Mengapa Tekan Emisi Saja Tidak Akan Cukup Selesaikan Krisis Lingkungan? Studi Ungkap Caranya

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 26 Juni 2026 | 13:47 WIB
Mengapa Tekan Emisi Saja Tidak Akan Cukup Selesaikan Krisis Lingkungan? Studi Ungkap Caranya
Potret Penggunaan Renewable Energy (Pexels/Quang Nguyen Vinh)

Suara.com - Selama bertahun-tahun, perubahan iklim ditempatkan sebagai masalah lingkungan paling mendesak yang harus segera diselesaikan. Pemerintah menyusun target net zero, industri berlomba menurunkan emisi, dan berbagai inovasi hijau lahir dengan tujuan yang sama: menekan pemanasan global.

Tetapi sebuah penelitian terbaru mengingatkan bahwa cara melihat krisis lingkungan seperti itu bisa terlalu sempit.

Studi yang dipublikasikan di jurnal iScience menilai bahwa dunia cenderung menangani persoalan lingkungan secara terpisah-pisah. Akibatnya, solusi untuk satu masalah berisiko menciptakan atau memperburuk masalah lain.

Peneliti mengingatkan bahwa selain perubahan iklim, dunia juga sedang menghadapi berbagai tekanan lingkungan lain secara bersamaan—mulai dari hilangnya keanekaragaman hayati, pencemaran bahan kimia, degradasi lahan, krisis air, hingga polusi nitrogen yang memengaruhi kesehatan ekosistem.

Salah satu penulis studi, Melissa Wang, mengatakan pendekatan lingkungan saat ini masih terlalu sering dibangun dalam “silo”, di mana setiap masalah ditangani sendiri-sendiri.

Menurut dia, pola seperti itu membuat intervensi yang dilakukan tidak selalu menyelesaikan akar persoalan.

Dalam studi berjudul Beyond Silos: An Integrated Sustainability Hierarchy Framework, para peneliti kemudian menawarkan pendekatan baru yang mereka sebut sebagai kerangka keberlanjutan terintegrasi. Alih-alih fokus membersihkan dampak setelah kerusakan terjadi, mereka mengusulkan agar kebijakan lingkungan disusun berdasarkan urutan prioritas yang lebih mendasar. 

Langkah pertama adalah mencegah dan mengurangi penggunaan sumber daya yang tidak berkelanjutan sejak awal. Peneliti mencontohkan konsumsi bahan bakar fosil, eksploitasi mineral, penangkapan ikan berlebih, hingga pembukaan hutan untuk produksi skala besar sebagai aktivitas yang perlu ditekan terlebih dahulu. 

Setelah itu, prioritas berikutnya adalah memperpanjang masa pakai dan menggunakan kembali sumber daya yang sudah diambil dari alam. Tahap berikutnya adalah mengganti sumber daya yang menimbulkan dampak tinggi dengan alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan, termasuk energi terbarukan.

baca juga

Baru setelah tiga langkah tersebut dilakukan, strategi seperti daur ulang, regenerasi sumber daya, dan pemulihan lingkungan ditempatkan sebagai tahapan lanjutan.

Pesan utama dari kerangka ini cukup sederhana: membersihkan kerusakan tetap penting, tetapi tidak cukup jika sumber kerusakannya terus berlangsung.

Cara berpikir tersebut juga digunakan peneliti untuk mengkritik penanganan polusi plastik.

Penulis studi lainnya, Fredric Bauer, menilai kebijakan saat ini terlalu banyak mengalokasikan dana untuk membersihkan sampah setelah mencemari lingkungan.

Menurutnya, sekitar 88 persen pendanaan penanganan polusi plastik masih diarahkan ke intervensi hilir dibanding menghentikan pencemaran sejak awal. 

Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif Society of Native Nations, Frankie Orona. Ia menilai perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi plastik memiliki akar persoalan yang sama, yakni pola ekstraksi dan produksi yang tidak berkelanjutan. 

Temuan ini tidak menyatakan bahwa pengurangan emisi karbon tidak penting. Namun, studi tersebut mengusulkan perubahan sudut pandang: keberlanjutan tidak cukup dicapai dengan menghitung berapa banyak karbon yang berhasil ditekan, melainkan juga dengan mempertanyakan berapa banyak sumber daya yang terus diambil dan seberapa besar tekanan yang terus diberikan pada alam.

Penulis: Natasha Suhendra

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bukan Hanya Emisi Kendaraan: Penelitian Baru Ungkap Jalur Lain Pembentukan Polusi Udara

Bukan Hanya Emisi Kendaraan: Penelitian Baru Ungkap Jalur Lain Pembentukan Polusi Udara

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 11:15 WIB

Benarkah Perubahan Iklim Picu Migrasi Besar-besaran? Riset Ungkap Jawabannya Kompleks

Benarkah Perubahan Iklim Picu Migrasi Besar-besaran? Riset Ungkap Jawabannya Kompleks

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 10:55 WIB

Desain Kawasan Suburban Dinilai Perparah Emisi, Mengapa?

Desain Kawasan Suburban Dinilai Perparah Emisi, Mengapa?

News | Selasa, 23 Juni 2026 | 12:11 WIB

Terkini

Ogah Cari-cari Alasan Usai Kalah, Pelatih Thailand: Selamat Timnas Indonesia

Ogah Cari-cari Alasan Usai Kalah, Pelatih Thailand: Selamat Timnas Indonesia

Bola | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:32 WIB

Hari Ini RUU Perampasan Aset Bakal Disahkan Jadi Inisiatif DPR

Hari Ini RUU Perampasan Aset Bakal Disahkan Jadi Inisiatif DPR

News | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:32 WIB

Review Novel Potrait: Ketika Pernikahan Menjadi Luka Baru

Review Novel Potrait: Ketika Pernikahan Menjadi Luka Baru

Your Say | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:30 WIB

Belajar Tidak Menilai Seseorang dari Ekspresinya Lewat Buku Frog Face

Belajar Tidak Menilai Seseorang dari Ekspresinya Lewat Buku Frog Face

Your Say | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:30 WIB

Update RUU Perampasan Aset, Komisi III Sudah 62 Kali Serap Aspirasi Publik

Update RUU Perampasan Aset, Komisi III Sudah 62 Kali Serap Aspirasi Publik

News | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:26 WIB

Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, John Herdman: Saudara Saya Meninggal Dunia

Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, John Herdman: Saudara Saya Meninggal Dunia

Bola | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:24 WIB

Koperasi Desa Merah Putih: Mau Jadi Apa Sebenarnya?

Koperasi Desa Merah Putih: Mau Jadi Apa Sebenarnya?

Your Say | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:22 WIB

Penumpang Melonjak, KAI Percepat Integrasi Stasiun Karet-Sudirman Baru

Penumpang Melonjak, KAI Percepat Integrasi Stasiun Karet-Sudirman Baru

News | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:18 WIB

Elkan Baggott: Timnas Indonesia King ASEAN!

Elkan Baggott: Timnas Indonesia King ASEAN!

Bola | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:16 WIB

Bikin Film Animasi Butuh 300 Juta Jam Komputasi, Lenovo Ungkap Teknologi di Balik DreamWorks

Bikin Film Animasi Butuh 300 Juta Jam Komputasi, Lenovo Ungkap Teknologi di Balik DreamWorks

Tekno | Selasa, 06 Oktober 2026 | 10:15 WIB

×