- Pengamat militer Igor Korotchenko menyatakan cadangan rudal Amerika Serikat menipis akibat tingginya intensitas serangan terhadap Iran sejak April 2026.
- Strategi pertahanan mosaik Iran berhasil mempertahankan posisi strategis dan membuat tujuan militer Amerika Serikat sulit tercapai secara efektif.
- Ketegangan muncul karena Israel menolak berpartisipasi dalam operasi darat, memicu dilema politik bagi Amerika Serikat dalam melanjutkan konflik.
Suara.com - Kekuatan militer konvensional Amerika Serikat, dilaporkan mulai mencapai titik nadir dalam kampanye militernya melawan Iran. Sementara Israel memberikan sinyalemen pengkhianatan, tidak mau ikut serta dalam rencana serangan darat ke Iran.
Pengamat militer Rusia, Igor Korotchenko, mengungkapkan Washington kini menghadapi masalah serius terkait menipisnya cadangan persenjataan strategis mereka.
Bukan hanya soal rudal Tomahawk yang terkuras cepat, setiap proyektil yang ditembakkan ke arah Iran kini menggerogoti cadangan pertahanan udara dan rudal AS secara simultan.
“Ini memang masalah yang dirasakan sangat akut oleh orang Amerika saat ini,” ujar Korotchenko kepada Sputnik, Rabu (1/4/2026).
Berdasarkan analisis dokumen anggaran Angkatan Laut, AS menghabiskan rata-rata 850 rudal jelajah Tomahawk per bulan.
Dengan laju konsumsi sebesar itu, Amerika Serikat diperkirakan hanya memiliki sisa pasokan untuk sekitar tiga bulan ke depan.
Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa Washington seolah berjuang sendirian tanpa dukungan koalisi besar seperti pada era perang sebelumnya.
Korotchenko menekankan bahwa situasi ini sangat berbeda dengan keterlibatan AS di masa lalu.
“Ini adalah jenis konflik yang sama sekali berbeda. Sebelumnya, semua perang yang ia jalani di Yugoslavia dan Irak adalah operasi koalisi dengan negara-negara NATO dan negara-negara sekutu,” katanya.
Kegagalan Destabilisasi dan Ketangguhan Iran
Satu bulan setelah kampanye militer dimulai, tujuan strategis Amerika Serikat di Iran dinilai masih jauh dari jangkauan.
Teheran terbukti tidak mudah goyah, masyarakatnya justru semakin bersatu melawan serangan eksternal.
Selain itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC, dilaporkan masih mempertahankan cadangan rudal yang cukup, termasuk sistem terbaru yang disimpan dengan aman di fasilitas bawah tanah yang sulit ditembus.
Iran menerapkan apa yang disebut sebagai "pertahanan mosaik" dan operasi desentralisasi.
Strategi ini membuat setiap serangan lanjutan dari AS menjadi sangat mahal, dan hasilnya tidak pasti.