Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Kematian, Negara Miskin Paling Terdampak

Bimo Aria Fundrika

Senin, 30 Maret 2026 | 18:50 WIB
Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Kematian, Negara Miskin Paling Terdampak
Ilustrasi tanah retak karena panas (Freepik/freepik)

Suara.com - Perubahan iklim tak bisa sekadar dianggap lingkungan, tetapi ancaman nyata bagi keselamatan manusia. Kenaikan suhu global kini mulai berdampak langsung pada angka kematian di berbagai negara.

Studi terbaru menunjukkan, dampak ini tidak merata—negara miskin justru menghadapi risiko yang jauh lebih besar dibanding negara kaya.

Peneliti Climate Lab menyoroti peningkatan risiko kematian akibat suhu ekstrem pada pertengahan abad ini. Mereka menilai, angka kematian tidak hanya dipengaruhi pemanasan global, tetapi juga kemampuan adaptasi, seperti penggunaan pendingin ruangan dan penyediaan pusat pendinginan.

Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat perbedaan signifikan terhadap angka kematian antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin.

Dikutip dari Earth.org, sebuah laporan baru memperingatkan bahwa negara-negara miskin akan mengalami angka kematian yang jauh lebih tinggi daripada negara-negara kaya.

Fenomena ini dipicu oleh perubahan iklim yang menyebabkan suhu global terus-menerus meningkat.

Meningkatnya Angka Kematian

Secara historis, gelombang panas telah menjadi salah satu fenomena cuaca ekstrem yang paling mematikan. Data menunjukkan bahwa antara tahun 2000 hingga 2019, tercatat sekitar 489.000 kematian per tahun di seluruh dunia akibat panas ekstrem. Dari jumlah tersebut, 45% korban jiwa terjadi di Asia (paling sering dilanda bancana cuaca dan iklim di dunia), sementara 36% lainnya terjadi di Eropa (benua yang mengalami pemanasan tercepat di dunia). Angka kematian terkait panas telah meningkat sekitar 30% dalam dua dekade terakhir. Dalam sebuah makalah baru Senin (23/03/26) menemukan bahwa beban kematian tertinggi di masa depan akan lebih dirasakan oleh negara-negara berpenghasilan rendah.

Para peneliti memperkirakan bahwa jumlah kematian tahunan akibat perubahan suhu di negara-negara berpenghasilan rendah mencapai sekitar 391.000 orang.

baca juga

Angka ini diperkirakan sepuluh kali lebih banyak dibandingkan dengan negara-negara berpenghasilan tinggi yang diperkirakan mencatat sekitar 39.000 kematian per tahun. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh ketidaksiapan negara-negara berpenghasilan rendah untuk menghadapi ancaman yang semakin meningkat akibat perubahan iklim.

Laporan tersebut juga memberikan gambaran skala risiko dengan membandingkannya terhadap angka kematian penyakit saat ini di beberapa wilayah, seperti Bolivia, Pakistan, hingga Afrika.

Di Bolivia bagian Tenggara, kenaikan kematian diprediksi mencapai 30 jiwa per 100.000 penduduk, yang sebanding dengan tingkat fatalitas diabetes.

Di Pakistan, angka kematian diperkirakan meningkat sebesar 51 jiwa per 100.000 penduduk. Ini setara dengan angka kematian akibat tuberkulosis dan stroke Pakistan saat ini. Bahkan di wilayah Sahel Afrika, di negara seperti Niger dan Burkina Faso, angka kematian akibat panas diprediksi meningkat hingga 60 jiwa atau lebih per 100.000 penduduk.

Angka ini melampaui angka kematian akibat malaria di Afrika sendiri saat ini. Sebaliknya, beberapa wilayah dengan iklim dingin seperti Alaska, Kanada, dan Greenland justru diproyeksikan akan mengalami penurunan angka kematian.

Peran Penting Adaptasi Iklim

Co-Founder Climate Impact Lab dan Direktur Institute for Climate and Sustainable Growth and Energy Policy Institute di University of Chicago, Michael Greenstone menjelaskan bahwa temuan ini mengungkap realitas di mana jutaan orang diperkirakan meninggal di negara-negara yang sebenarnya paling sedikit berkontribusi terhadap penyebab perubahan iklim.

“Laporan ini mengungkap salah satu ironi paling kejam dari perubahan iklim. Diproyeksikan akan membunuh jutaan orang di negara-negara yang umumnya paling sedikit berkontribusi terhadap penyebabnya,” ungkap Michael.

Data menunjukkan bahwa satu hari panas dengan suhu rata-rata melebihi 35 derajat Celsius (95 derajat Fahrenheit) dapat meningkatkan angka kematian sebanyak empat jiwa per 1 juta orang.

