- Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengimbau siswa membaca komposisi dan tanggal kadaluarsa pangan sejak dini.
- Imbauan tersebut disampaikan saat acara bersama BPOM di Jakarta pada Senin, 28 Juni 2026 sebagai gerakan SAPA.
- Edukasi ini bertujuan membangun sikap kritis siswa serta menjamin kesehatan generasi masa depan melalui konsumsi pangan aman.
Suara.com - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah atau Mendikdasmen Abdul Mu'ti mengimbau para pendidik di sekolah untuk berikan edukasi kepada siswa soal kesadaran dalam membeli produk pangan. Salah satunya dengan membiasakan anak membaca komposisi dan tanggal kadaluarsa pada kemasan pangan sebelum membelinya.
Usulan itu disampaikan Mu'ti sebagai implementasi dari gerakan Gebyar Sadar Pangan Aman (SAPA) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
"Tentu kita membangun kesadaran ketika mereka membeli produk-produk makanan, itu juga harus membiasakan diri melihat ingredient-nya juga melihat tanggal kaduarsanya. Sehingga mungkin nanti penerjemahan program ini tentu perlu sampai kepada aspek-aspek detail seperti itu," kata Mu'ti dalam acara Pembudayaan Keamanan Pangan di Sekolah bersama BPOM di Jakarta, Senin (28/6/2026).
Mu'ti mengatakan, kebiasaan membaca informasi pada kemasan pangan perlu ditanamkan sejak dini agar menjadi bagian dari sikap kritis siswa dalam kehidupan sehari-hari.
"Biasakan ketika membeli sesuatu melihat tanggal kadaluarsanya. Kemudian melihat kandungannya apa saja dan seterusnya. Yang itu juga menjadi bagian dari upaya kita membangun tanggung jawab sosial dan sikap kritis," ujarnya.
Selain itu, ia menilai edukasi keamanan pangan tidak hanya sebatas mengajarkan siswa memilih produk yang aman, tetapi juga membangun kesadaran untuk menerapkan pola konsumsi yang sehat.
Sementara itu, Kepala BPOM Taruna Ikrar mengajak seluruh pihak menjadikan persoalan keamanan pangan sebagai solusi nyata melalui edukasi, perubahan perilaku, dan kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, keamanan pangan masih menjadi tantangan besar di Indonesia.
Ia mengatakan, pangan yang aman tidak hanya berfungsi mencegah penyakit, tetapi juga menjadi fondasi lahirnya generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.
Berdasarkan data World Health Organization (WHO), satu dari 10 penduduk dunia jatuh sakit akibat pangan yang terkontaminasi. Bahkan, sekitar 420 ribu orang meninggal setiap tahun akibat persoalan tersebut.
Sementara di Indonesia, diperkirakan terdapat 10 juta hingga 22 juta kasus diare setiap tahun akibat konsumsi pangan yang tidak aman. Kondisi itu menimbulkan beban ekonomi yang diperkirakan mencapai Rp64,8 triliun hingga Rp226,3 triliun.
"Sekolah merupakan lingkungan strategis dalam membentuk kebiasaan konsumsi pangan yang aman dan bergizi. Dalam masa bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045, kita perlu memastikan setiap anak memperoleh pangan yang aman dikonsumsi dan bergizi," kata.