Namun, upaya tersebut belum cukup untuk mengejar laju kerusakan. Menurut Dr. Hatma, laju kehilangan hutan cenderung lebih cepat dibandingkan proses pemulihannya.
“Laju kehilangan hutan biasanya lebih cepat daripada laju pertumbuhan kembali,” ujarnya.
Selain keterbatasan laju rehabilitasi, kapasitas penanaman yang terbatas juga menjadi persoalan. Upaya pemulihan tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah. Diperlukan keterlibatan sektor swasta dan masyarakat agar pemulihan hutan tidak hanya menjadi program seremonial, tetapi benar-benar berdampak.
Pada akhirnya, konflik antara pembangunan dan pelestarian hutan bukan sekadar soal kebijakan teknis, melainkan pilihan arah pembangunan itu sendiri. Selama hutan terus diposisikan sebagai ruang kosong yang siap dikonversi, maka krisis ekologis akan terus berulang.
Penulis: Natsaha Suhendra