- Presiden Donald Trump mempertimbangkan penarikan Amerika Serikat dari NATO akibat kurangnya dukungan sekutu terkait aksi militer di Iran.
- Trump menilai NATO sebagai aliansi lemah dan berencana segera mengakhiri kampanye militer Operation Epic Fury di negara Iran.
- Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menanggapi ancaman tersebut sebagai kebisingan politik dan menegaskan komitmen penuh Inggris terhadap NATO.
"Pertama, NATO adalah satu-satunya aliansi militer paling efektif yang pernah ada di dunia, dan aliansi ini telah menjaga kita tetap aman selama puluhan tahun, dan kami berkomitmen penuh terhadap NATO," ujar Starmer menanggapi komentar Trump.
Lebih lanjut, Starmer memberikan batasan yang jelas mengenai keterlibatan Inggris dalam konflik yang sedang dikobarkan AS di Timur Tengah.
Ia menyatakan, London tidak ingin terseret lebih jauh ke dalam perang yang dianggap bukan urusan Inggris.
"Kedua, apa pun tekanan yang diberikan kepada saya dan orang lain, apa pun kebisingannya, saya akan bertindak demi kepentingan nasional Inggris dalam semua keputusan yang saya buat. Dan itulah mengapa saya sangat jelas bahwa ini bukan perang kami dan kami tidak akan terseret ke dalamnya," tambah PM Inggris tersebut.
Akhir Operation Epic Fury di Iran
Ketegangan ini memuncak saat Gedung Putih mengumumkan, Presiden Trump akan menyampaikan pidato nasional yang sangat penting mengenai pembaruan situasi di Iran.
Menariknya, Trump juga memberikan sinyal kuat bahwa ia akan segera mengakhiri kampanye militer AS di Iran, yang dikenal dengan nama Operation Epic Fury.
Trump mengindikasikan penarikan pasukan AS dari konflik Iran akan terjadi dalam waktu dekat, bahkan jika Teheran tidak menyetujui kesepakatan damai apa pun.
Hal ini menunjukkan pergeseran strategi Trump menuju kebijakan isolasionisme yang lebih ekstrem, di mana ia tidak lagi peduli pada diplomasi tradisional atau aliansi multilateral.
"Kami akan pergi segera," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Ia memprediksi proses keluar tersebut bisa memakan waktu sekitar "dua minggu, mungkin dua minggu, mungkin tiga."
Ketika ditanya apakah keberhasilan diplomasi merupakan syarat mutlak bagi AS untuk menghentikan operasi militernya, Trump menjawab dengan lugas bahwa hal itu tidak diperlukan.
Baginya, Iran tidak memiliki posisi tawar untuk memaksanya bertahan dalam konflik yang dianggapnya membebani Amerika.
"Iran tidak harus membuat kesepakatan, tidak. Tidak, mereka tidak perlu membuat kesepakatan dengan saya," pungkas Trump.