Mengapa Asap Kebakaran Permukiman Bisa Berbahaya bagi Kesehatan Meski Api Sudah Padam?

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 03 Juni 2026 | 11:21 WIB
Mengapa Asap Kebakaran Permukiman Bisa Berbahaya bagi Kesehatan Meski Api Sudah Padam?
Potret Asap Akibat Kebakaran di Wilayah Pemukiman (Pexels/Socrates Bangun)

Suara.com - Kebakaran masih menjadi ancaman serius di kawasan permukiman Indonesia. Data Pusat Informasi Kriminal Nasional Polri per 22 Mei 2026 menunjukkan, kawasan permukiman menjadi lokasi kebakaran paling dominan dengan persentase mencapai 20,64 persen.

Namun, dampak kebakaran ternyata tidak berhenti pada kerusakan bangunan dan asap yang terlihat di udara. Studi terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Hazardous Materials mengungkap bahwa asap kebakaran di wilayah perkotaan mengandung campuran zat kimia berbahaya yang berpotensi mengancam kesehatan masyarakat.

Penelitian yang dilakukan di Los Angeles pada 2025 menemukan bahwa partikel udara hasil kebakaran mengandung logam beracun, Volatile Organic Compounds (VOC) atau senyawa organik yang mudah menguap, hingga PFAS atau forever chemicals yang sulit terurai di lingkungan.

Asisten Profesor dari Rutgers School of Public Health, José Guillermo Cedeño Laurent, menjelaskan bahwa kebakaran di kawasan permukiman tidak hanya membakar vegetasi. Berbagai material buatan manusia seperti kendaraan, plastik, baterai, kabel listrik, hingga peralatan rumah tangga juga ikut terbakar dan melepaskan senyawa berbahaya ke udara.

“Ketika kawasan permukiman terbakar, yang terbakar bukan hanya pohon atau tanaman, tetapi juga berbagai material sintetis yang menghasilkan polutan kompleks,” ujarnya.

Menurut José, asap kebakaran membawa partikel ultrahalus yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan manusia. Risiko kesehatan tetap dapat muncul meskipun tingkat polusi udara terukur masih berada di bawah ambang batas standar.

Bahaya Tidak Berakhir Saat Api Padam

Meski temuan tersebut memberikan gambaran baru mengenai risiko kebakaran perkotaan, para peneliti menilai masih diperlukan studi lanjutan untuk memahami dampak kesehatan jangka panjang dari paparan berbagai zat tersebut.

“Jika kita ingin memahami risikonya, kita perlu mengetahui komposisi partikelnya, bukan hanya jumlahnya,” kata José.

baca juga

Penelitian juga menemukan bahwa ancaman tidak berhenti setelah api berhasil dipadamkan. Abu sisa kebakaran dapat menyimpan logam berat dan bahan kimia beracun yang berpotensi kembali beterbangan ke udara saat proses pembersihan dilakukan.

“Kebakaran ini meninggalkan warisan kimia,” ujarnya.

Karena itu, para peneliti menilai penanganan kebakaran perlu diperluas tidak hanya pada upaya pemadaman, tetapi juga mencakup pemantauan kualitas udara dan pengelolaan limbah pascakebakaran.

Menurut José, strategi perlindungan masyarakat harus mempertimbangkan jenis material yang terbakar, bukan sekadar mengukur tingkat asap di udara.

“Untuk melindungi masyarakat, kita membutuhkan strategi pemantauan dan pembersihan yang mencerminkan apa yang terbakar, bukan hanya seberapa banyak asap yang terukur,” tutupnya.

Penulis: Natasha Suhendra

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Duka Warga Kebon Kosong: Rumah Hangus, Kini Terancam Digusur dari Lahan Setneg

Duka Warga Kebon Kosong: Rumah Hangus, Kini Terancam Digusur dari Lahan Setneg

News | Rabu, 03 Juni 2026 | 10:33 WIB

Less Waste, More Awareness: Cara Gen Z Melihat Masa Depan Lingkungan

Less Waste, More Awareness: Cara Gen Z Melihat Masa Depan Lingkungan

Your Say | Rabu, 03 Juni 2026 | 10:15 WIB

Prabowo Turun Tangan, Korban Kebakaran Kemayoran Dapat Uang Tunai dan Sembako

Prabowo Turun Tangan, Korban Kebakaran Kemayoran Dapat Uang Tunai dan Sembako

News | Selasa, 02 Juni 2026 | 21:21 WIB

Terkini

Mengapa Karhutla Gambut Berulang? Mengubah Logika Ekonomi Pembakar Lahan

Mengapa Karhutla Gambut Berulang? Mengubah Logika Ekonomi Pembakar Lahan

Your Say | Sabtu, 05 September 2026 | 12:41 WIB

Laptop Galaxy Book6 Ultra Begitu Menggoda: Layar AMOLED 120Hz, RTX 5070, dan Intel Core Ultra

Laptop Galaxy Book6 Ultra Begitu Menggoda: Layar AMOLED 120Hz, RTX 5070, dan Intel Core Ultra

Your Say | Sabtu, 05 September 2026 | 12:30 WIB

Pindah dari iPhone ke Galaxy Z Fold8 Kini Tak Ribet, Data hingga Passkey Bisa Ikut Terbawa

Pindah dari iPhone ke Galaxy Z Fold8 Kini Tak Ribet, Data hingga Passkey Bisa Ikut Terbawa

Tekno | Sabtu, 05 September 2026 | 12:28 WIB

Review Film Bapakmu Kiper: Tarkam sebagai Wajah Kecil Sepak Bola Indonesia

Review Film Bapakmu Kiper: Tarkam sebagai Wajah Kecil Sepak Bola Indonesia

Your Say | Sabtu, 05 September 2026 | 12:20 WIB

Face Scrub untuk Apa? Kenali Bedanya dengan Sabun Cuci Muka Biasa

Face Scrub untuk Apa? Kenali Bedanya dengan Sabun Cuci Muka Biasa

Lifestyle | Sabtu, 05 September 2026 | 12:17 WIB

5 Perbedaan Sunscreen dan Sunblock yang Perlu Diketahui

5 Perbedaan Sunscreen dan Sunblock yang Perlu Diketahui

Lifestyle | Sabtu, 05 September 2026 | 12:13 WIB

Pertamina Bongkar Dugaan Pelanggaran Biosolar di Subang, SPBU Kena Sanksi

Pertamina Bongkar Dugaan Pelanggaran Biosolar di Subang, SPBU Kena Sanksi

Bisnis | Sabtu, 05 September 2026 | 12:05 WIB

Ketika PHK Mengintai, Jangan Sampai Kebijakan Membuat Orang Takut Berusaha

Ketika PHK Mengintai, Jangan Sampai Kebijakan Membuat Orang Takut Berusaha

Your Say | Sabtu, 05 September 2026 | 12:00 WIB

Jelang MotoGP, Kunjungan Wisatawan ke Mandalika Capai 685 Ribu

Jelang MotoGP, Kunjungan Wisatawan ke Mandalika Capai 685 Ribu

Foto | Sabtu, 05 September 2026 | 12:00 WIB

Mengapa Mencongkel Bunga Es dengan Benda Tajam Sangat Berbahaya?

Mengapa Mencongkel Bunga Es dengan Benda Tajam Sangat Berbahaya?

Lifestyle | Sabtu, 05 September 2026 | 11:54 WIB

×