-
PM Benjamin Netanyahu menegaskan Israel siap menyerang Iran secara sepihak demi menggagalkan program nuklir.
-
Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan Iran berhasil menggagalkan skenario pembunuhan pimpinan dan peruntuhan rezim.
-
Gertakan perang Israel berisiko merusak kesepakatan damai AS dan Iran yang dimediasi Qatar.
Suara.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan kesiapan Israel menggempur Iran secara mandiri tanpa menunggu restu Sekutu. Langkah ekstrem ini tetap menjadi opsi utama Tel Aviv meski negosiasi damai antara Tehran dan Washington sudah memasuki babak akhir.
Sikap konfrontatif Israel berpotensi memicu ledakan konflik baru yang menghancurkan seluruh proses diplomasi kawasan Timur Tengah. Manuver sepihak ini memisahkan posisi geopolitik Tel Aviv dari agenda stabilitas global yang sedang diusahakan Sekutu terdekatnya.
Di sisi lain, Iran mengklaim berhasil bertahan dari gempuran militer serta konspirasi pembunuhan pejabat tinggi negara. Presiden Masoud Pezeshkian mengumumkan kegagalan total dari skenario peruntuhan rezim yang dirancang oleh para musuhnya.
![Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir melakukan tindakan provokasi dengan memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur. [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/13/63609-tamar-ben-gvir-dan-benjamin-netanyahu.jpg)
"Kami mendengar hari ini komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, Ahmad Vahidi, menyatakan bahwa Iran berniat melanjutkan pengembangan senjata nuklir," klaim Netanyahu dikutip dari palestinechronicle, Kamis (6/8/2026).
"Sebagai perdana menteri Israel, saya bertekad untuk mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir."
Ia tetap menganggap Amerika Serikat sebagai sekutu terbesar Israel dalam menjaga keamanan kawasan. Namun, Netanyahu menegaskan bakal melakukan apa pun yang diperlukan demi menjamin keselamatan mutlak warganya.
Pernyataan keras PM Israel bertepatan dengan kemajuan pesat pada meja perundingan diplomatik Iran dan AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, membenarkan bahwa kedua pihak telah saling bertukar draf kesepakatan akhir.
Para mediator kawasan kini terus bekerja keras merangkul seluruh pihak demi mengamankan kesepakatan damai jangka panjang. Pertemuan diplomasi intensif ini bergulir usai krisis militer meluas akibat serangan langsung Amerika Serikat dan Israel.
Pakistan bersama Qatar mengambil peran sentral dalam memfasilitasi kesepakatan awal yang sempat tertahan akibat perselisihan Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital tersebut sempat memanas sebelum akhirnya opsi negosiasi meja makan kembali dibuka.
Sementara itu, Presiden Masoud Pezeshkian meyakinkan publiknya bahwa Iran tetap berdiri kokoh menghadapai tekanan luar biasa. Ia mengejek prediksi musuh yang meyakini rezim Tehran akan tumbang hanya dalam kurun dua hari.
"Musuh-musuh kita membuat rencana dan membayangkan mereka bisa menguasai Iran, seperti yang mereka lakukan di Suriah, dalam waktu 48 jam," katanya.
Pezeshkian mengeklaim Iran masih menjadi negara kuat yang sangat dihormati di arena politik dunia. Konsolidasi internal dinilai berhasil menggagalkan berbagai strategi tekanan ekonomi maupun invasi militer musuh.
"Selama kita tetap bersatu dengan rakyat, tidak ada kekuatan yang dapat menggulingkan Republik Islam," tegasnya.
Pezeshkian turut menuding pihak asing sengaja memprovokasi kerusuhan publik demi memicu instabilitas dalam negeri. Menurutnya, kegagalan agresi militer langsung memaksa musuh beralih ke taktik pembunuhan berencana terhadap para pimpinan negara.
"Mereka mengira negara ini akan runtuh setelah tindakan kejam mereka, tetapi lembaga-lembaga tetap berjalan, seorang pemimpin baru telah dipilih, dan kehadirannya hari ini adalah sumber kekuatan bagi kita untuk melanjutkan jalan ini," ujarnya.
Sengketa sengit ini berakar dari eskalasi militer berskala besar yang diluncurkan AS dan Israel pada akhir Februari. Rangkaian pertempuran tersebut memperparah krisis ekonomi Iran hingga memicu ketegangan geopolitik global paling berbahaya sejak Revolusi Islam 1979.