-
Militer Iran mengancam akan memusnahkan pasukan Amerika Serikat jika nekat melakukan invasi darat.
-
Letnan Kolonel Zolfaqari menyebut rencana serangan darat Donald Trump hanyalah sebuah khayalan belaka.
-
Iran telah menyiagakan pasukan di Selat Hormuz untuk membalas agresi militer Amerika Serikat.
Pihak Teheran merasa yakin bahwa langkah militer Amerika Serikat hanya akan membawa kerugian permanen bagi mereka sendiri.
Zolfaqari menjelaskan bahwa pasukan mereka sudah sangat tidak sabar untuk membuktikan ketangguhan pertahanan nasional yang ada.
Ia menekankan bahwa agresi dan pendudukan tidak akan menghasilkan apa pun selain penahanan yang memalukan, pemotongan anggota tubuh, dan hilangnya para agresor.
Komentar pedas ini muncul setelah adanya isu mengenai persiapan operasi darat oleh Pentagon selama beberapa pekan ke depan.
Skenario tersebut diprediksi akan dijalankan apabila serangan udara yang dilakukan saat ini dianggap gagal mencapai target.
Guna mengantisipasi serangan mendadak, Iran telah mempertebal barisan pertahanan di berbagai wilayah titik-titik krusial negara.
Fokus penguatan militer dilakukan di perbatasan barat daya dengan Irak serta area tenggara yang berdekatan dengan Selat Hormuz.
Komandan Pasukan Darat Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC juga telah mengeluarkan instruksi tegas kepada pasukannya di lapangan.
Pihak IRGC memastikan bahwa aliansi Amerika Serikat dan Israel akan menerima balasan yang setimpal atas tindakan mereka.
Iran menuding bahwa kepemimpinan Amerika saat ini telah menjerumuskan tentara mereka ke dalam situasi yang sangat berbahaya.
Ebrahim Zolfaqari memberikan penilaian yang sangat tajam terhadap kredibilitas Presiden Amerika Serikat di mata dunia internasional.
Ia menyebut Trump sebagai sosok yang membawa pasukannya sendiri masuk ke dalam jebakan maut di wilayah asing.
Zolfaqari mengecam Trump dengan menggambarkannya sebagai pembohong terbesar di antara para presiden di dunia dan sama sekali tidak dapat diandalkan.
Menurutnya, keputusan tersebut telah membawa pasukan AS masuk ke dalam kondisi yang ia sebut sebagai rawa kematian.
Kekhawatiran akan jatuhnya korban jiwa juga disebut membuat tentara Amerika mulai mencari perlindungan di fasilitas warga sipil.
Iran menilai kebijakan militer yang diambil oleh Washington tidak didasari oleh pertimbangan yang matang atau stabil secara psikologis.
Zolfaqari berpendapat bahwa kepemimpinan saat ini telah menyerahkan kendali perang kepada individu yang tidak memiliki keseimbangan emosional.
Ia menyatakan bahwa tindakan tersebut sudah memberikan efek kerusakan masif bagi kawasan Amerika, Eropa, hingga wilayah Asia Barat.
Krisis ini sendiri semakin memburuk sejak pecahnya konflik terbuka tanpa provokasi yang terjadi pada akhir Februari lalu.
Kejadian tersebut telah merenggut nyawa Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, beserta sejumlah petinggi militer lainnya.
Meski sebelumnya sempat terjadi proses negosiasi terkait program nuklir sipil, namun eskalasi militer tetap tidak terhindarkan lagi.
Iran tidak tinggal diam atas serangan yang membunuh para pemimpin mereka dan segera melakukan serangan balasan masif.
Gelombang rudal serta pesawat tanpa awak telah diluncurkan menuju wilayah yang dikuasai Israel serta pangkalan Amerika.
Aset-aset strategis milik Amerika Serikat di berbagai negara regional kini menjadi target utama dalam operasi balasan tersebut.
Situasi di lapangan terus berkembang dengan kedua belah pihak yang saling memegang kendali atas senjata pemusnah mereka.