- IHSG ditutup melemah 0,12 persen ke level 6.401 pada pekan ketiga Agustus 2026 akibat sentimen pelemahan nilai tukar Rupiah.
- BNI Sekuritas mencatat investor asing melakukan aksi beli terbesar pada saham BBRI senilai Rp719 miliar dan jual terbesar pada saham BMRI sebesar Rp821 miliar.
- BNI Sekuritas memproyeksikan laju IHSG bergerak sideways serta merekomendasikan strategi spekulasi beli pada enam saham pilihan seperti TPIA dan ANTM.
Suara.com - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ketiga bulan Agustus 2026 mengindikasikan adanya fase konsolidasi yang patut dicermati dengan saksama oleh para pelaku pasar modal.
Menurut riset BNI Sekuritas pada tanggal 18 Agustus 2026, indeks komposit terpantau masih dibayangi oleh sentimen pelemahan nilai tukar serta volume transaksi perdagangan yang belum cukup solid untuk mendorong reli lanjutan.
Analisis pergerakan pasar saham domestik memperlihatkan bahwa IHSG pada pekan lalu harus ditutup melemah sebesar 0,12 persen secara mingguan (week on week/WoW) menuju ke level 6.401.
Pelemahan ini memiliki korelasi yang sangat kuat dengan pergerakan indikator Relative Strength Index (RSI) yang cenderung mendatar atau sideways.
Di samping itu, penurunan indeks bursa ini juga diiringi oleh penyusutan volume perdagangan pasar yang tergolong lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata likuiditas transaksi pada dua minggu yang lalu, mengindikasikan sikap wait and see dari mayoritas investor.
Kondisi pasar saham ini turut diwarnai oleh dinamika indikator makroekonomi, di mana nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (US$) tercatat berada pada posisi Rp17.813, yang mencerminkan adanya perubahan depresiasi sebesar 0,67 secara mingguan.
Pada instrumen pendapatan tetap, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun (GOI 10Yr Bond Yield) terpantau berada di level 7,062, setelah mengalami penurunan sebesar 23 basis poin secara mingguan.
Menghadapi dinamika bursa yang penuh kehati-hatian tersebut, Kevin J. Hutabarat selaku analis perwakilan dari BNI Sekuritas memproyeksikan bahwa laju IHSG pada pekan ini masih akan tertahan pada pergerakan sideways dengan kecenderungan arah yang melemah.
"Pergerakan indeks diproyeksikan akan menguji area support pertama di level 6.363 serta batas support kedua yang berada lebih dalam di level 6.039. Apabila indeks mampu merespons sentimen positif dan berbalik arah, maka target resistensi (resistance) terdekat berada di posisi 6.557, yang selanjutnya disusul oleh resistensi kedua di level 6.838," demikian Kevin dalam analisisnya.
Di tengah pergerakan indeks yang terkonsolidasi tersebut, arus perputaran modal asing (foreign flow) tetap memperlihatkan aktivitas pencatatan yang sangat dinamis pada sejumlah saham berkapitalisasi raksasa.
Minat akumulasi beli oleh investor asing terpantau sangat masif pada saham emiten perbankan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang sukses mencatatkan rekor top foreign buy dengan total nilai transaksi mencapai Rp719 miliar.
Menyusul capaian tersebut, saham emiten TINS dan BREN juga turut menjadi primadona dan diakumulasi oleh pemodal asing masing-masing senilai Rp244 miliar dan Rp163 miliar. Sementara itu, saham ANTM serta BBCA melengkapi radar beli asing dengan raihan capaian transaksi sebesar Rp148 miliar dan Rp126 miliar.
Pada sisi sebaliknya, aksi jual bersih atau net sell oleh investor asing memberikan tekanan depresiasi yang nyata pada sejumlah saham blue chip lainnya.
Berdasarkan rekapitulasi data mingguan, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menduduki peringkat teratas sebagai sasaran jual investor asing dengan nilai pelepasan yang tergolong masif, yakni mencapai Rp821 miliar.
Aksi pelepasan portofolio kepemilikan asing ini juga turut menimpa pergerakan saham TPIA dengan nilai sebesar Rp409 miliar, yang kemudian disusul oleh pelepasan saham ASII senilai Rp264 miliar, TLKM sebesar Rp247 miliar, serta saham UNTR yang dilepas dengan nilai transaksi Rp101 miliar.