Ongkos Mental Debat K-pop: Keretakan Fans Korea dan Asia Tenggara

Dimas Sagita

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:49 WIB
Ongkos Mental Debat K-pop: Keretakan Fans Korea dan Asia Tenggara
Di balik gemerlap idola, perseteruan digital antara penggemar lintas negara terus memanas. Apakah perdebatan ini merusak pengalaman menjadi seorang fan?

Suara.com - Read the article in English

Mumpuni Ken Desti, akrab disapa Puni, sudah menjadi fan K-pop sejak duduk di bangku SD pada tahun 2012.

Namun, perdebatan antar penggemar K-Pop di internet membuatnya mempertimbangkan kembali keinginannya untuk pergi ke Korea Selatan.

"Kalau misalkan mau ke luar negeri, ke Korea jadi last option [pilihan terakhir]," katanya.

Pada 31 Januari, saat grup K-pop Day6 tampil di Kuala Lumpur, 'fansite' Korea Selatan membawa kamera ke konser, meskipun membawa peralatan dan merekam dilarang di konser K-pop di Malaysia.

Para penonton mengkritik 'fansite' tersebut di media sosial, tetapi pengguna internet Korea Selatan, yang dikenal sebagai Knetz, membela perilaku tersebut.

Setelah konser, penonton dari Malaysia menggunakan media sosial untuk mengkritik penggemar Korea dengan mengatakan mereka tidak menghormati aturan konser lokal.

Namun, netizen Korea Selatan membela para penggemar tersebut sebagai bentuk solidaritas.

Konflik online tersebut semakin panas, hingga netizen Asia Tenggara bersatu dalam solidaritas di bawah tagar "SEAblings."

baca juga

SEAblings menggabungkan kata Asia Tenggara , termasuk Thailand, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Vietnam, dan "siblings", yang berarti saudara kandung.

Perselisihan tersebut pertama kali muncul di X, tetapi akhirnya menyebar ke platform media sosial lainnya termasuk YouTube, Instagram, Facebook, dan TikTok.

Menurut platform Drone Emprit, unggahan terkait isu "Knetz vs SEAblings"18.000 kali disebut dan merekam 222 juta interaksi di berbagai platform.

Kedua kubu saling menghina, dan banyak unggahan di media sosial, khususnya dari pengguna Knetz, melempar ejekan rasis terhadap pengguna internet Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Sebagian pengguna internet mengejek fitur wajah dan warna kulit yang warganegara Asia Tenggara yang lebih gelap.

"Sejak kasus Knetz versus SEAblings itu ... orang-orang suka berpendapat, terus nge-vlog ke Korea [yang menunjukkan] jadi benar ternyata sisi gelapnya Korea tuh begitu," ujarnya.

Meskipun masih mendukung idola K-pop-nya, Treasure Maker, Puni memutuskan untuk mengikuti girl band lain dari Indonesia.

"Saya mengikuti No Na juga. Mungkin dari situ banyak ke-distract [teralihkan] kali, ya. Jadi, K-popnya nanti dulu," ujarnya.

"Daripada maksudnya setiap buka X aduh, berantem lagi. Isinya marah-marah lagi, ngatain lagi, mending distract ke cari konten yang disuka, kayak No Na."

Beberapa pembuat konten di media sosial dari Korea Selatan telah meminta maaf.

"Atas nama Korea, saya ingin menyampaikan permintaan maaf. Rasisme seharusnya tidak pernah terjadi," kata seorang pengguna TikTok.

Kreator konten Korea Selatan, Jin Seunghyeon, yang merupakan mahasiswa di Indonesia, juga telah menyampaikan permintaan maaf.

"Saya percaya bahwa dalam situasi saat ini, orang Indonesia memandang orang Korea Selatan sebagai rasis secara umum, yang jauh dari kebenaran menurut perspektif saya," katanya kepada ABC.

'Rasisme sistemik'

Menurut platform analitik global K-pop Radar, Indonesia adalah pasar K-pop terbesar di Asia Tenggara, tetapi perseteruan daring tersebut telah menyebabkan banyak penggemar menyerukan boikot konser K-pop dan budaya Korea secara lebih luas.

"Budaya pop asing yang ada di Indonesia itu sekarang didominasi oleh Korean Wave, baik dari lagu K-Pop atau K-drama, atau juga industri kecantikannya, K-beauty dan juga pariwisata," kata Ranny Rastati, peneliti budaya pop Korea di Badan Riset dan Inovasi Nasional Indonesia.

Ranny mengatakan meskipun konflik online tersebut kemungkinan tidak akan berdampak signifikan pada pendapatan industri Korea, para penggemar mungkin akan mulai mengonsumsi lebih banyak konten dari negara lain seperti China dan Thailand.

"Saya pikir kalau dua negara ini bisa mengambil momentum dari kejadian Knetz versus SEAblings, ini mungkin bisa memperkuat dominasi mereka terhadap K-Pop," katanya.

