Desain Kawasan Suburban Dinilai Perparah Emisi, Mengapa?

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 23 Juni 2026 | 12:11 WIB
Desain Kawasan Suburban Dinilai Perparah Emisi, Mengapa?
Potret Wilayah Suburban (Pexels/Altaf Shah)

Suara.com - Wilayah pinggiran kota atau suburban saat ini menjadi pilihan banyak masyarakat perkotaan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 60,7 persen penduduk Indonesia tinggal di kawasan perkotaan. Namun, meningkatnya harga lahan dan hunian di pusat kota mendorong banyak orang mencari tempat tinggal yang lebih terjangkau di wilayah pinggiran.

Di satu sisi, kawasan suburban menawarkan hunian yang lebih luas dengan harga relatif lebih rendah. Namun di sisi lain, pola permukiman ini ternyata menyimpan dampak lingkungan yang tidak kecil.

Desain kawasan suburban berkontribusi pada emisi

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Sustainability berjudul “Neighbourhood Design and the Environmental and Social Costs of Suburbanization” menunjukkan bahwa dampak lingkungan kawasan suburban tidak hanya dipengaruhi oleh jarak ke pusat kota, tetapi juga oleh desain kawasan itu sendiri.

Penelitian yang dilakukan oleh asisten profesor perencanaan kota dan ilmu data di Yale School of the Environment, Arianna Salazar-Miranda, menganalisis lebih dari 60.000 lingkungan permukiman di Amerika Serikat.

Studi ini berfokus pada konsep Garden City Design (GCD), yaitu model perencanaan kawasan suburban yang banyak berkembang setelah Perang Dunia II. Ciri utamanya adalah jalan berkelok, banyak jalan buntu, serta jaringan jalan yang tidak saling terhubung secara langsung.

Menurut Arianna, selama ini perhatian terhadap dampak suburbanisasi lebih banyak tertuju pada jarak ke pusat kota. Padahal, desain lingkungan juga memiliki kontribusi besar terhadap dampak sosial dan lingkungan.

“Saat ini, pembicaraan hampir seluruhnya tentang jarak ke pusat kota, dan itu penting, tetapi bagian penting dan yang sering diabaikan dari biaya tersebut berasal dari bagaimana lingkungan perumahan dirancang. Jalan-jalan yang berkelok-kelok dan jalan buntu mengubah perjalanan singkat dan langsung untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, menjalankan tugas, dan rekreasi menjadi perjalanan yang lebih panjang,” ujarnya.

Emisi lebih tinggi dan dampak sosial

baca juga

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kawasan dengan tingkat GCD yang tinggi menghasilkan emisi gas rumah kaca lebih besar, tingkat isolasi sosial lebih tinggi, serta gaya hidup yang lebih sedentari atau minim aktivitas fisik.

Temuan lain menyebutkan bahwa desain kawasan tersebut dapat menambah sekitar 0,26 metrik ton emisi gas rumah kaca per orang per tahun.

Dengan demikian, persoalan suburbanisasi tidak hanya soal lokasi yang jauh dari pusat kota, tetapi juga bagaimana kawasan tersebut dirancang.

Peluang perbaikan desain kota

Arianna menilai dampak tersebut sebenarnya masih bisa dikurangi melalui perencanaan kota yang lebih baik. Kawasan pinggiran yang sudah ada maupun yang sedang dikembangkan dinilai memiliki peluang untuk dirancang ulang agar lebih ramah lingkungan dan mendukung mobilitas berkelanjutan.

“Kita dapat meningkatkan hasil di daerah pinggiran kota yang sudah ada dan untuk daerah pinggiran kota baru yang sedang dibangun saat ini. Kita tidak perlu mengulangi kesalahan desain abad ke-20,” katanya.

Penulis: Natasha Suhendra

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Studi: Pemanasan Global Berpotensi Memicu Pelepasan Metana Lebih Besar dari Ekosistem Alami

Studi: Pemanasan Global Berpotensi Memicu Pelepasan Metana Lebih Besar dari Ekosistem Alami

News | Rabu, 17 Juni 2026 | 10:42 WIB

Konsentrasi Karbon Dioksida di Atmosfer embali Cetak Rekor: Apa Artinya bagi Indonesia?

Konsentrasi Karbon Dioksida di Atmosfer embali Cetak Rekor: Apa Artinya bagi Indonesia?

News | Selasa, 16 Juni 2026 | 11:15 WIB

Emisi Tersembunyi di Dapur: Mengapa Sampah Makanan Lebih Berbahaya dari Karbon Dioksida?

Emisi Tersembunyi di Dapur: Mengapa Sampah Makanan Lebih Berbahaya dari Karbon Dioksida?

Your Say | Senin, 15 Juni 2026 | 17:36 WIB

Terkini

Gunung Karangetang Erupsi, Lontarkan Material Bikin Langit Siau Membara

Gunung Karangetang Erupsi, Lontarkan Material Bikin Langit Siau Membara

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 22:45 WIB

Tragedi Pantura Indramayu, Korban Tewas Kecelakaan Beruntun Bertambah Jadi 10 Orang

Tragedi Pantura Indramayu, Korban Tewas Kecelakaan Beruntun Bertambah Jadi 10 Orang

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 21:50 WIB

Pikap Warkidi Dihantam Truk di Pantura Indramayu: 3 Penumpang Tewas, Belasan Orang Luka-Luka

Pikap Warkidi Dihantam Truk di Pantura Indramayu: 3 Penumpang Tewas, Belasan Orang Luka-Luka

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 21:25 WIB

Prabowo Kritik Teori Neolib: Katanya Kakayaan Menetes ke Bawah, Kalian Percaya?

Prabowo Kritik Teori Neolib: Katanya Kakayaan Menetes ke Bawah, Kalian Percaya?

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 20:25 WIB

Ketua Umum FKDT Apresiasi Langkah Presiden Redakan Polemik Kasus Febrie Adriansyah

Ketua Umum FKDT Apresiasi Langkah Presiden Redakan Polemik Kasus Febrie Adriansyah

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 20:23 WIB

Kebakaran Maut di Pulogadung, 3 Orang Tewas Saat Tidur Lelap

Kebakaran Maut di Pulogadung, 3 Orang Tewas Saat Tidur Lelap

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 19:55 WIB

Prabowo Kecam Pemimpin Provokator Ajak Bakar-bakar: Saya Percaya Hukum Karma

Prabowo Kecam Pemimpin Provokator Ajak Bakar-bakar: Saya Percaya Hukum Karma

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 19:50 WIB

Amnesty Kritik Pemekaran Papua: Negara Hanya Dengar Mereka yang Setuju Saja

Amnesty Kritik Pemekaran Papua: Negara Hanya Dengar Mereka yang Setuju Saja

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 19:39 WIB

Bukan Cuma Peluru, Pengungsi Papua Terancam Putus Sekolah dan Minim Medis

Bukan Cuma Peluru, Pengungsi Papua Terancam Putus Sekolah dan Minim Medis

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 19:32 WIB

Sebut Tanggung Jawab Wapres, Bambang Pacul Dinilai 'Main-main' dengan Isu Papua

Sebut Tanggung Jawab Wapres, Bambang Pacul Dinilai 'Main-main' dengan Isu Papua

News | Minggu, 12 Juli 2026 | 19:24 WIB

×