-
PBB mengantisipasi potensi sepuluh ribu korban jiwa dengan menyiapkan ribuan kantong jenazah di Venezuela.
-
Cuaca buruk berupa gelombang tropis mengancam keselamatan ribuan warga terdampak yang kehilangan tempat tinggal.
-
Pemimpin oposisi menuduh pemerintah menghalangi kepulangannya ke Venezuela untuk membantu koordinasi darurat bencana.
Suara.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengantisipasi lonjakan masif angka kematian akibat bencana gempa bumi kembar yang mengguncang Venezuela. Koordinasi bantuan internasional kini berpacu dengan waktu sebelum cuaca buruk memperparah penderitaan para pengungsi.
Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Venezuela, Gianluca Rampolla Del Tindaro, menegaskan situasi di lapangan masih sangat dinamis. Merujuk pada data awal sebanyak 1.450 korban jiwa, ia memproyeksikan skala dampak fatalitas akan terus meluas.
Gianluca Rampolla Del Tindaro meyakini bahwa jumlah orang yang tewas akan terus bertambah. Evaluasi berkala terus dilakukan seiring proses evakuasi yang berjalan di bawah reruntuhan.

Sebagai langkah mitigasi situasi terburuk, badan dunia tersebut kini menyiapkan sepuluh ribu kantong jenazah logistik bantuan. Langkah taktis ini diambil agar otoritas lokal tidak kewalahan menangani pemulasaran korban.
“Saya sungguh berharap jumlahnya akan lebih kecil dari itu,” ujar Tindaro menyampaikan harapannya terhadap situasi riil masa depan, dikutip dari Skynews, Selasa (30/6/2026).
Saat ini Pemerintah Venezuela memegang kendali penuh dalam memimpin operasi kemanusiaan skala besar di wilayah terdampak. Sinergi antarlembaga terus diperkuat guna memastikan distribusi logistik menyentuh titik-titik terisolasi.
Dampak fisik akibat gempa kembar tersebut telah melumpuhkan infrastruktur pemukiman warga secara signifikan. Sedikitnya terdapat 2.500 bangunan yang mengalami kerusakan parah, di mana sebagian besar di antaranya telah rata dengan tanah.
Tantangan bagi para penyintas dipastikan semakin berat menyusul adanya peringatan dini meteorologi teranyar. Sebuah gelombang tropis diprediksi segera melintasi langit Venezuela dalam beberapa jam ke depan.
Fenomena atmosfer tersebut berpotensi membawa curah hujan tinggi yang dapat memicu bencana ikutan baru di lokasi pengungsian. Kondisi ini dipastikan menyulitkan pergerakan warga yang kehilangan tempat tinggal.