- BMKG memonitor bibit siklon tropis 90S di Samudera Hindia selatan Jawa Tengah yang berpotensi menjadi badai.
- Bibit siklon 90S bergerak ke timur menuju selatan NTB, memiliki tekanan 998 hPa dan angin 35 knot.
- Kombinasi dua bibit siklon dan gelombang atmosfer meningkatkan potensi cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi.
Suara.com - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan serius mengenai kemunculan bibit siklon tropis 90S yang saat ini terpantau berada di perairan Samudera Hindia, tepatnya di sebelah selatan Jawa Tengah.
Berdasarkan analisis dinamika atmosfer terbaru, sistem ini menunjukkan peningkatan intensitas yang signifikan dan memiliki peluang sangat tinggi untuk berkembang menjadi badai tropis dalam waktu dekat.
Fenomena ini diprediksi akan membawa dampak langsung maupun tidak langsung terhadap kondisi cuaca di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan.
Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi, Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Ari Wibianto, memberikan konfirmasi mengenai perkembangan sistem cuaca ini dari Mataram, Nusa Tenggara Barat.
"Bibit siklon tropis 90S berpeluang tinggi untuk menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan," kata Ari Wibianto, sebagaimana dilansir Antara, Rabu (4/3/2026).
Laporan teknis dari Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta menunjukkan bahwa bibit siklon tropis 90S saat ini memiliki tekanan udara di pusatnya sebesar 998 hectopascal (hPa).
Selain tekanan udara yang rendah, sistem ini juga mencatatkan kecepatan angin maksimum yang telah mencapai 35 knot.
Kekuatan angin ini menjadi indikator kuat bahwa sistem tersebut sedang mengalami proses penguatan yang intensif di atas permukaan laut yang hangat di Samudera Hindia.
Pergerakan bibit siklon 90S terpantau terus bergeser ke arah timur. Berdasarkan pemodelan cuaca, sistem ini diprediksi akan bergerak mendekati wilayah perairan selatan Nusa Tenggara Barat (NTB) pada periode Kamis malam hingga Jumat dini hari.
Meskipun arah pergerakannya menuju timur, pengaruhnya terhadap pola angin dan distribusi awan hujan dapat mencakup area yang lebih luas di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa hingga Kepulauan Nusa Tenggara.
Meskipun terdapat ancaman dari bibit siklon tersebut, kondisi cuaca di wilayah NTB saat ini dilaporkan masih relatif kondusif.
Berdasarkan pengamatan visual dan instrumen, langit di wilayah tersebut terpantau cerah hingga berawan. Hal ini terjadi meskipun terdapat dua bibit siklon tropis sekaligus yang sedang aktif di Samudera Hindia, yakni bibit siklon 90S dan bibit siklon 93S.
Perbedaan kondisi cuaca yang masih tenang di NTB saat ini dijelaskan oleh posisi geografis kedua bibit siklon tersebut. Bibit siklon 90S masih berada di selatan Jawa Tengah, sementara bibit siklon 93S berada di dekat daratan sebelah barat laut Australia.
"Jika dilihat dari kelembapan lapisan atas belum terlalu basah. Jadi, NTB saat ini masih cerah hingga berawan," ujar Ari.
Kondisi ini diprediksi akan berubah seiring dengan semakin mendekatnya pusat tekanan rendah tersebut ke wilayah perairan selatan NTB.
BMKG sebelumnya telah memprakirakan bahwa rangkaian cuaca ekstrem akan melanda wilayah NTB dan sekitarnya pada periode 3-8 Maret 2026.
Situasi ini dipicu oleh keberadaan dua bibit siklon tropis secara bersamaan, yaitu bibit siklon 90S di selatan Pulau Jawa dan bibit siklon 93S di Samudera Hindia sebelah barat laut Australia.
Munculnya dua sistem badai tropis ini secara simultan menciptakan fenomena penarikan massa udara yang masif di wilayah sekitarnya.
Kehadiran kedua bibit badai tropis tersebut berkontribusi besar terhadap peningkatan suplai massa udara basah di atmosfer Indonesia.
Selain itu, kondisi ini memicu penguatan pertumbuhan awan hujan atau awan konvektif yang sangat intens.
Selain faktor bibit siklon, terdapat beberapa fenomena gelombang atmosfer yang aktif secara bersamaan yang memperparah kondisi cuaca.
Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Low Frequency, dan gelombang Kelvin terpantau sedang aktif di wilayah Indonesia.
Kombinasi antara bibit siklon dan gelombang atmosfer ini memperkuat proses konvektif di Nusa Tenggara Barat dan sekitarnya, sehingga potensi hujan lebat disertai kilat dan angin kencang menjadi sangat tinggi.
BMKG mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi.
Dampak dari cuaca ekstrem ini dapat berupa banjir bandang, tanah longsor di wilayah perbukitan, angin kencang yang berisiko merobohkan papan reklame atau bangunan rapuh, pohon tumbang di jalan raya, serta ancaman sambaran petir yang membahayakan aktivitas di luar ruangan.
Koordinasi antara pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan terus diperkuat guna meminimalisir risiko dampak bencana yang mungkin timbul selama periode aktifnya bibit siklon 90S ini.