitimasi hasil pemilu menjadi alasan utama penghentian sistem digital tersebut.

"Negara-negara maju sudah ndak mau memakai e voting, pernah tetapi nggak jadi, berhenti mereka. Karena isu, masalah isu kepercayaannya diragukan terus," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Ekstrovert, Introvert, Ambivert, atau Otrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI