-
Iran menyatakan kesiapan militer penuh guna membalas ancaman serangan fisik dari Amerika Serikat.
-
Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan Donald Trump agar menjaga pernyataan sanksi dan militernya.
-
Eskalasi retorika perang mempersulit perundingan diplomatik kedua negara yang berlangsung di Swiss.
Suara.com - Iran menyatakan kesiapan penuh angkatan bersenjatanya untuk membalas setiap ancaman militer yang dilayangkan oleh Amerika Serikat.
Ketegangan baru ini mencuat di tengah upaya diplomasi kedua negara yang justru diwarnai saling lempar ancaman secara terbuka.
Sudut pandang baru ini menunjukkan kegagalan intimidasi Barat yang selama ini diandalkan untuk menekan posisi tawar Teheran.
![Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memimpin perundingan dengan Amerika Serikat di Pakistan pada Sabtu (11/4/2026). Iran akan membuka Selat Hormuz jika asetnya di Qatar dikembalikan. [X/IRIB News]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/11/45300-mohammad-bagher-ghalibaf.jpg)
Sikap keras tersebut menjadi sinyal bahwa diplomasi di meja perundingan tidak akan berjalan di bawah tekanan senjata.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, langsung melayangkan peringatan keras agar Washington menjaga ucapan mereka di ruang publik.
Ghalibaf menilai gertakan yang dilontarkan Amerika Serikat merupakan cerminan dari rasa frustrasi yang mendalam.
![Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah hasil pemeriksaan kesehatan terbarunya belum juga dipublikasikan kepada publik.[Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/30/92151-donald-trump.jpg)
Menurutnya, jika tekanan yang dilakukan Washington selama ini berhasil, situasi saat ini pasti akan jauh berbeda.
Melalui akun media sosial X miliknya, Ghalibaf menegaskan posisi militer Iran yang sudah dalam kondisi siaga tertinggi.
"Sebaiknya mereka berhati-hati dengan pernyataan mereka. Angkatan bersenjata kita siap merespons dengan cara lain," kata Ghalibaf dalam pernyataan resminya, dikutip dari Xinhua, Senin (22/6/2026).
Pernyataan menantang ini keluar tepat saat Ghalibaf memimpin delegasi Iran dalam dialog krusial bersama pihak Amerika Serikat.
Pertemuan tingkat tinggi tersebut berlangsung di resor mewah Buergenstock yang terletak di wilayah Swiss bagian tengah.
Suasana diplomasi mendadak keruh setelah Presiden AS Donald Trump merilis pernyataan provokatif melalui platform Truth Social.
Trump mengancam akan meluncurkan serangan militer yang sangat masif ke wilayah Iran dalam waktu dekat.
Kemarahan Washington dipicu oleh tuduhan bahwa Iran terus menyokong pergerakan kelompok Hezbollah di Timur Tengah.
"Pukul Iran dengan sangat keras lagi" tulis Trump jika Teheran tidak segera menghentikan kelompok tersebut untuk menyebarkan kekacauan.
Konflik antara kedua negara ini memiliki akar sejarah panjang yang terus berulang dalam dekade terakhir.
Hubungan diplomatik terus memburuk sejak AS secara sepihak keluar dari perjanjian nuklir dan menjatuhkan sanksi ekonomi berlapis.
Dukungan Teheran terhadap jaringan poros perlawanan di regional regional selalu menjadi pemicu utama konfrontasi bersenjata dengan Washington.