Kisah Siswi SMK di Garut: Rawat Nenek Lumpuh, Terancam Putus Sekolah karena Dianggap 'Warga Mampu'

Dwi Bowo Raharjo

Rabu, 11 Februari 2026 | 11:17 WIB
Kisah Siswi SMK di Garut: Rawat Nenek Lumpuh, Terancam Putus Sekolah karena Dianggap 'Warga Mampu'
Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Garut Yudha Puja Turnawan (kanan) menemui masyarakat miskin di Kampung Sukatani, Desa Sirnajaya, Kecamatan Tarogong Kaler Garut, Jawa Barat beberapa waktu lalu. ANTARA/HO-DPRD Garut
baca 10 detik
  • Anggota DPRD Garut, Yudha Puja Turnawan, menemukan warga miskin tidak menerima bantuan karena anomali data DTSEN.
  • Siswa SMK di Garut terancam putus sekolah karena terdaftar pada Desil 6-10, menghalangi bantuan KIP.
  • DPRD Garut mendorong Pemkab dan Kemensos meninjau ulang data kemiskinan untuk penyaluran bantuan yang tepat.

Suara.com - Potret kemiskinan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, masih menyisakan cerita pilu. Di tengah gencarnya program pemerintah, ternyata masih ada warga yang hidup di bawah garis kemiskinan namun "terlupakan" oleh sistem.

Fenomena ini memicu keprihatinan Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Garut, Yudha Puja Turnawan. Ia menemukan banyak warga yang secara nyata membutuhkan bantuan, justru tidak terdata sebagai penerima manfaat karena anomali data kemiskinan.

"Masih ada masyarakat kategori miskin yang tidak mendapatkan bantuan pemerintah, tentunya ini yang akan terus kami perjuangkan," kata Yudha di Garut, Selasa (10/2/2025).

Berdasarkan temuan di lapangan, Yudha menyoroti ketidaksinkronan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dengan kondisi riil warga.

Banyak keluarga miskin yang justru masuk dalam kategori Desil 6-10 (kelompok mampu), sehingga akses mereka terhadap bantuan seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan bansos lainnya tertutup rapat.

Salah satu kisah memilukan datang dari seorang siswa SMK Qurrota Ayun di Kampung Sukatani, Desa Sirnajaya. Di saat harus berjuang menyelesaikan pendidikan di jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura, ia terancam putus sekolah karena tunggakan biaya.

"Menunggak uang bangunan sekolah di SMK Qurrota Ayun, juga belum bayar biaya untuk praktik kerja lapangan," ungkap Yudha.

Beban hidup siswi tersebut kian berat. Selain harus sekolah, ia menjadi tulang punggung bagi neneknya yang sudah lima tahun menderita kelumpuhan. Namun, karena status datanya berada di Desil 6-10, bantuan pemerintah tak kunjung datang.

"Karena yang bersangkutan masuk Desil 6-10 dalam DTSEN sehingga tidak dapat bantuan Kartu Indonesia Pintar, padahal anak itu sangat membutuhkannya," cetusnya.

baca juga

Perjuangan Nenek Entit Merawat Empat Cucu

Kisah serupa ditemukan di Kampung Mekarsari, Desa Haurpanggung. Seorang lansia bernama Entit Kartini harus berjuang di rumah kontrakan sembari merawat tiga cucunya yang yatim. Tak hanya itu, ia juga mengasuh seorang anak piatu yang ibunya meninggal dunia akibat kecelakaan kerja di Sumbawa, NTB.

Ironisnya, meski memikul beban hidup yang begitu berat, Emak Entit juga tercatat dalam kategori warga mampu (Desil 6-10) di sistem pemerintah.

"Namun ironisnya Emak Entit Kartini dikategorikan Desil 6-10, sehingga tak mendapatkan komponen bansos pemerintah pusat, harapan saya Pemkab Garut harus membantu mereka," tegas Yudha.

Mendorong Langkah Nyata Pemerintah

Melihat kondisi ini, Yudha Puja Turnawan memastikan tidak akan tinggal diam. Ia terus bergerak menyisir kantong-kantong kemiskinan untuk memastikan warga yang selama ini terabaikan bisa segera mendapatkan perhatian.

Ia telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Garut untuk mengintervensi bantuan melalui program Rp2 juta per kepala keluarga, dana CSR, Baznas, hingga menggerakkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait.

