-
Pertahanan udara AS gagal membendung rudal Iran, membahayakan 50.000 personel militer di Timur Tengah.
-
Serangan Iran di Pangkalan Yordania menewaskan prajurit AS dan melukai puluhan tentara lainnya.
-
Gencatan senjata resmi batal setelah AS dan Iran kembali terlibat aksi saling serang.
Suara.com - Sistem pertahanan udara Amerika Serikat terbukti gagal membendung gempuran rudal balistik dan armada drone canggih milik militer Iran.
Kegagalan perisai udara ini menempatkan sekitar 50.000 prajurit AS di kawasan Timur Tengah dalam kondisi bahaya tinggi.
Tragedi melanda Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania setelah tiga rudal Iran menghancurkan barak prefabrikasi personel militer.

Serangan presisi tersebut meluluhlantakkan fasilitas penampungan prajurit hingga memicu jatuhnya korban jiwa di pihak Washington.
Laporan The Wall Street Journal mengonfirmasi penetrasi rudal Iran yang melumpuhkan sistem penangkal serangan udara di pangkalan tersebut.
Insiden mematikan di Yordania ini menjadi bukti nyata kerapuhan perlindungan pangkalan militer AS dari ancaman Teheran.
Petugas penanganan darurat bahkan menemukan jasad tambahan di area pangkalan yang hingga kini identitasnya masih diidentifikasi.
Pihak Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi dua prajurit tewas dan satu personel hilang akibat gempuran tersebut.
Rangkaian ledakan di Yordania merupakan bagian dari gelombang tiga serangan rudal masif yang terjadi dalam waktu singkat.
Dampak serangan balasan Iran meluas hingga mengakibatkan ratusan tentara AS mengalami luka-luka di berbagai pangkalan militer.
Kondisi medis prajurit yang terluka dikonfirmasi oleh laporan Pentagon sebagaimana dirilis oleh saluran berita CBS News.
Ketegangan bersenjata ini menghancurkan nota kesepahaman damai yang sempat disepakati kedua negara pada pertengahan Juni lalu.
Aksi saling serang kembali berkobar setelah militer AS menggempur wilayah Iran dengan dalih mengamankan jalur kapal komersial.
Teheran merespons tindakan Washington di Selat Hormuz dengan meluncurkan serangan balasan ke berbagai pangkalan strategis Amerika.
Pemerintah Iran tegas menuduh pihak Amerika Serikat melanggar kesepakatan penghentian permusuhan yang telah ditandatangani bersama.
Eskalasi pertempuran mencapai puncaknya saat Presiden AS Donald Trump secara resmi mencabut status gencatan senjata kedua negara.
Pernyataan tegas tersebut menandai berakhirnya diplomasi dan dimulainya kembali fase perang terbuka di kawasan Timur Tengah.
Konflik bersenjata antara Washington dan Teheran ini sejatinya telah berhembus sejak akhir Februari lalu sebelum sempat mereda.
Ketidakmampuan menghalau persenjataan Iran kini menjadi ancaman serius bagi kelangsungan operasi militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.