Di Balik Rencana Zonasi Pesisir Jawa Tengah, Nelayan Khawatir Ruang Hidup Kian Menyempit

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 07 Agustus 2026 | 15:01 WIB
Di Balik Rencana Zonasi Pesisir Jawa Tengah, Nelayan Khawatir Ruang Hidup Kian Menyempit
Ilustrasi kawasan pesisir (dok.Pexels/Zhefanya Haryanto)

Suara.com - Perwakilan nelayan dari Dukuh Roban Timur, Kabupaten Batang, dan Kampung Tambakrejo, Semarang, bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Tengah dan WALHI Nasional menyambangi Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mendorong percepatan perlindungan wilayah pesisir dan laut Jawa Tengah.

Desakan ini dipicu oleh kegiatan sosialisasi program KKP mengenai penyusunan rencana zonasi rinci kawasan pesisir. Pasalnya, rancangan ini dinilai akan membuka jalan bagi proyek-proyek pembangunan di wilayah tersebut sehinhha mengancam ruang hidup mereka.

Masyarakat nelayan bersama WALHI mempersoalkan arah perencanaan pembangunan pesisir di Jawa Tengah mengikuti pelaksanaan Sosialisasi Perkembangan Program Prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2026 pada 21 April 2026.

Agenda tersebut mengacu pada Surat No. B.380/DJPRL.3/TU/330/IV/2026 yang membahas terkait penyusunan rencana zonasi rinci pesisir dan pulau-pulau kecil.

Pengkampanye Perlindungan Pesisir dan Laut Eksekutr Nasional WALHI, Mida Saragih, mengatakan bahwa kebutuhan masyarakat pesisir adalah kebermanfaatan yang adil sekaligus dukungan atas pengakuan pada ruang hidup mereka.

"Yang dibutuhkan masyarakat pesisir dan nelayan adalah keadilan spasial, bukan hanya akses, tetapi distribusi manfaat yang adil serta pengakuan atas keberagaman kebutuhan ruang," katanya.

Menurutnya, KKP harus memastikan perlindungan wilayah tangkap bagi nelayan kecil. Ruang pesisir dan laut tidak semata-mata sebagai kamparan ekosistem. Mereka adalah ruang hidup yang dibangun oleh relasi sosial, budaya, ekonomi, dan ekologis masyarakat pesisir.

Ruang lingkup nelayan kecil sekarang dikikis oleh berbagai izin usaha, proyek strategis nasional, serta kebijakan integrasi tata ruang laut yang lahir dari penerapan Undang-Undang Cipta Kerja. Perlahan ruang hidup nelayan ini berubah menjadi ruang milik pribadi yang dialiansi oleh segelintir pihak.

"Dominasi atas ruang hidup masyarakat pesisir kerap dibungkus atas nama pembangunan dan investasi, padahal yang terjadi adalah pelanggengan ketidakadilan spasial. Jika kondisi ini terus dibiarkan, kita bukan hanya kehilangan nelayan, tetapi juga kehilangan peradaban pesisir yang telah menjaga laut secara turun-temurun," tegasnya.

baca juga

Di sisi lain, Direktur Eksekutif WALHI Jawa Tengah, Fahmi Bastian, menyoroti krisis pesisir di JawaTengah merupakan penimbunan dari berbagai proyek pembangunan dan ekspansi industri di kawasan Pantai Utara (Pantura).

Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa dilihat hanya sekadar dari dampak abrasi, melainkan berhubungan dengan berbagai kebijakan pembangunan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Fahmi menjabarkan bahwa Batang telah dibebani tiga Proyek Strategis Nasional, yakni Tol Batang-Semarang, PLTU berkapasitas 2.000 MW, dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), termasuk rencana reklamasi.

Sementara itu, Demak mempunyai alokasi kawasan industri seluas 6.865 hektare. Lalu, Semarang mengalami ekspansi industri dan akivitas Pelabuhan Tanjung Emas ikut memperparah penurunan muka tanah.