Perseteruan di internet itu juga menyentuh isu "rasisme sistemik" di Korea Selatan, terhadap warga Asia Tenggara, dan "mereka yang berkulit lebih gelap."

Ivy Tania mengatakan mengalami rasisme di Korea Selatan ketika ia pergi ke sana pada tahun 2014 untuk 'training' sebagai idola K-pop.

Ketika baru datang, Ivy mengaku merasakan kebaikan dan keramahan dari teman-teman Koreanya.

Namun, ia mulai mengalami tindakan rasisme di sana ketika dalam perjalanan ke Busan.

"Saya berwisata dengan teman Amerika, kebetulan teman saya warga Amerika kulit hitam, yang warna kulitnya sangat berbeda dengan orang Korea," katanya.

"Tante-tante yang jaga konternya langsung berteriak 'keluar, keluar!'

"Kami bilang 'Enggak, kita bukan orang jahat', tapi dia ... benar-benar kasar banget sama kita dan kayak enggak welcoming banget, terus selain diteriakin, kita juga didorong keluar gitu."

Ivy mengatakan seorang pemilik toko di pasar mengusirnya saat ia mau membeli makanan.

Korea Selatan dan Jepang adalah satu-satunya negara di OECD yang tidak memiliki undang-undang anti-diskriminasi yang komprehensif, tetapi beberapa rancangan undang-undang telah diajukan di parlemen Korea Selatan selama bertahun-tahun.

'Identitas nasional' menekankan persatuan budaya dan etnis

Jihye Kim, dosen Studi Korea di University of Melbourne, mengatakan rasisme dan diskriminasi semakin diakui dan diperdebatkan dalam masyarakat Korea Selatan.

"Secara historis, keyakinan kuat terhadap homogenitas etnis dan garis keturunan mempengaruhi identitas nasional yang terpusat pada persatuan budaya dan etnis," katanya.

"Meskipun ini membantu menumbuhkan kohesi sosial pada periode sebelumnya [selama periode pemerintahan kolonial Jepang], hal ini namun mempersulit penerimaan penuh terhadap keragaman etnis setelah angka imigrasi meningkat."

Jihye mengatakan gagasan homogenitas etnis diuji pada tahun 1990-an, ketika Korea Selatan mulai menerima semakin banyak migran, termasuk dari Asia Tenggara.

Ia mengatakan mayoritas pekerja ini mengisi kekurangan tenaga kerja di sektor manufaktur dan konstruksi, dengan perempuan dari negara-negara seperti Vietnam, Filipina, dan Kamboja menikahi laki-laki Korea dari pedesaan.

"Banyak warga Asia Tenggara masuk Korea melalui sistem migrasi tenaga kerja atau pernikahan internasional, yang sering menempatkan mereka dalam posisi yang rentan secara sosial," kata Jihye.

"Hal ini terkadang memperkuat stereotip dan hubungan sosial yang tidak setara."

Namun, ia mengatakan kesadaran publik tentang masalah ini di masyarakat Korea Selatan semakin meningkat.

"Organisasi masyarakat sipil, diskusi media, dan akademisi semakin banyak membahas diskriminasi dan mengadvokasi sikap yang lebih inklusif terhadap warga Asia Tenggara," katanya.

Konflik yang mencerminkan 'keterlambatan budaya'

Adam Zulawnik, pakar studi Korea lainnya di University of Melbourne, mengatakan pemerintah Korea Selatan harus mempertimbangkan memperkenalkan undang-undang ujaran kebencian dan menuntaskan masalah ujaran kebencian daring.

"Pemerintah Korea Selatan telah berbicara tentang mengatasi rasisme, baik di masyarakat maupun di lembaga legislatif, dengan Presiden Lee [Jae-myung] pada akhir tahun lalu sebenarnya mengatakan seharusnya ada beberapa undang-undang ujaran kebencian di Korea Selatan, yang saat ini belum ada," katanya.

"Yang kita lihat, dalam hal ini adalah keterlambatan budaya, di mana sikap domestik Korea Selatan terhadap dunia luar, tertinggal, [khususnya setelah] eksposur global yang sangat besar yang telah dicapai budaya pop Korea Selatan dalam dua dekade terakhir."

Menurut Institut Kebudayaan dan Pariwisata Korea, industri K-pop meraup hampir $900 juta dari luar negeri pada tahun 2023.

ABC telah menghubungi Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan serta Institut Kebudayaan dan Pariwisata Korea untuk meminta komentar.

Warga Asia Tenggara bersatu

Beberapa ahli mengamati perseteruan daring tersebut juga menyatukan pengguna media sosial di seluruh Asia Tenggara.

"Dari sudut pandang kita sebagai orang Asia Tenggara gitu dari sebagai yang termasuk dalam SEAblings, itu positif banget sih, karena kan jatuhnya kayak solidaritas melawan rasisme melawan diskriminasi," ujar Syifa Nabila Syaharani Jauhari, akrab disapa Sasha, analis di Drone Emprit.

