Peneliti Temukan Hubungan Krisis Iklim dan Konflik Bersenjata Lebih Kompleks dari Dugaan

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 14 Mei 2026 | 13:58 WIB
Peneliti Temukan Hubungan Krisis Iklim dan Konflik Bersenjata Lebih Kompleks dari Dugaan
Pohon kekeringan (Pexels/Alejandro Aznar)

Suara.com - Variabilitas iklim global disebut dapat memengaruhi risiko konflik bersenjata dengan cara yang lebih kompleks dan spesifik di tiap wilayah. Temuan ini terungkap dalam studi terbaru dari tim peneliti Rice University yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Penelitian yang dipimpin mahasiswa doktoral statistik Rice University, Tyler Bagwell, bersama ilmuwan iklim Sylvia Dee dan ahli statistik Frederi Viens itu meneliti lebih dari 500 peristiwa konflik bersenjata selama periode 1950–2023.

Dikutip dari Phys.org, studi ini menggunakan data resolusi tinggi yang memetakan konflik secara rinci berdasarkan lokasi geografis dan waktu kejadian. Pendekatan tersebut berbeda dari penelitian sebelumnya yang umumnya memakai data agregat tingkat negara.

Tim peneliti menyusun data melalui analisis manual terhadap berbagai laporan primer guna memastikan ketepatan lokasi setiap konflik yang diteliti.

Penelitian ini berfokus pada pengaruh El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD), dua pola iklim global yang dipicu anomali suhu laut di Samudra Pasifik tropis dan Samudra Hindia.

“Hal yang krusial bagi penelitian kami adalah fakta bahwa fase ekstrem ENSO dan IOD masing-masing dikaitkan dengan dampak iklim lokal yang berbeda, dan sering kali berlawanan,” kata Bagwell.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko konflik bersenjata global cenderung meningkat selama fase El Niño dibandingkan La Niña. Namun, peningkatan itu terutama ditemukan di wilayah yang mengalami kondisi lebih kering akibat pola iklim tersebut.

Sebaliknya, di wilayah yang justru mengalami peningkatan curah hujan saat El Niño, peneliti tidak menemukan hubungan statistik yang kuat dengan peningkatan konflik.

Temuan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap ketersediaan air dan sektor pertanian akibat kekeringan menjadi faktor yang lebih berpengaruh terhadap potensi konflik dibanding sekadar kenaikan suhu global.

baca juga

Selain ENSO, penelitian juga menemukan pengaruh signifikan dari Indian Ocean Dipole (IOD). Baik fase positif maupun negatif IOD disebut dapat meningkatkan risiko konflik di wilayah yang terdampak langsung, seperti Tanduk Afrika dan sebagian Asia Tenggara.

Sylvia Dee menjelaskan bahwa pola IOD bekerja dalam skala waktu yang lebih pendek dan dapat berubah secara cepat, sehingga memicu tekanan iklim mendadak di wilayah rentan.

“Itu pola yang sangat berbeda. Dipole Samudra Hindia beroperasi dalam skala waktu yang lebih pendek dan dapat bergeser dengan cepat, menciptakan ‘hentakan’ iklim yang dapat mengganggu wilayah yang sudah rentan,” ujarnya.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa iklim bukan penyebab langsung konflik bersenjata. Faktor iklim lebih dipandang sebagai “pengganda ancaman” yang meningkatkan probabilitas kekerasan di wilayah dengan kerentanan sosial dan ekonomi.

Karena ENSO dan IOD dapat diprediksi secara musiman, tim peneliti menilai informasi ini dapat dimanfaatkan sebagai sistem peringatan dini bagi pemerintah maupun organisasi kemanusiaan untuk melakukan mitigasi di wilayah rawan.

“Hasil ini menyoroti hubungan penting antara iklim dan konflik,” kata Bagwell.

Ia menambahkan, prediksi kemunculan El Niño pada akhir tahun, termasuk potensi El Niño super menurut sejumlah lembaga meteorologi, membuat temuan tersebut menjadi semakin relevan untuk diantisipasi.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Health | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:52 WIB

Teluk Kendari Keruh Akibat Banjir, Sedimentasi Kian Mengkhawatirkan

Teluk Kendari Keruh Akibat Banjir, Sedimentasi Kian Mengkhawatirkan

Foto | Kamis, 14 Mei 2026 | 07:00 WIB

Waspada Malaria Knowlesi! Penyakit 'Kiriman' Monyet yang Mulai Mengintai Manusia

Waspada Malaria Knowlesi! Penyakit 'Kiriman' Monyet yang Mulai Mengintai Manusia

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 22:05 WIB

Terkini

Gelombang Panas Ekstrem Eropa Tewaskan 1000 Orang di Prancis Mayoritas Lansia

Gelombang Panas Ekstrem Eropa Tewaskan 1000 Orang di Prancis Mayoritas Lansia

News | Senin, 29 Juni 2026 | 07:00 WIB

Internal Politik Israel Panas! Benjamin Netanyahu Ancam Keluar dari Partai Likud

Internal Politik Israel Panas! Benjamin Netanyahu Ancam Keluar dari Partai Likud

News | Senin, 29 Juni 2026 | 05:10 WIB

Polandia Pecahkan Rekor Suhu Tertinggi 40,5C, Gelombang Panas Eropa Bergerak ke Timur

Polandia Pecahkan Rekor Suhu Tertinggi 40,5C, Gelombang Panas Eropa Bergerak ke Timur

News | Senin, 29 Juni 2026 | 02:23 WIB

Italia Siaga Gelombang Panas Ekstrem, Suhu Tembus 40 C Korban Jiwa Berjatuhan

Italia Siaga Gelombang Panas Ekstrem, Suhu Tembus 40 C Korban Jiwa Berjatuhan

News | Senin, 29 Juni 2026 | 02:19 WIB

Gempa Susulan 4,8 M Guncang Venezuela, Korban Tewas Tembus 1400 Jiwa

Gempa Susulan 4,8 M Guncang Venezuela, Korban Tewas Tembus 1400 Jiwa

News | Senin, 29 Juni 2026 | 02:07 WIB

Pakar Manajemen Publik: Ambisi Politik Keluarga Jokowi Berisiko Rusak Kepercayaan Demokrasi

Pakar Manajemen Publik: Ambisi Politik Keluarga Jokowi Berisiko Rusak Kepercayaan Demokrasi

News | Minggu, 28 Juni 2026 | 22:53 WIB

Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India

Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India

News | Minggu, 28 Juni 2026 | 21:54 WIB

Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI, Forum Konferensi Republik Terpaksa Pindah ke Kafe

Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI, Forum Konferensi Republik Terpaksa Pindah ke Kafe

News | Minggu, 28 Juni 2026 | 21:31 WIB

Tim Jibom Polda Papua Musnahkan 2 Granat Nanas Peninggalan Perang Dunia II

Tim Jibom Polda Papua Musnahkan 2 Granat Nanas Peninggalan Perang Dunia II

News | Minggu, 28 Juni 2026 | 21:11 WIB

81 Tahun Menanti, Warga Sipiongot Beri Tradisi Ini ke Bobby Nasution Usai Jalan Tembus Dibangun

81 Tahun Menanti, Warga Sipiongot Beri Tradisi Ini ke Bobby Nasution Usai Jalan Tembus Dibangun

News | Minggu, 28 Juni 2026 | 21:02 WIB

×