WALHI Temukan 1.351 Titik Api Karhutla Terdeteksi di Konsesi Perusahaan: Mengapa Terjadi?

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 02 April 2026 | 12:15 WIB
WALHI Temukan 1.351 Titik Api Karhutla Terdeteksi di Konsesi Perusahaan: Mengapa Terjadi?
Ilustrasi Kebakaran Hutan. [ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/bar]
baca 10 detik
  • WALHI mencatat 11.189 titik panas di Indonesia sepanjang Maret 2026 akibat faktor iklim dan buruknya tata kelola lahan.
  • Sebanyak 1.351 titik api terdeteksi dalam konsesi perusahaan, memicu kerusakan ekosistem gambut serta dampak kesehatan bagi masyarakat lokal.
  • Pemerintah perlu melakukan evaluasi izin korporasi, penegakan hukum tegas, dan restorasi gambut guna mencegah keberulangan kebakaran hutan tersebut.

Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan kembali meningkat, bahkan sebelum musim kemarau mencapai puncaknya. Ribuan titik api muncul berulang di lokasi yang sama, menandakan persoalan lama yang tak pernah benar-benar diselesaikan.

Dalam hampir empat pekan pertama Maret 2026, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mencatat sedikitnya 11.189 titik panas tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Angka ini bukan sekadar statistik musiman, tetapi sinyal kuat bahwa krisis ekologis terus berulang tanpa perbaikan berarti.

Yang mengkhawatirkan, sebanyak 1.351 titik api terdeteksi berada di dalam dan sekitar konsesi perusahaan, baik perkebunan sawit, hutan tanaman industri, maupun tambang. Temuan ini mempertegas bahwa kebakaran tidak berdiri sendiri sebagai fenomena alam.

“Keberulangan karhutla ini menunjukkan tidak adanya kemajuan dalam perbaikan tata kelola dan penegakan hukum terhadap perusahaan-perusahaan penjahat lingkungan,” kata Uli Arta Siagian, Koordinator Pengkampanye Eksekutif Nasional WALHI.

Krisis tahun ini juga diperkuat oleh faktor iklim. Fenomena El Niño ekstrem yang diprediksi terjadi bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD) berpotensi memperpanjang musim kemarau hingga berbulan-bulan.

“Karhutla tahun ini bisa sangat besar dampaknya, sebab fenomena ini akan menyebabkan peningkatan suhu signifikan dan musim kering lebih panjang,” ujar Uli.

Namun, menyederhanakan persoalan sebagai dampak cuaca dinilai menyesatkan.

Di Riau, yang kembali menjadi episentrum kebakaran, analisis WALHI menemukan ratusan titik panas tersebar di wilayah gambut, ekosistem yang rentan dan selama ini terus dikonversi. Sebagian besar titik tersebut bahkan berada di area konsesi.

“Hasil analisis kami menunjukkan indikasi kuat bahwa hotspot banyak muncul di areal izin korporasi. Ini memperlihatkan kegagalan pemerintah dalam pengawasan dan penegakan hukum,” kata Eko Yunanda, Direktur Eksekutif Daerah WALHI Riau.

baca juga

Ia menambahkan, pola respons pemerintah masih berfokus pada pemadaman, bukan pencegahan.

“Pemerintah saat ini hanya bertindak cepat saat api sudah muncul, tetapi tidak menyentuh akar persoalan kenapa karhutla terus berulang setiap tahun,” ujarnya.

Situasi serupa terlihat di Kalimantan Barat. Ratusan titik api terdeteksi sejak awal tahun, dengan dampak langsung terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Bahkan, satu korban jiwa dilaporkan meninggal akibat dampak kebakaran.

Sri Hartini, Direktur Eksekutif WALHI Kalimantan Barat, menilai pola kebakaran ini tidak bisa lagi dianggap kebetulan.

“Sebaran hotspot di dalam konsesi menunjukkan buruknya tata kelola lahan perusahaan. Polanya juga tidak acak, melainkan terkonsentrasi. Ini bukan semata faktor alam, tetapi indikasi kejahatan ekologis yang terstruktur,” tegasnya.

