Studi: Bahan Kimia Berbahaya dari Busa Pemadam Kebakaran Bertahan di Lingkungan hingga 33 Tahun

Bimo Aria Fundrika | Suara.com

Senin, 25 Mei 2026 | 12:10 WIB
Studi: Bahan Kimia Berbahaya dari Busa Pemadam Kebakaran Bertahan di Lingkungan hingga 33 Tahun
Ilustrasi petugas pemadam kebakaran (Unsplash/Jay Heike)

Suara.com - Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa kontaminasi Perfluoroalkyl and Polyfluoroalkyl Substances (PFAS) atau yang kerap disebut “bahan kimia abadi” dapat bertahan di lingkungan selama puluhan tahun setelah terjadi satu insiden pencemaran.

Penelitian yang dikutip dari Phys.org meneliti dampak dua kecelakaan truk tangki bahan bakar yang terjadi di kawasan tangkapan air minum Australia, yakni di Medlow Bath, Blue Mountains pada 1992 dan Ourimbah pada 2000.

Dalam kedua peristiwa tersebut, petugas pemadam kebakaran menggunakan busa pemadam api yang mengandung perfluorooktana sulfonat (PFOS), salah satu jenis PFAS yang saat itu banyak digunakan secara global.

Ilustrasi pemadam kebakaran (Pixabay)
Ilustrasi pemadam kebakaran (Pixabay)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontaminasi PFAS dari proses pemadaman kebakaran tersebut tidak terdeteksi selama 24 hingga 33 tahun. Tidak adanya sistem pemantauan khusus membuat pencemaran berlangsung tanpa diketahui hingga akhirnya ditemukan dalam pengujian terbaru.

PFAS merupakan kelompok ribuan bahan kimia sintetis yang banyak digunakan dalam berbagai produk sehari-hari, mulai dari peralatan masak anti lengket, tekstil tahan air, hingga kemasan makanan. Senyawa ini dikenal sangat sulit terurai secara alami sehingga dapat bertahan lama di tanah, air, dan jaringan makhluk hidup.

Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa paparan PFAS dalam jangka panjang dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko sejumlah masalah kesehatan, seperti gangguan kesuburan, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, penyakit hati, obesitas, hingga beberapa jenis kanker.

Mencemari Pasokan Air Minum

Dampak pencemaran tersebut juga ditemukan pada sumber air minum masyarakat. Di kawasan Upper Blue Mountains yang memasok kebutuhan air bagi sekitar 40.000 penduduk, kadar PFOS dalam air minum tercatat mencapai 16,4 nanogram per liter pada Juni 2024.

Angka tersebut melampaui batas aman yang direkomendasikan dalam pedoman setempat dan menyebabkan dua waduk penyimpanan air harus ditutup sementara untuk mencegah risiko paparan lebih lanjut.

Pengujian lanjutan pada Oktober 2025 menemukan kondisi yang lebih mengkhawatirkan. Kadar PFOS di sungai yang terkontaminasi tercatat berada pada kisaran 2.000 hingga 2.400 nanogram per liter atau sekitar 250 hingga 300 kali lebih tinggi dibanding ambang batas aman maksimum yang direkomendasikan, yaitu di bawah 8 nanogram per liter.

Kontaminasi juga ditemukan di kawasan Warisan Dunia UNESCO Blue Mountains. Di sejumlah lokasi, kadar PFAS dilaporkan melebihi ambang batas perlindungan spesies air tawar hingga 100 kali lipat, menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan ekosistem setempat.

Pentingnya Pemantauan Jangka Panjang

Peneliti menyoroti bahwa hingga kini belum ada upaya remediasi atau pembersihan tanah dan sumber air yang terkontaminasi di lokasi tersebut. Kondisi itu menunjukkan bahwa satu insiden pencemaran yang melibatkan PFAS dapat meninggalkan dampak lingkungan dalam jangka waktu yang sangat panjang.

Temuan ini sekaligus menegaskan pentingnya sistem pemantauan kualitas air dan lingkungan yang berkelanjutan, terutama di kawasan sumber air minum. Menurut para peneliti, deteksi dini dapat membantu mencegah pencemaran meluas dan mengurangi risiko kesehatan masyarakat maupun kerusakan ekosistem di masa depan.

