15 Butir Rencana Damai Trump: Apa Saja Isinya dan Mengapa Iran Menolak?

Dimas Sagita | Suara.com

Jum'at, 27 Maret 2026 | 13:26 WIB
15 Butir Rencana Damai Trump: Apa Saja Isinya dan Mengapa Iran Menolak?
Presiden AS mengklaim adanya "hadiah signifikan" dari Iran terkait minyak dan Selat Hormuz. Simak bedah rencana damai 15 poin yang ditawarkan Trump di tengah kebuntuan negosiasi.

Suara.com - Pada Selasa (24/03), Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran "sangat menginginkan" negosiasi dan bahwa para juru runding Iran telah memberikan AS sebuah "hadiah yang sangat signifikan". "Hadiah" tersebut berkaitan dengan minyak dan gas serta Selat Hormuz, kata Trump, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Namun, ketua parlemen Iran menepis anggapan adanya pembicaraan.

"Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS, dan fakenews [sic] digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta melarikan diri dari kubangan yang menjebak AS dan Israel," tulis Mohammad Bagher Ghalibaf di media sosial X.

Yang jelas, pesan-pesan memang sedang disampaikan dari AS ke Iran, tapi secara tidak langsung. Pesan-pesan itu disampaikan oleh sejumlah perantara, seperti Pakistan, yang memiliki hubungan baik dengan kedua pemerintahan.

Itu tentu berbeda dengan "negosiasi" formalpenjelasan yang mungkin menjadi alasan mengapa ketua parlemen Iran dan juru bicara militer Iran menampik keras bahwa negosiasi tengah berlangsung.

Kontak tidak langsung memang ada, begitu pula saluran komunikasi antara kedua pihak. Tetapi mencapai sebuah kesepakatan tampaknya masih jauh dari kenyataan.

Contohnya, baru-baru ini mengemuka 15 butir rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang. Proposal itu mencakup komitmen Iran untuk tidak membangun senjata nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz yang sangat strategis.

Namun Iran langsung menolak, menurut media Press TV yang dikelola pemerintah Iran.

Mengutip seorang "pejabat senior politik-keamanan" yang tidak disebutkan namanya, media itu memaparkan lima syarat dari Teheran untuk mengakhiri konflik, termasuk pembayaran ganti rugi atas kerusakan.

Syarat-syarat tersebut tidak memiliki kesamaan dengan proposal Trump, yang dipublikasikan oleh media Israel Channel 12 dan dikonfirmasi pejabat AS.

Apa isi 15 butir rencana perdamaian yang digagas Trump?

BBC belum memperoleh akses terhadap dokumen rencana yang diklaim Presiden Trump telah dikirimkan kepada Iran. Tidak ada pula konfirmasi resmi mengenai isinya. Namun, sejumlah media internasional mulai mengungkap beberapa detil.

Menurut saluran berita Israel, Channel 12, rencana tersebut mencakup sejumlah persyaratan berikut:

Proposal tersebut meminta Iran untuk "berkomitmen untuk tidak pernah mewujudkan senjata nuklir", berjanji membongkar fasilitas nuklir, dan menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya kepada Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA)badan pengawas nuklir PBB.

Menurut proposal itu, Iran harus menyetujui pembatasan program rudalnya, baik dari segi jangkauan maupun jumlah.

Selain itu, Iran harus berhenti mendanai kelompok-kelompok proksi di kawasan Timur TengahHizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, dan Houthi di Yaman.

Iran juga akan diwajibkan membuka kembali Selat Hormuz agar dapat berfungsi sebagai "koridor maritim bebas".

Penutupan Selat Hormuztempat kapal-kapal pembawa sepertiga pasokan minyak dan gas dunia melintastelah membuat harga BBM melambung dan memicu kekhawatiran resesi ekonomi global.

Sebagai balasannya, AS akan membantu mengembangkan proyek nuklir di Bushehr untuk memasok keperluan listrik bagi warga sipil.

Lalu, menurut rencana tersebut, semua sanksi internasional terhadap Iran akan dicabut.

