- Kericuhan besar terjadi di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
- Dua warga sipil asal Aceh Timur dan seorang anggota TNI mengalami luka-luka akibat bentrokan tersebut.
- Insiden ini memicu pembakaran kendaraan serta kelumpuhan akses jalan utama di pusat kota Banda Aceh.
Suara.com - Momen peringatan 21 tahun damai Aceh yang seharusnya berlangsung khidmat, berujung pada kericuhan besar di jantung Kota Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026).
Insiden yang terjadi di kawasan Masjid Raya Baiturrahman ini mengakibatkan jatuhnya korban luka dari pihak sipil maupun aparat keamanan, serta memicu kerusakan infrastruktur dan kendaraan di lokasi kejadian.
Suasana mencekam menyelimuti pusat ibu kota Provinsi Aceh tersebut sejak siang hari. Kericuhan bermula saat ribuan warga dari berbagai daerah berkumpul untuk melaksanakan zikir dan doa tolak bala bersama.
Namun, agenda religi tersebut berubah menjadi ketegangan politik dan bentrokan fisik yang tak terhindarkan.
Warga Sipil Asal Aceh Timur Jadi Korban Salah Sasaran
Dua warga asal Kabupaten Aceh Timur, Ismail (43) dan Makmur, dilaporkan harus dilarikan ke Rumah Sakit Kesdam Aceh setelah menjadi korban lemparan batu di tengah aksi massa.
Keduanya mengalami luka di bagian kepala, saat mencoba menyelamatkan diri dari kerumunan yang mulai beringas di sekitar Taman Adi Pura.
Ismail menceritakan, dirinya bersama Makmur awalnya datang ke kawasan Masjid Raya Baiturrahman murni untuk mengikuti kegiatan zikir peringatan perdamaian Aceh. Keduanya merupakan pekerja bangunan yang sudah lama menetap di Banda Aceh.
“Saat ribut, kami lari ke sekitaran Taman Adi Pura. Di situ ada yang melempar, kena kepala," kata Ismail saat memberikan keterangan di RS Kesdam Aceh.
Ketertarikan mereka untuk bergabung dalam aksi ini didasari oleh niat mengikuti doa bersama, tanpa menyangka situasi akan berujung kisruh.
“Kami ikut untuk zikir dan doa tolak bala. Kami tak tahu bakal berakhir begini. Ada juga peserta aksi damai yang ditangkap," kata dia.
Anggota TNI Dikeroyok
Ketegangan tidak hanya menyasar warga sipil. Seorang anggota TNI dari jajaran Kodam Iskandar Muda dilaporkan menjadi korban pengeroyokan oleh peserta aksi saat sedang melakukan tugas pengamanan di area taman Masjid Raya Baiturrahman.
Aksi kekerasan ini terekam dalam video amatir yang kemudian beredar luas di berbagai grup WhatsApp dan media sosial warga Aceh.
Dalam video tersebut, terlihat sejumlah peserta aksi melakukan tindakan brutal terhadap aparat. Suara provokasi terdengar jelas dari kerumunan massa yang mengejar petugas tersebut.
Hingga saat ini, pihak jajaran Kodam Iskandar Muda belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi terkini anggotanya yang menjadi korban pengeroyokan tersebut.

Pengibaran Bendera Bintang Bulan dan Pembakaran Kendaraan
Kericuhan ini diduga dipicu oleh berkibarnya bendera Bintang Bulan di sekitar kawasan Masjid Raya Baiturrahman.
Setelah simbol tersebut dibentangkan, situasi yang semula tenang berubah menjadi panas. Massa yang terkonsentrasi di kawasan Masjid Raya, Taman Sari, hingga depan Pendopo Gubernur Aceh mulai menyuarakan aspirasi politik dengan teriakan “merdeka”.
Bentrokan antara aparat keamanan dan peserta aksi pun pecah. Suara tembakan peluru peringatan terdengar di tengah hujan lemparan batu.
Akibat dari eskalasi ini, sejumlah kendaraan berupa sepeda motor dan mobil yang terparkir di lokasi menjadi sasaran amuk massa dengan cara dibakar.
Kondisi keamanan di Banda Aceh sempat lumpuh selama beberapa jam karena akses jalan utama di sekitar pusat kota tertutup oleh massa dan puing-pembakaran. Wisatawan yang sedang berada di kawasan tersebut dilaporkan terjebak di tengah situasi chaos.
Massa Bergeser ke Kantor DPRA dan Gubernur Aceh
Menjelang sore hari, peserta aksi dilaporkan mulai meninggalkan area Masjid Raya Baiturrahman. Namun, ketegangan belum sepenuhnya mereda karena massa bergerak menuju pusat pemerintahan, yakni Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dan Kantor Gubernur Aceh.
Aparat keamanan gabungan terus bersiaga di sepanjang jalur protokol untuk mengantisipasi adanya aksi susulan yang lebih besar.
Pendataan terhadap total kerugian material dan jumlah pasti korban luka-luka masih terus dilakukan oleh pihak berwenang.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh informasi yang belum jelas sumbernya di tengah suasana peringatan 21 tahun perdamaian yang kini menyisakan catatan kelam tersebut.