Tak hanya di tingkat daerah, Yudha juga melakukan langkah agresif dengan melaporkan langsung temuan ini ke Kementerian Sosial (Kemensos) RI agar ada pembenahan data secara nasional.

"Harapan saya juga Kemensos bisa memberikan bantuan kepada mereka," pungkasnya. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pemerintah Salurkan Bantuan Beras dan Minyak Selama Ramadan, 35 Juta Keluarga Jadi Sasaran

Pemerintah Salurkan Bantuan Beras dan Minyak Selama Ramadan, 35 Juta Keluarga Jadi Sasaran

News | Selasa, 10 Februari 2026 | 21:47 WIB

Kemensos Fokus Salurkan Stimulus Bansos bagi Masyarakat Rentan Menyambut Ramadan

Kemensos Fokus Salurkan Stimulus Bansos bagi Masyarakat Rentan Menyambut Ramadan

News | Selasa, 10 Februari 2026 | 19:04 WIB

Wamenkeu Juda Agung Optimistis Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen di Kuartal I 2026

Wamenkeu Juda Agung Optimistis Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen di Kuartal I 2026

Bisnis | Selasa, 10 Februari 2026 | 18:01 WIB

Kapan Pencairan Bansos PKH dan BPNT Tahap I 2026, Ini Ketentuannya

Kapan Pencairan Bansos PKH dan BPNT Tahap I 2026, Ini Ketentuannya

Bisnis | Selasa, 10 Februari 2026 | 11:32 WIB

Terkini

Karhutla Sumsel Mencapai 1.926 Hektare, Ancaman Besarnya Justru Setelah Api Padam

Karhutla Sumsel Mencapai 1.926 Hektare, Ancaman Besarnya Justru Setelah Api Padam

Sumsel | Selasa, 11 Agustus 2026 | 23:56 WIB

Karhutla Sumsel Tembus 664,97 Hektare, 1.077 Kejadian Tercatat hingga Agustus

Karhutla Sumsel Tembus 664,97 Hektare, 1.077 Kejadian Tercatat hingga Agustus

Sumsel | Selasa, 11 Agustus 2026 | 23:56 WIB

Bank Sumsel Babel dan Kodam II/Sriwijaya Perkuat Akses Layanan Keuangan Prajurit

Bank Sumsel Babel dan Kodam II/Sriwijaya Perkuat Akses Layanan Keuangan Prajurit

Sumsel | Selasa, 11 Agustus 2026 | 23:53 WIB

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Beberkan Alasan Geser Konser GBN dari Kota Tua ke Kabupaten Bogor

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Beberkan Alasan Geser Konser GBN dari Kota Tua ke Kabupaten Bogor

Bogor | Selasa, 11 Agustus 2026 | 23:37 WIB

Polrestabes Bandung: Sopir Truk Jadi Tersangka Tabrak Lari yang Tewaskan Polisi

Polrestabes Bandung: Sopir Truk Jadi Tersangka Tabrak Lari yang Tewaskan Polisi

Jabar | Selasa, 11 Agustus 2026 | 23:13 WIB

Cara Dapat Diskon Tiket Gaia Music Festival 2026 Pakai BRImo

Cara Dapat Diskon Tiket Gaia Music Festival 2026 Pakai BRImo

Bri | Selasa, 11 Agustus 2026 | 23:03 WIB

Beli Produk Nespresso Pakai BRI Bisa Hemat Rp750 Ribu

Beli Produk Nespresso Pakai BRI Bisa Hemat Rp750 Ribu

Bri | Selasa, 11 Agustus 2026 | 22:35 WIB

InJourney & Garuda Indonesia Kolaborasi: Gratiskan 170.845 Tiket Domestik Bagi Wisatawan Mancanegara

InJourney & Garuda Indonesia Kolaborasi: Gratiskan 170.845 Tiket Domestik Bagi Wisatawan Mancanegara

Bisnis | Selasa, 11 Agustus 2026 | 22:27 WIB

InJourney & Garuda Indonesia Perkuat Konektivitas dan Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia

InJourney & Garuda Indonesia Perkuat Konektivitas dan Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia

Bisnis | Selasa, 11 Agustus 2026 | 22:21 WIB

Kasus PETI Kuansing, Polisi Sita Ratusan Gram Perhiasan di Toko Emas Kampar

Kasus PETI Kuansing, Polisi Sita Ratusan Gram Perhiasan di Toko Emas Kampar

Riau | Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:47 WIB

×