Iran menyatakan bakal bertindak lebih agresif jika perang di masa depan kembali pecah.
Oman dan GCC diam-diam bernegosiasi dengan Iran soal aturan pelayaran Selat Hormuz.
Posisi tawar Iran semakin menguat dalam negosiasi jalur maritim strategis kawasan Teluk.
Suara.com - Iran secara terbuka menegaskan kesiapan tempurnya untuk mengambil tindakan yang jauh lebih agresif apabila perang bersenjata kembali meletus di masa depan. Ketegangan militer ini beriringan dengan penguatan pengaruh teokrasi tersebut dalam mengendalikan lalu lintas maritim vital di kawasan Teluk.
Pengakuan atas realitas baru di jalur perdagangan energi dunia Selat Hormuz ini memaksa negara-negara tetangga Teluk mengambil langkah pragmatis. Blok Arab kini memilih jalur diplomasi belakang layar bersama Teheran demi mengamankan jalur pelayaran strategis mereka.
Strategi tekanan ekonomi yang dilancarkan pihak penentang belum berhasil memecah belah kekuatan internal negara tetangga tersebut. Sebaliknya, posisi tawar militer dan politik Teheran justru kian menguat menjelang putaran negosiasi baru.
Pernyataan tegas terkait kesiapan militer tersebut disampaikan langsung oleh pejabat senior penasihat politik kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Brigadir Jenderal Rasoul Sanaei-Rad.
"Kami berdiri teguh dalam perang baru-baru ini dan, atas izin Allah, kami akan berdiri lebih teguh dan lebih agresif dalam kemungkinan perang di masa depan," kata Sanaei-Rad seperti dikutip oleh kantor berita Fars.
Tanpa menyebut nama Amerika Serikat secara terbuka, pejabat militer tersebut menegaskan bahwa strategi lawan untuk menciptakan perpecahan domestik melalui sanksi finansial telah menemui kegagalan.
Bagaimana Diplomasi Rahasia Mengubah Peta Perdagangan Selat Hormuz?
Analis dari Royal United Services Institute, Michael Stevens, mengungkapkan kepada Al Jazeera bahwa pembicaraan intensif sedang berlangsung secara tertutup antara Iran, Oman, dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Negosiasi tersebut berfokus pada mekanisme tata kelola serta pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang selama ini menjadi rebutan Washington dan Teheran.
Hingga saat ini belum ada kepastian resmi apakah Iran dan Oman telah mencapai kesepakatan akhir mengenai penarikan tarif retribusi bagi setiap kapal yang melintas.
"Pemahaman saya adalah bahwa pihak Oman telah terlibat dalam diskusi ini dengan Iran melalui dukungan diam-diam dari GCC," kata Stevens dikutip dari Al Jazeera.
"Apa yang tampaknya ditunjukkan oleh hal tersebut adalah bahwa GCC menerima adanya realitas baru di Selat Hormuz," lanjut sang analis.
Mengapa Jalur Pipa Bypassing Belum Bisa Menggeser Posisi Iran?
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent sempat menyatakan bahwa Selat Hormuz bakal menjadi tidak relevan lagi seiring pembangunan jalur pipa baru yang memotong jalur laut tersebut. Namun, Stevens menilai proyek infrastruktur bypass semacam itu membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa beroperasi secara penuh.
Di tengah upaya pembentukan jalur alternatif tersebut, posisi tawar Teheran di meja perundingan internasional justru semakin solid dan sulit digoyahkan.
"Sementara itu, Iran memperkuat posisinya saat kita memasuki fase negosiasi lainnya," ujar Stevens lebih lanjut.
"Saya tidak berpikir ada cara bagi AS untuk menyajikan hal itu sebagai kemenangan politik atau strategis," pungkas Stevens.
Selat Hormuz merupakan titik penyempitan (chokepoint) maritim paling vital di dunia yang menghubungkan produsen minyak Teluk Persia dengan pasar global. Konfrontasi berkepanjangan antara Iran dan Amerika Serikat sering kali berpusat pada kendali dan kebebasan navigasi di koridor sempit ini.
Eskalasi terbaru menunjukkan pergeseran peta kekuatan, di mana sanksi ekonomi AS gagal melemahkan posisi domestik Iran. Kondisi ini merespons negara-negara GCC untuk beradaptasi dengan merangkul Teheran demi menjamin keamanan jalur pasokan energi mereka.