Di tengah ancaman yang meningkat, keterbatasan anggaran menjadi tantangan tambahan. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa biaya penanganan karhutla bisa mencapai triliunan rupiah, sementara alokasi anggaran saat ini relatif terbatas.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Waspada Kemarau Panjang 2026, DPR RI Minta Kemenhut Perkuat Koordinasi Cegah Karhutla

Waspada Kemarau Panjang 2026, DPR RI Minta Kemenhut Perkuat Koordinasi Cegah Karhutla

News | Rabu, 01 April 2026 | 09:25 WIB

Karhutla: 10 Hektare Lahan Gambut Terbakar di Anjongan, Api Sempat Mendekati Bangunan Warga

Karhutla: 10 Hektare Lahan Gambut Terbakar di Anjongan, Api Sempat Mendekati Bangunan Warga

News | Minggu, 08 Maret 2026 | 17:09 WIB

Upaya Pemadaman Karhutla di Batam

Upaya Pemadaman Karhutla di Batam

Foto | Senin, 09 Februari 2026 | 18:58 WIB

Terkini

Kebakaran Hebat Kembali Melanda TPA Jatibarang Semarang

Kebakaran Hebat Kembali Melanda TPA Jatibarang Semarang

Foto | Kamis, 01 Oktober 2026 | 06:00 WIB

Dorong Mitigasi Bencana Jabar, Iwan Suryawan Minta Kalkulasi Anggaran Realistis dan Nyata

Dorong Mitigasi Bencana Jabar, Iwan Suryawan Minta Kalkulasi Anggaran Realistis dan Nyata

Jabar | Kamis, 01 Oktober 2026 | 00:57 WIB

Bantu UMKM Hadapi Biaya Operasional Membengkak, Toco Academy Bagikan Strategi Pecah Telur di Bogor

Bantu UMKM Hadapi Biaya Operasional Membengkak, Toco Academy Bagikan Strategi Pecah Telur di Bogor

Jabar | Kamis, 01 Oktober 2026 | 00:45 WIB

Mengenal Praktik Bisnis Hijau: Tren Gaya Hidup Berkelanjutan yang Kini Merambah Dunia Industri

Mengenal Praktik Bisnis Hijau: Tren Gaya Hidup Berkelanjutan yang Kini Merambah Dunia Industri

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 23:57 WIB

Kemenko PMK Dorong Penguatan Jejaring Alumni Beasiswa untuk Talenta Nasional

Kemenko PMK Dorong Penguatan Jejaring Alumni Beasiswa untuk Talenta Nasional

News | Rabu, 30 September 2026 | 23:12 WIB

Spin Off InfraCo Tahap 2 Rampung, Nilai Transaksi Rp 49,9 T

Spin Off InfraCo Tahap 2 Rampung, Nilai Transaksi Rp 49,9 T

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 23:01 WIB

Kuliah Hukum di Era Digital, FH Unika Atma Jaya Raih Penghargaan

Kuliah Hukum di Era Digital, FH Unika Atma Jaya Raih Penghargaan

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 23:01 WIB

Kewajiban Sertifikasi Halal Makin Dekat, Industri Kosmetik dan Farmasi Siap Sambut Aturan Baru

Kewajiban Sertifikasi Halal Makin Dekat, Industri Kosmetik dan Farmasi Siap Sambut Aturan Baru

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 22:41 WIB

Ruang Bersama Indonesia Pertama di Palembang, Kilang Plaju Dukung Pemberdayaan Masyarakat

Ruang Bersama Indonesia Pertama di Palembang, Kilang Plaju Dukung Pemberdayaan Masyarakat

Sumsel | Rabu, 30 September 2026 | 22:34 WIB

Peringatan G30S di Medan, Masyarakat Sipil Soroti Pelanggaran HAM-MBG

Peringatan G30S di Medan, Masyarakat Sipil Soroti Pelanggaran HAM-MBG

Sumut | Rabu, 30 September 2026 | 22:20 WIB

×