- Petani Djiauw Kie Siong meminjamkan rumah kayunya secara mendadak kepada rombongan Soekarno-Hatta pada peristiwa Agustus 1945.
- Lokasi rumah yang terpencil di hutan Rengasdengklok dipilih PETA karena aman dari patroli militer Jepang.
- Keluarga pemilik rumah harus mengungsi agar rapat perumusan proklamasi Indonesia berjalan aman tanpa diketahui musuh.
Suara.com - Di tengah rimbunnya hutan yang membentang di pinggiran Sungai Citarum, sebuah rumah milik seorang petani sederhana di kota kecil Rengasdengklok ternyata menyimpan takdir yang menentukan arah sejarah bangsa Indonesia.
Djiauw Kie Siong, pemilik rumah tersebut, bukanlah tokoh politik maupun pejabat berpengaruh, melainkan hanya seorang petani biasa yang menetap jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Liauw Lany, cucu sekaligus generasi ketiga pengelola rumah itu, menegaskan bahwa tidak ada relasi khusus antara sang kakek dengan Bung Karno sebelum peristiwa 1945 terjadi.
"Ya kalau secara cerita sejarah sih tidak ada," ujarnya saat Suara.com berkunjung ke Rumah Sejarah Rengasdengklok, Kamis (13/8/2026).
Kedatangan rombongan Bung Karno pada hari itu pun berlangsung tanpa pemberitahuan panjang.

Sebab menurut penuturan Lany, sang kakek langsung didatangi dan diminta meminjamkan rumahnya seketika itu juga.
Rombongan yang datang bukanlah jumlah kecil, melainkan terdiri dari sekitar dua belas orang yang harus ditampung sekaligus dalam satu rumah kayu sederhana.
"Iya, dikasih, silakan kalau mau pakai. Terus kakek minta rumahnya dikosongin," ungkap Lany.
Penjelasan baru datang dari Djiauw Kie Siong, yang mengatakan ke keluarganya saat itu bahwa pemilihan lokasi didasari hasil pertimbangan rombongan PETA yang mengamankan Soekarno-Hatta.
Kondisi geografis Rengasdengklok pada masa itu turut menjadi faktor penentu, sebab wilayah tersebut masih didominasi pohon-pohon lebat.
"Kalau orang Sunda bilang mah leuweung. Jadi memang seperti hutan, pohon besar-besar," kenang Lany, menggambarkan suasana Rengasdengklok puluhan tahun silam.
Di antara belantara pepohonan besar itu, rumah Djiauw Kie Siong berdiri sebagai satu-satunya bangunan besar.
Sementara rumah-rumah penduduk lain hanya berukuran kecil dan berjarak berjauhan satu sama lain.
"Rumah satu-satunya yang besar di pinggir kali. Ada rumah kecil-kecil, tapi jauh-jauh. Paling rumah hanya dua kamar," tutur Lany, membandingkan skala bangunan milik keluarganya dengan rumah warga sekitar.
Jarak yang jauh dari pusat kota serta akses jalan yang masih berupa tanah turut menjadikan Rengasdengklok sebagai lokasi yang diyakini sulit dijangkau patroli tentara Jepang kala itu.
"Masih sepi juga, penduduknya jarang," kata Lany menambahkan.

Faktor lokasi di tepi sungai pun tak lepas dari pertimbangan taktis, sebab posisi tersebut memungkinkan rombongan untuk segera melarikan diri apabila sewaktu-waktu musuh datang menyerang.
"Kalau ada musuh datang, bisa lari naik perahu," jelas Lany, mengenai pertimbangan keamanan yang melatari pemilihan rumah tersebut.
Keluarga Djiauw Kie Siong sendiri terpaksa mengungsi demi menjaga kerahasiaan rombongan, sebuah pengorbanan kecil yang jarang disorot dalam catatan resmi sejarah proklamasi.
Alasan di balik pengosongan rumah juga tak lepas dari kekhawatiran keluarga terhadap ancaman Jepang, yang jika mengetahui keberadaan rombongan tersebut bisa berujung petaka bagi seluruh anggota keluarga.
"Ketahuan Jepang bisa mati kita dibredel," ujar Lany, mengenai risiko besar yang dihadapi keluarganya kala itu.
Di ruang tengah rumah yang telah dikosongkan tersebut, rapat penyusunan konsep perumusan proklamasi berlangsung.
Dari rumah petani sederhana di tengah hutan itulah, langkah menuju kemerdekaan Indonesia mulai dirumuskan, sebelum akhirnya rombongan Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta dan menuntaskan proklamasi pada 17 Agustus 1945.