-
Harga beras di India Selatan melonjak tajam akibat penurunan curah hujan dampaknya El Nino.
-
Pengamat menilai spekulasi pasar dan penimbunan turut memperparah kenaikan harga beras di pasaran.
-
Pemerintah didesak segera melepas cadangan beras nasional dan membagikan subsidi bagi para petani.
Suara.com - Lonjakan harga beras kian mencekik konsumen di kawasan India Selatan akibat ancaman gagal panen setelah curah hujan monsoon merosot tajam. Fenomena El Nino dituding menjadi pemicu utama minimnya pasokan dan kekeringan tanah yang mengganggu masa tanam padi musim ini.
Kondisi ekonomi warga kelas bawah semakin tertekan seiring kenaikan belanja bahan pokok harian yang tidak seimbang dengan penghasilan. Pemerintah daerah kini didesak segera mengintervensi pasar demi menjaga kestabilan pasokan makanan pokok tersebut.
Wilayah Karnataka mencatatkan rekor lonjakan harga eceran beras rata-rata hingga 14 persen pada kurun waktu Mei sampai Juli. Angka kenaikan di Karnataka ini terbilang fantastis karena mencapai empat kali lipat dari rata-rata nasional.

Sementara itu, konsumen di Tamil Nadu harus membayar harga eceran beras tertinggi jika dibandingkan dengan negara bagian tetangga. Penurunan curah hujan hingga 26 persen di bawah rata-rata historis menjadi penyebab utama kekeringan lahan pertanian di wilayah selatan.
Krisis air terparah melanda Andhra Pradesh dengan defisit curah hujan mendekati angka 40 persen. Di sisi lain, wilayah Kerala tetap terdeteksi mengalami defisit air di atas 20 persen meski sempat diterjang banjir bandang.
Analis mengkhawatirkan kelangsungan produksi pangan nasional apabila cuaca kering ekstrem terus bertahan dalam beberapa pekan ke depan. Tekanan ekonomi akibat tingginya harga pangan kini langsung dirasakan oleh masyarakat konsumen di kota Bengaluru.
Pembatasan konsumsi harian menjadi opsi terakhir bagi warga berpenghasilan rendah demi bertahan hidup.
“Pemerintah harus melihat kesejahteraan orang-orang miskin,” kata salah satu warga Bengaluru, dikutip dari CNA, Kamis (6/8/2026).
“Orang kaya akan tetap makan entah hasil bumi menjadi mahal atau murah. Orang miskinlah yang terdampak. Kami tidak mampu menabung penghasilan apa pun.”
Pedagang eceran mengonfirmasi adanya kenaikan drastis pada komoditas beras jenis tertentu di pasaran. Kenaikan harga beras di tingkat pengecer bervariasi bergantung pada kualitas, merek, serta lokasi penjualannya.
“(Harga beras) mendekati 50 rupee India (US$0,50) per kilogram hingga beberapa waktu lalu. Sekarang, harganya mendekati 80 rupee,” kata salah satu pemilik toko kelontong.
“Ini terjadi karena tidak ada curah hujan. Kenaikan ini membuatnya sangat sulit bagi orang miskin. Kami memperkirakan harga akan naik hingga 100 rupee per kilogram.”
Sebagian pengamat menilai lonjakan harga beras belakangan ini tidak murni disebabkan oleh kelangkaan stok fisik di lapangan. Praktik spekulasi pasar dan penimbunan oleh oknum pedagang disinyalir menjadi pemicu utama tingginya harga beras saat ini.
Analis kebijakan iklim menegaskan bahwa stok beras nasional sebenarnya masih sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Berita ini menjadi diketahui secara luas, semua orang mengantisipasi El-Nino dan defisit curah hujan yang besar. Semua orang mengantisipasi akan ada kekurangan produksi pertanian,” kata analis kebijakan iklim Soumya Dutta.