Prabowo Diminta Kurangi Pidato Politik demi Jaga Stabilitas Ekonomi dan Redam Kekhawatiran Investor

Vania Rossa, Hiskia Andika Weadcaksana

Rabu, 20 Mei 2026 | 14:26 WIB
Prabowo Diminta Kurangi Pidato Politik demi Jaga Stabilitas Ekonomi dan Redam Kekhawatiran Investor
Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Media Wahyudi Askar. [Suara.com/Hiskia]
baca 10 detik
  • Direktur CELIOS Media Wahyudi Askar mengkritik komunikasi ekonomi Presiden Prabowo yang memicu kekhawatiran investor pada Rabu (20/5/2026).
  • Pemerintah dinilai terlalu mengandalkan pidato politik dibandingkan menggunakan kajian ilmiah dan data riset dalam pengambilan kebijakan ekonomi.
  • Askar menyarankan pemerintah mengevaluasi program strategis serta membatasi komunikasi publik Presiden demi meredam sentimen negatif di pasar.

Suara.com - Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Media Wahyudi Askar, mengkritik komunikasi ekonomi Presiden Prabowo Subianto yang dinilai justru memicu kekhawatiran investor dan pelaku usaha di tengah situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian.

Menurut Askar, pemerintah semestinya fokus membangun mitigasi risiko dan menghadirkan kebijakan berbasis data serta riset. Ia menilai pengambilan kebijakan hari ini terlalu dipengaruhi pidato politik dibandingkan kajian ilmiah dan evidence yang relevan dengan kondisi masyarakat.

"Kalau bicara soal ketidakpastian ekonomi, tidak ada satupun yang bisa kita pastikan apa yang terjadi di masa depan. Tetapi part terbaik yang kita bisa lakukan sebagai sebuah negara, sebagai sebuah entitas yang terus bisa mendorong pengambilan kebijakan yang rasional, adalah membangun mitigasi risiko yang kuat," kata Askar dikutip, Rabu (20/5/2026).

"Salah satunya adalah terus berupaya menciptakan kebijakan yang berbasis evidence, bukan berdasarkan intuisi sentimen emosional pribadi, bukan berdasarkan memori tahun 1970-an," ujarnya.

Disampaikan Askar, pendekatan berbasis evidence justru hilang dari pemerintahan saat ini. Hal itu dilihat dari Kepala Negara yang hampir tidak pernah mengutip hasil studi lembaga riset negara maupun perguruan tinggi dalam merumuskan kebijakan ekonomi.

Ia mengaku jarang mendengar Presiden mengacu pada hasil kajian dari BRIN, Bappenas, maupun kampus-kampus besar dalam pidato resminya. Alih-alih pada penelitian yang ada, kebijakan strategis justru kerap muncul setelah pidato politik Presiden disampaikan.

"Kalau kita lihat semua narasi presiden hari ini, sangat sedikit sekali bahkan saya tidak pernah mendengar presiden itu mensitasi hasil studi dari BRIN, mensitasi hasil studi dari Bappenas, mensitasi hasil studi dari dosen-dosen UGM, UI, ITB, dan lain-lain," tuturnya.

Pola tersebut menjadi persoalan serius dalam tata kelola pemerintahan. Sebab, kata Askar, kebijakan publik semestinya lahir dari proses teknokratis yang matang, bukan sekadar respons spontan dalam pidato.

"Beliau menciptakan kebijakan hanya dengan sebuah pidato politik, gentengisasi, hanya hadir kebijakan setelah beliau pidato coba. Dan hanya di Indonesia yang mungkin itu terjadi," ucapnya.

baca juga

Hal ini diperparah dengan kondisi rupiah yang masih terus melemah terhadap dolar AS.

Oleh sebab itu, Askar meminta pemerintah mengambil langkah tegas untuk mengevaluasi sejumlah program strategis yang dinilai bermasalah. Mulai dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga Koperasi Desa Merah Putih.

"Satu solusinya, hentikan MBG dan Kopdes Merah Putih, moratorium dan redesign ulang program itu," tegasnya.

Sementara untuk meredam sentimen negatif di pasar terhadap rupiah, ia mengusulkan untuk menghentikan sementara komunikasi tentang ekonomi oleh Presiden dalam beberapa bulan ke depan. Termasuk pidato kenegaraan dan lainnya.