"Tidak tepat jika masyarakat hanya diposisikan sebagai 'korban abrasi pasif' tanpa melihat penyebab strukturalnya. Akibat kombinasi krisis tersebut, kawasan Pantura Jawa Tengah kini menghadapi ancaman genangan permanen yang terus meluas," ungkap Fahmi.

Tak hanya menyoroti para pemangku kebijakan, beberapa perwakilan nelayan turut mengungkap dampak nyata yang mereka alami akibat ekspansi proyek di wilayah pesisir tersebut.

Salah satunya ada nelayan dari Roban Timur, Batang, Usman membeberkan bahwa hadirnya pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) membuat mereka kehilangan sumber penghasilan. Tak hanya mereka yang terdampak, tetapi terumbu karang ikut mengalami penggusuran habitat akibat hilangnya Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD).

"Ruang hidup dan sumber penghidupan nelayan perlahan hilang akibat proyek-proyek skala besar di pesisir," kata Usman.

Menurut Usman, hilangnya sumber penghidupan mereka ini membuat para nelayan harus melaut lebih jauh dengan biaya yang terus membengkak untuk memperoleh hasil tangkapan yang terus menurun.

Sebagai nelayan dari Tambakrejo, Semarang, Marzuki mengatakan bahwa ruang tangkap nelayan terus mengalami pengikisan dampak dari ekspansi industri dan pembangunan Tol Tanggul Laut Semarang-Demak.

"Pembangunan Tol Tanggul Laut Semarang-Demak tidak hanya menghilangkan habitat ikan, tetapi juga mengubah pola arus dan gelombat laut," katanya.

Perubahan pola arus dan gelombang laut akibat adanya ekspansi industri dan pembangunan proyek ternyata menambah risiko keselamatan bagi para nelayan saat melaut.

"Gelombang yang sebelumnya stabil kini menjadi gelombang pantul yang meningkatkan risiko keselamatan bagi nelayan saat melaut," tambahnya.

Mengutip laman WALHI (3/8), acara yang berlangsung di Gedung Mina Bahari II Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama jajaran Direktorat Jenderal Penataan Ruang Laut, KKP mengakui abrasi, akresi, dan penurunan muka tanah di pesisir Jawa Tengah kian parah, termasuk akibat eksploitasi air tanah.

KKP juga memaparkan bahwa integrasi tata ruang laut dan darat dilaksanakan sesudah pemberlakuan Undang-Undang Cipta Kerja.

Lebih lanjut, KKP membenarkan bahwa masih ada persoalan pelibatan masyarakat daklam penyusunan RTRW Jawa Tengah dan menyatakan kesiapan untuk mendiskusikan skema perlindungan wilayah tangkap nelayan kecil bersama masyarakat dan organisasi sipil ke depan.

Tuntutan Masyarakat Nelayan Pesisir Jawa Tengah

Sehubungan dengan itu, masyarakat nelayan pesisir Jawa Tengah bersama dengan WALHI Jawa Tengah dan WALHI Nasional menyampaikan empat tuntutan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Tuntutan pertama mereka meminta KKP untuk menetapkan kebijakan terhadap perlindungan wilayah tangkap bagi nelayan kecil. Hal ini dikarenakan untuk membuat aktivitas penangkapan ikan ini tidak semakin terdesak oleh berbagai proyek pembangunan.

Kedua, mereka meminta untuk menjamin kepastian ruang tangkap dan ruang hidup melalui skema communal fishing ground yang dikelola bersama oleh nelayan kecil.

Selain itu, pada tuntutan ketiga mereka meminta KKP untuk merevitalisasi ekosistem mangrove yang rusak serta memastikan kompensasi sosial dan ekologis yang setara atas setiap kerusakan yang ditimbulkan.

Pada tuntutan yang terakhir, mereka meminta untuk merealisasikan tata kelola pesisir yang lebih demokratis. Menurut mereka, nelayan dan masyarakat pesisir harus dilibatkan secara nyata dan bebas bersuara dalam setiap penyusunan kebijakan mamupun rencana pembangunan di Pantai Utara Jawa Tengah.

