KBRI Kuala Lumpur Digeruduk, Warga Malaysia Desak Prabowo Buka Nama Perusahaan Terlibat Karhutla

Galih Prasetyo

Sabtu, 05 September 2026 | 15:20 WIB
KBRI Kuala Lumpur Digeruduk, Warga Malaysia Desak Prabowo Buka Nama Perusahaan Terlibat Karhutla
KBRI Kuala Lumpur Digeruduk Pendemo Tuntut Prabowo Buka Nama Perusahaan Terlibat Karhutla [Instagram Greepeance Malaysia]
baca 10 detik
  • Masyarakat sipil Malaysia menyerahkan memorandum di KBRI Kuala Lumpur untuk mendesak transparansi nama perusahaan pembakar hutan.
  • Aksi unjuk rasa tersebut menuntut pemerintah Malaysia segera mengesahkan undang-undang pencemaran kabut asap lintas batas negara.
  • Kedua pemimpin negara didesak untuk berkoordinasi langsung dalam membagikan data perusahaan demi mengatasi krisis lingkungan.

Suara.com - Kelompok masyarakat sipil di Malaysia mendesak pemerintah Indonesia membuka nama seluruh perusahaan yang diduga terlibat dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, termasuk perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan Malaysia.

Desakan itu disampaikan dalam sebuah memorandum yang diserahkan kepada perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur.

Mereka menilai keterbukaan diperlukan untuk memastikan pihak yang bertanggung jawab dapat dimintai pertanggungjawaban.

Pelaksana tugas Greenpeace Malaysia, Heng Kiah Chun, mengatakan transparansi penting karena selama ini muncul saling tuding mengenai sumber kebakaran dan kabut asap yang melanda kawasan Asia Tenggara.

Menurut Heng, otoritas Indonesia menyebut adanya perusahaan Malaysia dan Singapura yang memiliki perkebunan di wilayah terdampak.

Malaysia menggelar operasi penyemaian awan tiga hari untuk mengatasi kabut asap racun di Sarawak. (CNA)
Malaysia menggelar operasi penyemaian awan tiga hari untuk mengatasi kabut asap racun di Sarawak. (CNA)

Namun, perusahaan-perusahaan tersebut juga menyatakan telah menjalankan kebijakan yang ramah lingkungan.

"Transparansi diperlukan agar perusahaan yang bertanggung jawab dapat membersihkan nama mereka, sementara perusahaan yang tidak patuh dapat dimintai pertanggungjawaban," kata Heng dikutip dari Free Malaysia Today.

Selain meminta Indonesia membuka data perusahaan, kelompok masyarakat sipil Malaysia juga mendesak pemerintah Malaysia segera mengesahkan undang-undang mengenai pencemaran kabut asap lintas batas.

Brendon Gan dari kelompok advokasi mahasiswa Himpunan Advokasi Rakyat Malaysia (HARAM) mengatakan Malaysia masih memiliki celah hukum untuk menindak perusahaan Malaysia yang beroperasi di luar negeri dan diduga berkontribusi terhadap pencemaran lintas batas.

baca juga

Malaysia memang menjadi negara pertama yang menandatangani dan mengadopsi Perjanjian ASEAN tentang Pencemaran Asap Lintas Batas 2002.

Namun, menurut kelompok masyarakat sipil, Malaysia belum memiliki perangkat hukum ekstrateritorial yang cukup untuk memberikan kewenangan kepada pengadilan domestik menuntut perusahaan Malaysia yang beroperasi di negara lain.

Gan juga meminta Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim berkoordinasi langsung dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto.

Koordinasi tersebut dinilai penting untuk berbagi data, analisis, serta daftar perusahaan yang diduga berkaitan dengan kebakaran.

"Krisis lingkungan ini harus ditangani secara bersama," kata Gan.

Ia menegaskan kelompok pemuda progresif dan masyarakat sipil akan terus menuntut pertanggungjawaban pemerintah apabila dinilai tidak menunjukkan kemauan politik yang kuat untuk menangani persoalan kabut asap lintas batas.

Sebelum menyerahkan memorandum, sekitar 20 orang berkumpul di depan Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur.

Mereka membawa sejumlah poster bertuliskan "Can't breathe", "Belum merdeka dari jerebu", dan "Name them, show the evidence, take action".

