AI Bantu Ilmuwan Petakan Hamparan Alga yang Makin Meluas di Laut Dunia, Bagaimana Caranya?

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 13 Agustus 2026 | 11:55 WIB
AI Bantu Ilmuwan Petakan Hamparan Alga yang Makin Meluas di Laut Dunia, Bagaimana Caranya?
Sumber: iStockphoto.com

Suara.com - Dari atas permukaan laut, hamparan alga yang mengapung mungkin hanya terlihat seperti noda kecil di antara luasnya lautan. Namun, jika dikumpulkan dari ribuan hingga jutaan gambar, pola yang terbentuk mulai terlihat.

Dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), ilmuwan kini dapat memetakan perubahan tersebut dalam skala global. Hasilnya menunjukkan hamparan alga terapung telah terdeteksi di wilayah laut yang sangat luas dan beberapa kelompok alga mengalami peningkatan dalam dua dekade terakhir.

Temuan tersebut berasal dari penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Communications. Peneliti menggunakan sekitar 1,2 juta citra satelit yang dikumpulkan sepanjang 2003 hingga 2022 untuk memetakan keberadaan alga terapung di laut dunia.

Para peneliti menggunakan AI untuk mengenali dan mengelompokkan alga yang terlihat dalam citra satelit. Mereka membaginya menjadi dua kelompok utama: makroalga, seperti Sargassum dan Ulva, serta mikroalga yang dapat membentuk lapisan di permukaan laut.

Hasil pemetaan menunjukkan wilayah kumulatif tempat alga terapung terdeteksi mencapai sekitar 43,8 juta kilometer persegi.

Luas tersebut setara dengan sekitar 12 persen permukaan laut global.

Namun, peningkatannya tidak terjadi secara merata. Makroalga di wilayah Atlantik tropis dan Pasifik barat, misalnya, mengalami ekspansi sekitar 13,4 persen per tahun sejak 2003. Sementara hamparan mikroalga meningkat sekitar 1% per tahun.

Bagi para peneliti, perubahan tersebut menunjukkan perlunya pemantauan lebih dekat terhadap kondisi ekosistem laut.

Ketika nutrien membuat alga tumbuh berlebihan

baca juga

Pertumbuhan alga sebenarnya merupakan bagian normal dari ekosistem laut. Alga menjadi salah satu dasar rantai makanan dan menyediakan sumber energi bagi berbagai organisme.

Masalah dapat muncul ketika pertumbuhannya berlangsung secara berlebihan. Salah satu faktor yang diduga berperan adalah eutrofikasi, yaitu kondisi ketika perairan menerima terlalu banyak nutrien, terutama nitrogen dan fosfor.

Nutrien tersebut dapat berasal dari aktivitas manusia dan masuk ke perairan melalui berbagai jalur. Dalam jumlah berlebih, nutrien dapat memicu pertumbuhan alga secara cepat.

Pemanasan laut juga disebut sebagai salah satu faktor yang mungkin berkontribusi terhadap perubahan pola pertumbuhan alga.

Tidak semua ledakan pertumbuhan alga berbahaya. Namun, beberapa jenis dapat menghasilkan racun yang membahayakan organisme laut dan manusia.

Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) menyebut harmful algal blooms atau ledakan alga berbahaya dapat berdampak terhadap kesehatan manusia, satwa, ekosistem, serta perekonomian masyarakat pesisir.

Ledakan alga juga dapat mengganggu aktivitas perikanan dan pariwisata ketika berlangsung dalam skala besar.

Fenomena serupa terjadi di Indonesia

Perubahan pertumbuhan alga bukan hanya terjadi di lautan terbuka.

Sejumlah penelitian di Indonesia juga menemukan hubungan antara kondisi perairan, nutrien dan pertumbuhan alga tertentu.

Penelitian di perairan Taman Nasional Karimunjawa, misalnya, mengaitkan ledakan Trichodesmium erythraeum dengan masuknya nutrien dari limbah tambak udang.

Sementara itu, penelitian di Teluk Ambon pada 2022 menemukan hubungan antara kelebihan nutrien dan suhu perairan yang lebih tinggi dengan pertumbuhan Gonyaulax polygramma serta kejadian kematian ikan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa perubahan kondisi lingkungan pesisir dapat memengaruhi keseimbangan ekosistem dan memicu pertumbuhan organisme tertentu secara berlebihan.

AI bukan solusi untuk alga

Di tengah perubahan kondisi laut tersebut, AI menawarkan cara baru untuk memantau fenomena yang sulit diamati secara langsung.

NOAA sebelumnya juga menggunakan AI untuk menganalisis lebih dari satu juta citra satelit guna mendeteksi dan mengukur hamparan rumput laut serta mikroalga di lautan dunia. Keunggulan teknologi ini terletak pada kemampuannya mengolah citra dalam jumlah besar dan menemukan pola yang mungkin sulit dikenali melalui pengamatan manual.