"Dan karena awalnya biasanya kita berantem gitu saling ngata-ngatain antar negara Asia Tenggara justru jadi bersatu."

Sasha mencatat sebagian besar pengguna Asia Tenggara di berbagai platform menanggapi hinaan rasis tersebut dengan humor dan meme.

Ia menambahkan algoritma platform media sosial juga telah mengangkat diskusi tersebut hingga meluas dan melampaui komunitas K-pop.

"Jadi karena algoritmanya seperti itu, dan fans K-pop banyak banget jadinya viral ke seluruh orang di Indonesia [dan] banyak yang ikutan. walaupun mereka enggak suka K-pop gitu," katanya.

Puni mengatakan meskipun komentar-komentar rasis tersebut mengecewakan, ia senang melihat komunitas daring dari seluruh Asia Tenggara bersatu dalam solidaritas.

"Banyak netizen Indonesia yang kayak sudahlah enggak usah, enggak usah ditanggepin serius, jadiin bercanda aja dan jadinya hiburan juga sih," katanya.

"Tapi sebenarnya let it flow aja lah."

X dan Meta juga telah dihubungi untuk dimintai komentar.

Sumber artikel cek disini
Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Menanti Keputusan April, Akankah Stadion JIS Jadi Lokasi Konser Megah BTS?

Menanti Keputusan April, Akankah Stadion JIS Jadi Lokasi Konser Megah BTS?

News | Sabtu, 07 Maret 2026 | 12:00 WIB

BTS Rilis Trailer Comeback Live ARIRANG, RM Tegaskan Kekuatan Tujuh Member

BTS Rilis Trailer Comeback Live ARIRANG, RM Tegaskan Kekuatan Tujuh Member

Your Say | Jum'at, 06 Maret 2026 | 10:11 WIB

Terkini

Tanpa Rompi Pink, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK

Tanpa Rompi Pink, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK

Video | Sabtu, 25 Juli 2026 | 12:35 WIB

Redefinisi Pengabdian: Dari Mahasiswa Kritis Menjadi Mahasiswa Konten

Redefinisi Pengabdian: Dari Mahasiswa Kritis Menjadi Mahasiswa Konten

Your Say | Sabtu, 25 Juli 2026 | 12:30 WIB

Modal Nol, Langkah Nekat Mebel Sukoharjo Tembus Spanyol Didukung BRI

Modal Nol, Langkah Nekat Mebel Sukoharjo Tembus Spanyol Didukung BRI

Bri | Sabtu, 25 Juli 2026 | 12:27 WIB

Respons Laporan Kerusakan, Pemerintah Pastikan Perbaikan SDN Tanggirejo Jadi Prioritas

Respons Laporan Kerusakan, Pemerintah Pastikan Perbaikan SDN Tanggirejo Jadi Prioritas

News | Sabtu, 25 Juli 2026 | 12:25 WIB

Perjalanan Nyonya Beniko Berlanjut, Toko Zenitendo Kembali Kedatangan Tamu

Perjalanan Nyonya Beniko Berlanjut, Toko Zenitendo Kembali Kedatangan Tamu

Your Say | Sabtu, 25 Juli 2026 | 12:25 WIB

Profil Febri Diansyah: Eks Jubir KPK yang Kini Jadi Pengacara Febrie Adriansyah

Profil Febri Diansyah: Eks Jubir KPK yang Kini Jadi Pengacara Febrie Adriansyah

News | Sabtu, 25 Juli 2026 | 12:20 WIB

Lutung Jawa Dipelihara Warga di Bondowoso Dievakuasi, Kini Jalani Rehabilitasi

Lutung Jawa Dipelihara Warga di Bondowoso Dievakuasi, Kini Jalani Rehabilitasi

Jatim | Sabtu, 25 Juli 2026 | 12:18 WIB

Tak Gentar! Davide Tardozzi Yakin Ducati Bisa Raih Gelar Juara Dunia

Tak Gentar! Davide Tardozzi Yakin Ducati Bisa Raih Gelar Juara Dunia

Your Say | Sabtu, 25 Juli 2026 | 12:15 WIB

Kapan Pendaftaran Upacara 17 Agustus 2026 di Istana Dibuka? Cek Bocoran Jadwal dan Syaratnya!

Kapan Pendaftaran Upacara 17 Agustus 2026 di Istana Dibuka? Cek Bocoran Jadwal dan Syaratnya!

News | Sabtu, 25 Juli 2026 | 12:13 WIB

Angin Puting Beliung Lepaskan Atap, Begini Kondisi Stadion Pakansari Jelang Laga Timnas Indonesia

Angin Puting Beliung Lepaskan Atap, Begini Kondisi Stadion Pakansari Jelang Laga Timnas Indonesia

Bola | Sabtu, 25 Juli 2026 | 12:06 WIB

×