Oleh karena itu, laporan ini menekankan pentingnya strategi adaptasi yang tepat sasaran. Di negara dengan sumber daya terbatas seperti Bolivia, langkah-langkah adaptasi diperlukan di dataran rendah yang lebih panas dibandingkan wilayah pegunungan yang sejuk.

Efektivitas adaptasi iklim sangat bergantung pada identifikasi wilayah yang paling membutuhkan tindakan dan investasi mana yang memberikan manfaat paling besar.

Laporan ini muncul bertepatan dengan pernyataan PBB yang menyebutkan bahwa keseimbangan iklim Bumi saat ini berada pada titik yang lebih tidak stabil daripada kapan pun dalam sejarah yang tercatat seiring dengan percepatan pemanasan global.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Perubahan Iklim Picu Turbulensi Pesawat, Ini Solusi Peneliti Terinspirasi dari Cara Terbang Burung

Perubahan Iklim Picu Turbulensi Pesawat, Ini Solusi Peneliti Terinspirasi dari Cara Terbang Burung

News | Senin, 30 Maret 2026 | 17:26 WIB

Novel Napas Mayat, Bagaimana Kematian Berbicara Lebih Keras dari Hidup

Novel Napas Mayat, Bagaimana Kematian Berbicara Lebih Keras dari Hidup

Your Say | Sabtu, 28 Maret 2026 | 16:03 WIB

Gerakan 'United Against Dengue' Diluncurkan Demi Tekan Angka Kematian DBD di Indonesia

Gerakan 'United Against Dengue' Diluncurkan Demi Tekan Angka Kematian DBD di Indonesia

Lifestyle | Senin, 16 Maret 2026 | 08:19 WIB

Terkini

Tan Cheng Hoe Angkat Tangan: Pertahanan 10 Pemain Timnas Indonesia Sangat Sulit Ditembus

Tan Cheng Hoe Angkat Tangan: Pertahanan 10 Pemain Timnas Indonesia Sangat Sulit Ditembus

Bola | Senin, 28 September 2026 | 23:01 WIB

Guruh Soekarnoputra Berpulang, Mengapa Kepergiannya Begitu Berarti bagi Indonesia?

Guruh Soekarnoputra Berpulang, Mengapa Kepergiannya Begitu Berarti bagi Indonesia?

Sumsel | Senin, 28 September 2026 | 22:57 WIB

Aneh Tapi Nyata, John Herdman Malah Senang Thom Haye Dapat Kartu Merah

Aneh Tapi Nyata, John Herdman Malah Senang Thom Haye Dapat Kartu Merah

Bola | Senin, 28 September 2026 | 22:46 WIB

Prabowo Audit Keuangan Haji, Ada Rp12,98 Triliun Nilai Manfaat Jemaah 2027

Prabowo Audit Keuangan Haji, Ada Rp12,98 Triliun Nilai Manfaat Jemaah 2027

Sumsel | Senin, 28 September 2026 | 22:44 WIB

Rajin Tarawih Selama Ramadan, Cerita 10 Warga Akhirnya Berkesempatan Umrah ke Tanah Suci

Rajin Tarawih Selama Ramadan, Cerita 10 Warga Akhirnya Berkesempatan Umrah ke Tanah Suci

Lifestyle | Senin, 28 September 2026 | 22:34 WIB

Ketika Olahraga Jadi Ruang Mahasiswa Mengasah Skill dan Kekompakan

Ketika Olahraga Jadi Ruang Mahasiswa Mengasah Skill dan Kekompakan

Lifestyle | Senin, 28 September 2026 | 22:27 WIB

BRI Luncurkan Program BRI Junio x Mobile Legends: Bang Bang

BRI Luncurkan Program BRI Junio x Mobile Legends: Bang Bang

Bri | Senin, 28 September 2026 | 22:04 WIB

Penipuan Online Makin Kompleks, Pemerintah Siapkan Penanganan Lintas Sektor

Penipuan Online Makin Kompleks, Pemerintah Siapkan Penanganan Lintas Sektor

News | Senin, 28 September 2026 | 22:00 WIB

Hellyana Diberhentikan Sementara, Sampai Kapan Jabatan Wagub Babel Kosong?

Hellyana Diberhentikan Sementara, Sampai Kapan Jabatan Wagub Babel Kosong?

Sumsel | Senin, 28 September 2026 | 21:52 WIB

Hasil Timnas Indonesia vs Malaysia: Tak Ada Gol, Maarten Paes Man of The Match

Hasil Timnas Indonesia vs Malaysia: Tak Ada Gol, Maarten Paes Man of The Match

Bola | Senin, 28 September 2026 | 21:44 WIB

×