Studi tersebut menambah bukti bahwa PFAS merupakan salah satu tantangan lingkungan yang membutuhkan perhatian jangka panjang. Meski penggunaannya telah dibatasi di banyak negara, jejak pencemaran dari masa lalu masih dapat ditemukan puluhan tahun kemudian dan terus memengaruhi kualitas lingkungan serta sumber daya air.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dari Dapur hingga Ladang: Bagaimana Krisis Iklim Memengaruhi Kehidupan Perempuan?

Dari Dapur hingga Ladang: Bagaimana Krisis Iklim Memengaruhi Kehidupan Perempuan?

News | Senin, 25 Mei 2026 | 11:45 WIB

Program CSR Berdampak Positif, Pertamina Trans Kontinental Raih Indonesia Penghargaan Best CSR 2026

Program CSR Berdampak Positif, Pertamina Trans Kontinental Raih Indonesia Penghargaan Best CSR 2026

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 14:39 WIB

Tumbler, Tote Bag, dan Realita: Apakah Gen Z Benar-benar Peduli Lingkungan?

Tumbler, Tote Bag, dan Realita: Apakah Gen Z Benar-benar Peduli Lingkungan?

Your Say | Minggu, 24 Mei 2026 | 09:25 WIB

Terkini

Menguatnya Dukungan Internasional Untuk Proposal Indonesia Tentang Tata Kelola Royalti Digital

Menguatnya Dukungan Internasional Untuk Proposal Indonesia Tentang Tata Kelola Royalti Digital

News | Senin, 25 Mei 2026 | 12:15 WIB

Polri Pastikan Blackout di Sumatera Bukan Sabotase, Ini Penyebab Aslinya

Polri Pastikan Blackout di Sumatera Bukan Sabotase, Ini Penyebab Aslinya

News | Senin, 25 Mei 2026 | 12:02 WIB

Misteri Matematika 80 Tahun Terpecahkan! OpenAI Selesaikan Soal Geometri Paling Sulit di Dunia

Misteri Matematika 80 Tahun Terpecahkan! OpenAI Selesaikan Soal Geometri Paling Sulit di Dunia

News | Senin, 25 Mei 2026 | 12:00 WIB

Dari Dapur hingga Ladang: Bagaimana Krisis Iklim Memengaruhi Kehidupan Perempuan?

Dari Dapur hingga Ladang: Bagaimana Krisis Iklim Memengaruhi Kehidupan Perempuan?

News | Senin, 25 Mei 2026 | 11:45 WIB

Bukan Mistis! Anggota DPR Ungkap Dampak Ngeri Hoaks 'Pocong Begal' bagi Ekonomi Warga

Bukan Mistis! Anggota DPR Ungkap Dampak Ngeri Hoaks 'Pocong Begal' bagi Ekonomi Warga

News | Senin, 25 Mei 2026 | 11:36 WIB

Gelombang Panas Ekstrem di India Tewaskan 16 Orang, Suhu Tembus 45 Derajat

Gelombang Panas Ekstrem di India Tewaskan 16 Orang, Suhu Tembus 45 Derajat

News | Senin, 25 Mei 2026 | 11:04 WIB

Piala Dunia 2026 dan Haji Jadi Jalan Damai AS-Iran? Negosiasi Disebut Hampir Rampung

Piala Dunia 2026 dan Haji Jadi Jalan Damai AS-Iran? Negosiasi Disebut Hampir Rampung

News | Senin, 25 Mei 2026 | 10:49 WIB

Perang AS-Iran 'Libur', Kini Rudal Hipersonik Rusia Hantam Kyiv

Perang AS-Iran 'Libur', Kini Rudal Hipersonik Rusia Hantam Kyiv

News | Senin, 25 Mei 2026 | 09:49 WIB

Senin Pagi Mencekam di Klender: Tawuran Bersenjata Busur Panah Pecah di Tengah Jam Sibuk

Senin Pagi Mencekam di Klender: Tawuran Bersenjata Busur Panah Pecah di Tengah Jam Sibuk

News | Senin, 25 Mei 2026 | 09:46 WIB

Bom Bunuh Diri Guncang Pakistan, Kereta Militer Hancur Tewaskan Lebih dari 20 Orang

Bom Bunuh Diri Guncang Pakistan, Kereta Militer Hancur Tewaskan Lebih dari 20 Orang

News | Senin, 25 Mei 2026 | 09:28 WIB