Namun, AI tentu tidak menghilangkan penyebab pertumbuhan alga. Teknologi tersebut hanya membantu ilmuwan melihat perubahan dengan lebih cepat dan dalam cakupan yang lebih luas.

Dengan mengetahui di mana alga muncul, seberapa luas wilayahnya, dan bagaimana pola tersebut berubah dari waktu ke waktu, ilmuwan dapat memperoleh informasi yang lebih baik untuk memantau kondisi laut.

Data tersebut pada akhirnya dapat digunakan untuk memperkuat sistem peringatan dini, mengelola kualitas perairan, serta merancang kebijakan untuk mengurangi masuknya nutrien berlebih ke laut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Harga Minyak Stabil di Tengah Eskalasi Serangan di Jalur Pelayaran Timur Tengah

Harga Minyak Stabil di Tengah Eskalasi Serangan di Jalur Pelayaran Timur Tengah

Bisnis | Kamis, 13 Agustus 2026 | 07:05 WIB

Dampak Domino AI di Depan Mata: Panduan Cerdas Beli Gadget Sebelum Harga Makin 'Gila'

Dampak Domino AI di Depan Mata: Panduan Cerdas Beli Gadget Sebelum Harga Makin 'Gila'

Your Say | Rabu, 12 Agustus 2026 | 19:02 WIB

Bagaimana Ocean Calculator Menghitung Manfaat Laut yang Selama Ini Sulit Terlihat?

Bagaimana Ocean Calculator Menghitung Manfaat Laut yang Selama Ini Sulit Terlihat?

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:15 WIB

Terkini

Tak Melulu Merek Luar, ini 6 Sepatu Lokal yang Gak Kalah Keren!

Tak Melulu Merek Luar, ini 6 Sepatu Lokal yang Gak Kalah Keren!

Your Say | Kamis, 13 Agustus 2026 | 20:15 WIB

Urutan Pemakaian Serum, Essence, dan Moisturizer yang Benar Saat Skincare-an

Urutan Pemakaian Serum, Essence, dan Moisturizer yang Benar Saat Skincare-an

Lifestyle | Kamis, 13 Agustus 2026 | 20:10 WIB

Pemangkasan Tarif UMKM hingga 50 Persen di e-Commerce Masih Dibahas Pemerintah

Pemangkasan Tarif UMKM hingga 50 Persen di e-Commerce Masih Dibahas Pemerintah

Bisnis | Kamis, 13 Agustus 2026 | 20:07 WIB

Sudah Ditolak, Persija Belum Kapok Kejar Tanda Tangan Eks Pemain AS Roma

Sudah Ditolak, Persija Belum Kapok Kejar Tanda Tangan Eks Pemain AS Roma

Bola | Kamis, 13 Agustus 2026 | 20:05 WIB

Proyek Mobil Listrik Nasional di Subang Akan Mulai Produksi di 2028

Proyek Mobil Listrik Nasional di Subang Akan Mulai Produksi di 2028

Otomotif | Kamis, 13 Agustus 2026 | 20:01 WIB

Momen Purbaya Cecar Direktur Kemenhub! Bongkar "Uang Gelap": Lo-Lo Bikin Rugi Devisa Rp 3 Triliun

Momen Purbaya Cecar Direktur Kemenhub! Bongkar "Uang Gelap": Lo-Lo Bikin Rugi Devisa Rp 3 Triliun

Video | Kamis, 13 Agustus 2026 | 20:00 WIB

Cicil Emas Lebih Mudah, BRI Hadirkan Layanan Pembiayaan Emas di BRImo

Cicil Emas Lebih Mudah, BRI Hadirkan Layanan Pembiayaan Emas di BRImo

Bisnis | Kamis, 13 Agustus 2026 | 19:55 WIB

Kata Pemprov DKI Soal JPO Viral Tanpa Tangga di Depan Gedung DPR RI

Kata Pemprov DKI Soal JPO Viral Tanpa Tangga di Depan Gedung DPR RI

News | Kamis, 13 Agustus 2026 | 19:54 WIB

Ratusan Pelajar SMA di Karo Diduga Keracunan MBG, Terungkap SPPG Milik Kodim

Ratusan Pelajar SMA di Karo Diduga Keracunan MBG, Terungkap SPPG Milik Kodim

Sumut | Kamis, 13 Agustus 2026 | 19:52 WIB

Lawan Arus di Rawa Buaya, Warga Minta Jalur Alternatif ke Duri Kosambi

Lawan Arus di Rawa Buaya, Warga Minta Jalur Alternatif ke Duri Kosambi

News | Kamis, 13 Agustus 2026 | 19:52 WIB

×