Sanksi penuh diberlakukan kembali pada November lalu setelah Iran menangguhkan inspeksi fasilitas nuklirnya menyusul pengeboman beberapa lokasi nuklir dan pangkalan militer oleh AS dan Israel.

Apa respons Gedung Putih?

Pada Rabu (25/03), juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menanggapi pertanyaan seorang reporter terkait 15 butir rencana perdamaian yang bocor ke media.

Leavitt menyebut laporan tersebut "bersifat spekulatif" dan menyatakan bahwa sebagian informasi yang dipublikasikan "tidak sepenuhnya akurat," meskipun ia mengakui bahwa rencana itu "mengandung unsur kebenaran."

Namun, ia menegaskan bahwa dirinya tidak akan membahas rincian "kecil" mengenai percakapan yang sedang berlangsung.

Sekretaris pers itu juga menolak menjawab pertanyaan terkait kemungkinan pengerahan pasukan AS di daratan Iran. Meski begitu, dia menyatakan bahwa langkah tersebut tidak memerlukan otorisasi formal dari Kongres.

Ketika ditanya seberapa dekat akhir perang, Leavitt kembali menegaskan posisi Gedung Putih bahwa AS "berada di depan jadwal" dan menyebutnya sebagai operasi yang sangat berhasil.

Apa proposal tandingan Iran?

Awalnya, Iran menolak mentah 15 butir rencana perdamaian.

Namun, pada Rabu (25/03), Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan kepada media pemerintah bahwa "sejumlah gagasan" telah disampaikan kepada berapa pejabat senior pemerintahan.

"Jika diperlukan sikap resmi terkait gagasan ini, sikap tersebut pasti akan ditentukan," ujarnya.

Araghchi mengatakan Iran "belum berniat untuk bernegosiasi saat ini".

Namun ia mengonfirmasi bahwa "pihak Amerika telah mulai mengirim berbagai pesan melalui beragam perantara."

Sebelumnya, sebagaimana dilaporkan Press TV, Iran mengajukan lima syarat untuk mengakhiri perang.

Pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan kepada Press TV bahwa syarat-syarat ini merupakan tambahan dari tuntutan yang sebelumnya diajukan Teheran dalam perundingan di Jenewa pada Februari, beberapa saat sebelum perang dimulai.

Syarat tersebut mencakup penghentian total "agresi dan pembunuhan oleh musuh". Sejumlah pejabat tinggi Iran telah meninggal dunia sejak hari pertama perang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Syarat Iran lainnya mencakup "mekanisme konkret untuk memastikan perang tidak diberlakukan kembali terhadap Republik Islam", meski tidak jelas jaminan apa yang dapat diberikan dan negara mana saja yang akan terlibat atau mengawasi pemenuhannya.

Di bidang ekonomi, Iran juga menuntut pembayaran kerusakan perang dan ganti rugi, serta hak untuk tetap menjadi satu-satunya pihak yang mengendalikan Selat Hormuz.

Yang paling penting, Teheran ingin Israel mengakhiri serangan terhadap sekutu Iran di wilayah tersebut. Israel telah meningkatkan operasi militer terhadap Hizbullah di Lebanon. Pada Selasa (24/03), Israel mengumumkan bahwa militernya akan tetap berada di zona penyangga di dalam Lebanon sampai serangan terhadap Israel utara berhenti.

Apa yang diinginkan pihak-pihak yang bertikai?

Analisis Frank Gardner, koresponden BBC di bidang keamanan

Kebuntuan antara AS dan Iran mengingatkan pada upaya Rusia dan Ukraina mengakhiri perangkedua pihak samasama menyatakan ingin mengakhiri konflik, tetapi hanya dengan syarat yang mereka tentukan sendiri, dan syarat itu tidak dapat diterima oleh pihak lawan.

Terlepas dari optimisme yang disuarakan Gedung Putih, tampaknya jarak AS dan Iran masih sangat lebar.

Iran kini merasa lebih percaya diri. Benar, negara itu menderita kerugian militer besar dan kehilangan pemimpin tertingginya. Pangkalan militer, gudang persenjataan, dan pusat komandonya juga porak-poranda. Angkatan lautnya pun sebagian besar telah dilumpuhkan.