Para demonstran juga meneriakkan seruan seperti "Tolak, tolak asap!" dan "Tolak, tolak jerebu!" sebagai bentuk protes terhadap kabut asap yang kembali memburuk di kawasan tersebut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kebakaran Hutan, Ekspansi Kapital dan Krisis Tata Kelola

Kebakaran Hutan, Ekspansi Kapital dan Krisis Tata Kelola

Opini | Sabtu, 05 September 2026 | 14:01 WIB

Mengapa Karhutla Gambut Berulang? Mengubah Logika Ekonomi Pembakar Lahan

Mengapa Karhutla Gambut Berulang? Mengubah Logika Ekonomi Pembakar Lahan

Your Say | Sabtu, 05 September 2026 | 12:41 WIB

Ratusan Tersangka Karhutla Masih Perorangan, Akademisi UGM Soroti Sanksi Tumpul ke Korporasi

Ratusan Tersangka Karhutla Masih Perorangan, Akademisi UGM Soroti Sanksi Tumpul ke Korporasi

News | Sabtu, 05 September 2026 | 11:39 WIB

Prabowo Pastikan BUMN Lebih Ramping, Targetkan 700 Lagi Ditutup hingga Akhir Tahun

Prabowo Pastikan BUMN Lebih Ramping, Targetkan 700 Lagi Ditutup hingga Akhir Tahun

News | Sabtu, 05 September 2026 | 11:28 WIB

Prabowo Perintahkan Penertiban Kawasan Hutan, Penegakan Hukum Harus Transparan

Prabowo Perintahkan Penertiban Kawasan Hutan, Penegakan Hukum Harus Transparan

News | Sabtu, 05 September 2026 | 09:13 WIB

Terkini

Cara Mengetahui Elemen Shio Berdasarkan Tahun Lahir dan Jam Lahir, Ini Panduannya

Cara Mengetahui Elemen Shio Berdasarkan Tahun Lahir dan Jam Lahir, Ini Panduannya

Lifestyle | Senin, 12 Oktober 2026 | 09:02 WIB

OJK: Gen Z dan Milenial Problematik Kelola Uang, Paling Banyak Akses Pinjol

OJK: Gen Z dan Milenial Problematik Kelola Uang, Paling Banyak Akses Pinjol

Bisnis | Senin, 12 Oktober 2026 | 08:39 WIB

Tiba-tiba Keluar Mobil, Pria Asal Cilegon Nekat Terjun ke Laut di Dermaga Eksekutif Bakauheni

Tiba-tiba Keluar Mobil, Pria Asal Cilegon Nekat Terjun ke Laut di Dermaga Eksekutif Bakauheni

Lampung | Senin, 12 Oktober 2026 | 08:28 WIB

Harga Kebutuhan Pokok Bikin Stres, 78 Persen Responden Minta Pemerintah Segera Bertindak

Harga Kebutuhan Pokok Bikin Stres, 78 Persen Responden Minta Pemerintah Segera Bertindak

News | Senin, 12 Oktober 2026 | 08:18 WIB

Harga Emas Bisa Tembus Rp2,7 Juta Pekan Ini? Ini Analisis Lengkapnya

Harga Emas Bisa Tembus Rp2,7 Juta Pekan Ini? Ini Analisis Lengkapnya

Bisnis | Senin, 12 Oktober 2026 | 08:17 WIB

Survei CELIOS: Skala 1-10, Kinerja Prabowo Dinilai 2,8 dan Gibran 2,2

Survei CELIOS: Skala 1-10, Kinerja Prabowo Dinilai 2,8 dan Gibran 2,2

News | Senin, 12 Oktober 2026 | 08:10 WIB

UMKM Lokal Dapat Suntikan Rp100 Miliar, Pemerintah Ajak ASN Borong Produk Dalam Negeri

UMKM Lokal Dapat Suntikan Rp100 Miliar, Pemerintah Ajak ASN Borong Produk Dalam Negeri

Bisnis | Senin, 12 Oktober 2026 | 08:05 WIB

Prabowo dan El-Sisi Bertemu, Indonesia-Mesir Perkuat Kerja Sama

Prabowo dan El-Sisi Bertemu, Indonesia-Mesir Perkuat Kerja Sama

Foto | Senin, 12 Oktober 2026 | 08:00 WIB

Apa Bahaya Mencongkel Bunga Es di Kulkas Menggunakan Pisau atau Benda Tajam? Ini 5 Risikonya

Apa Bahaya Mencongkel Bunga Es di Kulkas Menggunakan Pisau atau Benda Tajam? Ini 5 Risikonya

Lifestyle | Senin, 12 Oktober 2026 | 07:59 WIB

Fakta Tawuran Maut di Semarang: Pelajar SMP Tewas Kepala Disabet Sajam, 9 Orang Diamankan

Fakta Tawuran Maut di Semarang: Pelajar SMP Tewas Kepala Disabet Sajam, 9 Orang Diamankan

Jawa Tengah | Senin, 12 Oktober 2026 | 07:56 WIB

×