-
Presiden Iran menuntut jaminan keamanan permanen dari agresi AS-Israel sebagai syarat mutlak penghentian perang.
-
Iran membantah adanya negosiasi formal dengan utusan AS, menegaskan komunikasi hanya sebatas pertukaran pesan.
-
Selat Hormuz tetap dibuka untuk kapal negara sahabat namun tertutup bagi pihak yang memusuhi Iran.
Suara.com - Presiden Masoud Pezeshkian secara terbuka mengungkapkan ambisi diplomatik Teheran untuk menyudahi konfrontasi bersenjata dengan Amerika Serikat serta Israel.
Langkah berani ini diambil saat eskalasi militer di kawasan tersebut kini telah memasuki durasi waktu lima minggu berturut-turut.
Teheran menekankan bahwa keinginan untuk berdamai harus dibarengi dengan komitmen internasional yang sangat konkret dan mengikat secara hukum.
Fokus utama dari otoritas tertinggi Iran adalah memastikan bahwa wilayah kedaulatan mereka tidak akan pernah lagi menjadi sasaran serangan militer.
Kondisi tersebut menjadi harga mati bagi dimulainya proses stabilisasi keamanan di seluruh wilayah Timur Tengah yang saat ini sedang membara.
"Kami memiliki niat yang dibutuhkan untuk mengakhiri konflik ini, menyediakan syarat esensial, khususnya jaminan diperlukan untuk mencegah berulangnya agresi," kata Pezeshkian.
Pernyataan tegas ini mencerminkan sikap defensif namun terbuka yang diusung oleh pemerintah Iran dalam menghadapi tekanan koalisi barat.
Pemerintah Iran secara resmi menanggapi kerangka damai 15 poin yang sebelumnya disodorkan oleh pihak Washington kepada mereka pekan lalu.
Sebagai bentuk reposisi kekuatan, Iran meluncurkan serangan diplomatik balasan melalui usulan lima poin utama yang bertujuan menghentikan peperangan.
Mekanisme ini dirancang sedemikian rupa agar di masa depan, baik militer Israel maupun Amerika Serikat tidak lagi melancarkan operasi serangan.
"Solusi untuk menormalisasi situasi adalah dengan menghentikan serangan agresif," kata Pezeshkian.
Visi ini diperkuat oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menyatakan bahwa sekadar gencatan senjata sementara bukanlah tujuan akhir.
Teheran menuntut penghentian total seluruh aktivitas perang yang menghancurkan infrastruktur serta mengancam nyawa warga sipil di perbatasan negara.
Selain jaminan keamanan jangka panjang, Iran juga menuntut adanya kompensasi atas kerugian yang dialami akibat rentetan serangan selama ini.
Hal ini menjadi dasar kuat mengapa Iran bersikap sangat hati-hati dalam merespons setiap tawaran diplomatik yang masuk ke meja kerja mereka.