Namun Iran tetap bertahan. Iran menunjukkan ketangguhan.

Di 31 provinsi Iran, terdapat tingkat otonomi dan sistem yang memungkinkan para komandan Garda Revolusi bergerak secara independen, menjalankan perintah yang telah diberikan sebelumnyadan perintah ini masih efektif.

Iran masih menembakkan drone dan rudal ke negara-negara Arab di Teluk, dan mereka tetap menguasai Selat Hormuz.

Iran berada pada posisi yang membuatnya merasa tidak perlu memberikan konsesi kepada AS, Israel, atau pihak mana pun.

Semakin sering Gedung Putih menyatakan kepada dunia bahwa Iran sangat memerlukan kesepakatan, semakin kecil keinginan Iran untuk menciptakannya.

Sumber artikel cek disini
Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Menlu Amerika Serikat Klaim Ada Kemajuan Pembicaraan dengan Iran

Menlu Amerika Serikat Klaim Ada Kemajuan Pembicaraan dengan Iran

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 10:35 WIB

Israel Ketakutan AS-Iran Sepakat Damai, Tel Aviv Nekat Siapkan Serangan Darurat

Israel Ketakutan AS-Iran Sepakat Damai, Tel Aviv Nekat Siapkan Serangan Darurat

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 09:48 WIB

Terkini

Gugat Meta dan YouTube soal Kecanduan Medsos, Perempuan Ini Tuntut Rp100 M

Gugat Meta dan YouTube soal Kecanduan Medsos, Perempuan Ini Tuntut Rp100 M

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 13:23 WIB

5 Aksi Dasco Jadi Jangkar Legislasi hingga Persatuan Nasional di Bulan Maret 2026

5 Aksi Dasco Jadi Jangkar Legislasi hingga Persatuan Nasional di Bulan Maret 2026

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 13:20 WIB

Santunan Kecelakan Lebaran Tembus Rp11 Miliar, Pemotor Jadi Korban Terbanyak!

Santunan Kecelakan Lebaran Tembus Rp11 Miliar, Pemotor Jadi Korban Terbanyak!

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 13:14 WIB

Bayang-bayang Perang Timur Tengah Ancam Harga BBM, Ojol Ketar-ketir

Bayang-bayang Perang Timur Tengah Ancam Harga BBM, Ojol Ketar-ketir

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 13:11 WIB

Beredar Surat Panggilan Palsu, KPK Minta Masyarakat Waspada Penipuan

Beredar Surat Panggilan Palsu, KPK Minta Masyarakat Waspada Penipuan

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 12:57 WIB

DPRD Minta Pemprov DKI Kendalikan Lonjakan Pendatang Usai Lebaran

DPRD Minta Pemprov DKI Kendalikan Lonjakan Pendatang Usai Lebaran

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 12:13 WIB

Fluktuasi Kurs Rupiah, Harga Pangan Lokal Makin Tercekik Biaya Produksi

Fluktuasi Kurs Rupiah, Harga Pangan Lokal Makin Tercekik Biaya Produksi

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 12:06 WIB

Respons Isu di Media Sosial, Pemprov DKI Jakarta Pastikan Penggunaan Kendaraan Dinas Sesuai Aturan

Respons Isu di Media Sosial, Pemprov DKI Jakarta Pastikan Penggunaan Kendaraan Dinas Sesuai Aturan

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 11:46 WIB

Arus Balik Lampaui Keberangkatan, KAI: Jakarta Diserbu 50 Ribu Penumpang Kereta per Hari

Arus Balik Lampaui Keberangkatan, KAI: Jakarta Diserbu 50 Ribu Penumpang Kereta per Hari

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 11:38 WIB

Arus Balik Masih Padat, Rekayasa Lalu Lintas di Tol Trans Jawa Berlanjut Jumat 28 Maret

Arus Balik Masih Padat, Rekayasa Lalu Lintas di Tol Trans Jawa Berlanjut Jumat 28 Maret

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 11:26 WIB