- Delapan bandara ditutup sementara dan ribuan penerbangan terganggu akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
- Mesin pesawat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta ditutup khusus guna mencegah masuknya abu vulkanik tajam.
- Partikel silikat abu vulkanik mengancam keselamatan penerbangan karena dapat mengikis dan mematikan mesin pesawat.
Suara.com - Delapan bandara ditutup sementara imbas erupsi Gunung Anak Krakatau. Ribuan penerbangan mengalami gangguan. Sebaran abu vulkanik dari Selat Sunda tersebut merambah hingga ke kota-kota sekitar.
Selama penutupan sementara diberlakukan, mesin pesawat-pesawat yang terparkir di apron Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, ikut ditutup.
Penutupan mesin pesawat dengan bahan khusus dilakukan sebagai upaya mencegah abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang mengguyur Bandara Internasional Soekarno-Hatta merambah masuk ke dalam turbin.
Bukan tanpa sebab. Penutupan mesin tidak sekadar mencegah bagian pesawat berdebu, melainkan untuk menghindari bahaya abu vulkanik bagi mesin pesawat.
Abu Vulkanik Bukan Debu Biasa
Abu vulkanik bukan seperti debu jalanan biasa. Selain membuat sesak napas dan berbahaya bagi kesehatan manusia, faktanya abu vulkanik juga menjadi ancaman serius bagi mesin pesawat.
Partikel abu vulkanik mengandung silikat berkaca yang sangat tajam. Ukurannya yang superkecil membuat partikel mudah terbawa angin hingga masuk ke jalur lintasan pesawat.
Partikel yang sangat tajam tersebut berbahaya bila masuk ke dalam mesin pesawat. Mesin bisa terkikis oleh partikel abu vulkanik.
Bisa Bikin Mesin Mati
Mesin pesawat bisa mati jika abu vulkanik terhisap ke dalam mesin saat pesawat tengah dalam penerbangan. Turbin pesawat yang panas dapat mencairkan partikel abu vulkanik dan kemudian membeku kembali, menyumbat aliran udara hingga membuat mesin pesawat mati total di tengah udara.
Pengamat penerbangan Gatot Rahardjo menyampaikan peristiwa mati mesin pernah terjadi di Indonesia. Pada 24 Juni 1982, British Airways dengan pesawat Boeing 747 mengalami mati mesin. Keempat mesin mati setelah memasuki awan abu vulkanik Gunung Galunggung saat terbang pada ketinggian sekitar 37 ribu kaki.
"Jadi, kalau ada penundaan penerbangan karena erupsi, itu bukan tanpa alasan ya. Keselamatan penerbangan nomor satu!" tulis akun @badan.geologi.
![Infografis pesawat tidak bisa terbang karena abu vulkanik gunung anak karakatau. [Suara.com/Syahda]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/09/07/62162-infografis-pesawat-tidak-bisa-terbang-karena-abu-vulkanik-gunung-anak-karakatau.jpg)
Bukan Cuma Mesin
Abu vulkanik yang mengandung partikel tajam juga berbahaya bagi bagian lain di pesawat. Partikel tajam tersebut bisa bekerja seperti amplas ketika mengenai pesawat yang sedang terbang dalam kecepatan tinggi.
Pandangan pilot di kokpit dapat terganggu karena partikel tajam dalam abu vulkanik dapat membuat goresan pada kaca. Hal yang sama juga dapat terjadi di bagian lain pesawat, semisal sensor.
Karakteristik aliran udara di sekitar pesawat juga berpotensi berubah akibat abu vulkanik yang menempel di badan dan sayap pesawat.
Karakter abu vulkanik yang mengancam keselamatan pesawat membuat pilot tidak bisa begitu saja memilih menerobos awan abu vulkanik. Belum lagi sifat awan abu vulkanik yang tidak mudah terlihat sehingga mengharuskan kondisi aman sebelum penerbangan dilakukan atau rute dialihkan.
Apakah Setiap Gunung Meletus Otomatis Membuat Penerbangan Dilarang?
Tentu tidak otomatis membuat seluruh aktivitas penerbangan dilarang. Penerbangan bisa tetap dilakukan dengan memastikan kondisi aman, jalur penerbangan jauh dari sebaran abu vulkanik, dan posisi bandara steril dari jangkauan abu vulkanik.
Dalam kasus erupsi Gunung Anak Krakatau, abu vulkanik menjangkau hingga ke bandara. Hal ini kemudian menjadi landasan penutupan sementara bandara dan membuat banyak jadwal penerbangan dibatalkan.
“Ini bukan soal mesin pesawat. Tapi sebaran debu vulkaniknya. Kalau debunya ada di sekitar bandara ya berarti bandara harus ditutup. Kalau debunya ada di airways ya rutenya harus ditutup dan dialihkan,” kata Gatot kepada Suara.com, Senin (7/9/2026).