-
Enam siswa Tawjihi Palestina ditangkap militer Israel menjelang pelaksanaan ujian nasional sekolah menengah.
-
Kebijakan penahanan ini dinilai sebagai upaya sistematis menghancurkan hak pendidikan generasi muda Palestina.
-
Total pelajar Tawjihi yang ditahan Israel kini melonjak hingga mencapai 71 orang.
Suara.com - Pasukan militer Israel semakin gencar membidik para pelajar Palestina yang hendak mengikuti ujian nasional sekolah menengah (Tawjihi). Strategi represif ini dinilai sebagai upaya sistematis untuk merampas hak pendidikan generasi muda di wilayah pendudukan.
Masyarakat Tahanan Palestina (PPS) melaporkan penahanan terbaru menyasar 2 pelajar, sehingga total siswa yang diringkus belakangan ini mencapai 6 orang. Penangkapan ini memperpanjang daftar panjang intimidasi terhadap sektor pendidikan Palestina.
Salah satu korban adalah Diaa Abdel Fattah Jawabra yang baru menginjak usia 18 tahun. Pemuda asal kamp pengungsi Al-Arroub ini dijemput paksa oleh pasukan zionis pada Rabu dini hari.
![Ilustrasi tentara Israel di Gaza. [Ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/05/24/17793-ilustrasi-tentara-israel-di-gaza-ist.jpg)
Serbuan brutal tersebut tidak hanya menyasar Diaa, tetapi juga menghancurkan harta benda keluarganya. Perlakuan kasar dan kekerasan fisik turut dialami oleh anggota keluarga yang berada di dalam rumah.
Korban lainnya adalah Amr Osama Rabay'a yang juga berusia 18 tahun dari wilayah Jenin. Rumah keluarganya diserbu secara mendadak sebelum dirinya dibawa pergi oleh aparat keamanan Israel.
Langkah agresif yang terus berulang ini memicu kecaman keras dari berbagai lembaga kemsiaan. Tindakan ini dipandang bukan sekadar penegakan hukum biasa, melainkan bagian dari agenda politik yang lebih besar.
Menurut PPS, penargetan berkelanjutan terhadap siswa Tawjihi mencerminkan kebijakan sistematis yang bertujuan untuk menghilangkan hak para siswa Palestina atas pendidikan sekaligus mencegah mereka menyelesaikan studinya.
Data resmi dari Kementerian Pendidikan dan Pendidikan Tinggi Palestina menunjukkan skala penangkapan yang masif. Sebelum rangkaian ujian dimulai, sebanyak 65 pelajar dilaporkan telah berada di dalam sel tahanan Israel.
Kini, dengan tambahan enam orang yang ditangkap belakangan, jumlah total siswa Tawjihi yang mendekam di penjara membengkak menjadi 71 orang. Angka ini mencerminkan situasi darurat bagi masa depan pelajar di sana.
Situasi di wilayah pendudukan semakin memburuk sejak konflik bersenjata pecah di Jalur Gaza. Tekanan militer tidak hanya menyasar kelompok perlawanan, tetapi merembet ke seluruh elemen masyarakat sipil.
PPS mengatakan kampanye penangkapan besar-besaran di seluruh Tepi Barat yang diduduki, yang meningkat sejak awal perang Gaza, terus menargetkan semua kalangan masyarakat Palestina, khususnya siswa.
Sebagai informasi, ujian Tawjihi merupakan momentum krusial bagi masa depan akademik remaja Palestina untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Gangguan sistematis ini secara langsung memutus rantai regenerasi kaum terpelajar di Palestina.