Dengan demikian, kebijakan tersebut harus menjamin perlindungan ruang hidup nelayan, memulihkan ekosistem lingkungan yang terdampak, serta melibatkan masyarakat pesisir dalam setiap proses pengambilan keputusan.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kekeringan Melanda Boyolali, Warga Rela Cari Air di Dasar Sungai

Kekeringan Melanda Boyolali, Warga Rela Cari Air di Dasar Sungai

Foto | Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:00 WIB

5 Bupati Jawa Tengah Terjaring OTT KPK, Ada yang Niat Nyogok tapi Malah Kena Peras

5 Bupati Jawa Tengah Terjaring OTT KPK, Ada yang Niat Nyogok tapi Malah Kena Peras

News | Selasa, 04 Agustus 2026 | 15:17 WIB

5 Alasan Kenapa Jalur Pesisir Pandeglang Jadi Surga Baru Buat Komunitas Sepeda

5 Alasan Kenapa Jalur Pesisir Pandeglang Jadi Surga Baru Buat Komunitas Sepeda

Lifestyle | Minggu, 02 Agustus 2026 | 09:54 WIB

Terkini

Dua Tersangka Konten Porno 'A Day in My Life' Positif HIV

Dua Tersangka Konten Porno 'A Day in My Life' Positif HIV

News | Selasa, 22 September 2026 | 09:43 WIB

Kondisi Rupiah Terus Ambruk, Dolar AS Makin Naik ke Level Rp17.894

Kondisi Rupiah Terus Ambruk, Dolar AS Makin Naik ke Level Rp17.894

Bisnis | Selasa, 22 September 2026 | 09:35 WIB

Bitcoin Hingga DOGE Melesat, Indeks CFX10 Terbang Tinggi 5,95%

Bitcoin Hingga DOGE Melesat, Indeks CFX10 Terbang Tinggi 5,95%

Bisnis | Selasa, 22 September 2026 | 09:31 WIB

Truk Ekspedisi Mundur Mendadak di Bandar Lampung: Hantam Pom Mini, Warung Kelontong Ludes Terbakar

Truk Ekspedisi Mundur Mendadak di Bandar Lampung: Hantam Pom Mini, Warung Kelontong Ludes Terbakar

Lampung | Selasa, 22 September 2026 | 09:29 WIB

Asing Mulai Borong Lagi, Saham BUMI Siap Rebound ke Level Ini?

Asing Mulai Borong Lagi, Saham BUMI Siap Rebound ke Level Ini?

Bisnis | Selasa, 22 September 2026 | 09:28 WIB

Perasaan Campur Aduk Dean James Kembali Bela Timnas Indonesia, Usung Target Juara FIFA ASEAN Cup

Perasaan Campur Aduk Dean James Kembali Bela Timnas Indonesia, Usung Target Juara FIFA ASEAN Cup

Bola | Selasa, 22 September 2026 | 09:26 WIB

Profil Den Baguse Ngarso Susilo Nugroho, Seniman Yogyakarta yang Meninggal Dunia

Profil Den Baguse Ngarso Susilo Nugroho, Seniman Yogyakarta yang Meninggal Dunia

Lifestyle | Selasa, 22 September 2026 | 09:25 WIB

Banjir Bandang Solok, Pengendara Diminta Lewat Jalur Alternatif

Banjir Bandang Solok, Pengendara Diminta Lewat Jalur Alternatif

Riau | Selasa, 22 September 2026 | 09:24 WIB

MedcoEnergi (MEDC) Raup Laba Bersih 275 Juta Dolar AS di Semester I 2026

MedcoEnergi (MEDC) Raup Laba Bersih 275 Juta Dolar AS di Semester I 2026

Bisnis | Selasa, 22 September 2026 | 09:21 WIB

Viral Video Cahaya Misterius di Langit Iran: UFO atau Pesawat Tempur? Ini Faktanya

Viral Video Cahaya Misterius di Langit Iran: UFO atau Pesawat Tempur? Ini Faktanya

News | Selasa, 22 September 2026 | 09:21 WIB

×