- Wanita berinisial JS di kawasan Istana Presiden pada Minggu (22/3) telah mendapatkan penanganan medis intensif di RSCM.
- Petugas kepolisian berhasil menggagalkan percobaan bunuh diri tersebut dan segera membawa korban ke Polres Jakarta Pusat.
- Saat ini, kondisi JS masih dalam pengawasan medis dan psikologis untuk menentukan penanganan lanjutan pasca kejadian.
Suara.com - Pihak kepolisian memberikan informasi terbaru mengenai kondisi kesehatan seorang wanita berinisial JS yang melakukan aksi percobaan mengakhiri hidup di kawasan sekitar Istana Presiden, Jakarta.
Hingga saat ini, wanita tersebut dilaporkan masih berada di bawah pengawasan tim medis untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut terkait kondisi fisik maupun psikologisnya.
Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold E.P. Hutagalung memberikan konfirmasi bahwa proses perawatan telah dilakukan sesaat setelah kejadian berlangsung.
Penanganan medis ini menjadi prioritas utama pihak kepolisian guna memastikan keselamatan nyawa korban setelah aksi nekat yang dilakukannya di area ring satu tersebut.
"Saat itu (waktu kejadian pada Minggu 22 Maret) juga sudah ditangani langsung dan mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sampai saat ini," kata Reynold di Jakarta, Selasa (24/3/2026).
Berdasarkan kronologi yang dihimpun, aksi percobaan mengakhiri hidup tersebut terjadi pada hari Minggu, 22 Maret.
Petugas kepolisian yang sedang berjaga di sekitar lokasi kejadian langsung bergerak cepat ketika melihat gelagat mencurigakan dari JS.
Upaya persuasif dilakukan oleh para petugas di lapangan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Menurut Reynold, pada saat kejadian petugas yang berada di lokasi langsung mencoba menenangkan korban agar tidak mengambil keputusan yang gegabah.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari prosedur penanganan krisis di area publik, terutama di lokasi yang memiliki tingkat pengamanan tinggi seperti kawasan Istana Negara.
Selain itu, lanjut Reynold petugas juga berupaya memberikan rasa aman kepada korban sehingga bisa dapat dicegah dan korban dibawa ke Polres Metro Jakarta Pusat untuk diperiksa kesehatannya.
Setelah berhasil ditenangkan, JS dievakuasi dari lokasi kejadian menuju markas kepolisian untuk menjalani pemeriksaan awal terkait kondisi kesehatan umum sebelum akhirnya dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.
Pihak kepolisian memastikan bahwa JS bersikap cukup kooperatif saat dimintai keterangan awal oleh petugas.
Hal ini memudahkan pihak berwenang untuk segera mengambil langkah medis lanjutan dengan membawanya ke rumah sakit rujukan nasional guna mendapatkan pemeriksaan yang lebih mendalam, termasuk dari sisi kejiwaan.
Setelah korban dirasa kooperatif, selanjutnya korban dibawa ke RSCM untuk dilakukan pemeriksaan lanjutkan dan pemeriksaan psikologi.
Penanganan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo ini melibatkan tim ahli yang kompeten di bidangnya untuk memetakan kondisi kejiwaan korban secara komprehensif.
"Kami mencoba berkoordinasi dengan pihak RSCM untuk pemeriksaan lanjutan dan psikologis korban," ujarnya sebagaimana dilansir Antara.
Mengenai detail kejadian pada Minggu (22/3), wanita berinisial JS tersebut diduga kuat memang berniat mengakhiri hidupnya sendiri.
Dugaan ini diperkuat dengan ditemukannya barang bukti di lokasi kejadian yang mengarah pada tindakan tersebut. Petugas menemukan alat yang direncanakan akan digunakan oleh JS dalam aksinya.
Pada Minggu (22/3) seorang wanita berinisial JS diduga akan mengakhiri hidupnya, karena pada saat kejadian ditemukan seutas tali yang akan digunakan oleh korban.
Penemuan tali tersebut menjadi bukti krusial bagi kepolisian dalam menyimpulkan motif sementara di balik aksi nekat wanita tersebut di area publik.
Keberhasilan petugas dalam menggagalkan aksi ini menjadi poin penting dalam penyelamatan nyawa JS. Saat itu, ada petugas yang berhasil menggagalkan aksi korban dan kemudian korban langsung dibawa ke Polres Metro Jakarta Pusat untuk dilakukan pemeriksaan.
Di sisi lain, publik sempat dihebohkan dengan rekaman video yang beredar di media sosial mengenai peristiwa tersebut. Dalam narasi yang berkembang di masyarakat, muncul dugaan bahwa JS tengah mengalami tekanan mental yang berat atau depresi saat melakukan aksinya di dekat simbol kekuasaan negara tersebut.
Dari video yang beredar bahwa korban diduga depresi, namun hingga saat ini belum diketahui apa penyebabnya karena korban masih dilakukan perawatan secara intensif di RSCM.
Pihak kepolisian belum bisa memberikan keterangan lebih detail mengenai motif spesifik atau latar belakang permasalahan yang dihadapi JS hingga ia nekat mendatangi kawasan Istana Presiden untuk mencoba mengakhiri hidup.
Fokus utama pihak kepolisian dan tim medis saat ini adalah memastikan stabilitas kondisi JS.
Perawatan intensif di RSCM diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi kesehatan mental korban melalui serangkaian tes psikologi yang sedang berlangsung.
Pemeriksaan ini juga bertujuan untuk menentukan langkah rehabilitasi atau penanganan sosial selanjutnya bagi JS setelah keluar dari rumah sakit nanti.