"Kedua, untuk 1, 2, 3 bulan ke depan, jauhkan Pak Prabowo dari mikrofon. Silakan tanya ke investor, ke pelaku usaha, pebisnis, mereka khawatir hanya karena sentimen setiap kali Pak Prabowo berpidato," tuturnya.

Menurut dia, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan komunikasi Presiden. Bisa pula berasal dari lemahnya masukan oleh orang-orang terdekat presiden terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Prabowo Sebut Sawit-Batu Bara Bikin Cuan RI

Prabowo Sebut Sawit-Batu Bara Bikin Cuan RI

Bisnis | Rabu, 20 Mei 2026 | 14:16 WIB

Prabowo Merasa Pilu Hati Dengar Kritik Keras PDIP

Prabowo Merasa Pilu Hati Dengar Kritik Keras PDIP

News | Rabu, 20 Mei 2026 | 14:12 WIB

Puan Maharani Senyum-senyum Usai Prabowo Puji dan Terima Kasih ke PDIP di Paripurna

Puan Maharani Senyum-senyum Usai Prabowo Puji dan Terima Kasih ke PDIP di Paripurna

News | Rabu, 20 Mei 2026 | 14:04 WIB

Terkini

Dari Ide Bisnis Turun ke Lapak, Begini Cara Mahasiswa Belajar Menjadi Entrepreneur

Dari Ide Bisnis Turun ke Lapak, Begini Cara Mahasiswa Belajar Menjadi Entrepreneur

Lifestyle | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 22:38 WIB

Bukan Nekat! Emil Audero Bongkar Alasan Berani Ikut Menyerang saat Indonesia Hancurkan Bangladesh

Bukan Nekat! Emil Audero Bongkar Alasan Berani Ikut Menyerang saat Indonesia Hancurkan Bangladesh

Bola | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 22:35 WIB

Studi: Cara Orang Bepergian Kini Makin Personal, Pilihan Moda Transportasi Tak Lagi Seragam

Studi: Cara Orang Bepergian Kini Makin Personal, Pilihan Moda Transportasi Tak Lagi Seragam

Lifestyle | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 22:20 WIB

Persis Solo Tumbang di Manahan, Ricky Nelson: Saya Pribadi Bertanggung Jawab

Persis Solo Tumbang di Manahan, Ricky Nelson: Saya Pribadi Bertanggung Jawab

Surakarta | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 22:20 WIB

Untung Besar dalam Waktu Singkat, OJK Minta Mahasiswa Waspadai Modus Investasi Bodong

Untung Besar dalam Waktu Singkat, OJK Minta Mahasiswa Waspadai Modus Investasi Bodong

Bisnis | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 22:05 WIB

Kirim 63 Duta Muda, Indonesia Siap Bersaing Lawan China dan Singapura di IMSO ke-23

Kirim 63 Duta Muda, Indonesia Siap Bersaing Lawan China dan Singapura di IMSO ke-23

Jabar | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 22:01 WIB

Dukung Malaysia, Artis Ini Kena Serang Netizen Indonesia: Apa Saya Harus Ganti Kewarganegaraan?

Dukung Malaysia, Artis Ini Kena Serang Netizen Indonesia: Apa Saya Harus Ganti Kewarganegaraan?

Entertainment | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Sedang Ibadah Umrah, Pelantikan Irjen Dadang Hartanto Sebagai Kapolda Metro Jaya Ditunda

Sedang Ibadah Umrah, Pelantikan Irjen Dadang Hartanto Sebagai Kapolda Metro Jaya Ditunda

News | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 21:55 WIB

Kapolri Suyudi Tancap Gas, 27 Pejabat Polri Resmi Bergeser Malam Ini

Kapolri Suyudi Tancap Gas, 27 Pejabat Polri Resmi Bergeser Malam Ini

News | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 21:50 WIB

Sambangi Kediaman Kapolri Suyudi, Komisi III DPR Titip Pesan: Benahi Oknum Arogan

Sambangi Kediaman Kapolri Suyudi, Komisi III DPR Titip Pesan: Benahi Oknum Arogan

News | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 21:35 WIB

×