-
Teleskop NASA Swift mendeteksi lubang hitam supermasif yang memangsa bintang di pinggiran galaksi jauh.
-
Penemuan ini memvalidasi metode kecerdasan buatan baru untuk berburu lubang hitam pengembara yang terlempar.
-
Observatorium Rubin dan Roman akan memperluas pemetaan fenomena pembantaian bintang di masa depan.
Suara.com - Fenomena langka penyerapan bintang oleh lubang hitam supermasif pengembara yang berada di pinggiran galaksi luar berhasil direkam oleh Teleskop Swift milik NASA.
Temuan ini membuktikan secara ilmiah keberadaan monster gravitasi berukuran jutaan kali massa Matahari yang berkelana jauh di luar pusat galaksi utamanya.
“Kami memang berburu peristiwa pembantaian bintang ini sebagai sarana menemukan lubang hitam supermasif tak terlihat yang mengembara jauh dari inti galaksi tempat mereka biasanya berada,” kata Robert Stein, peneliti dari Universitas Maryland, College Park, dan Goddard Space Flight Center NASA di Greenbelt, Maryland, dikutip dari Futura-sciences.
![Ilustrasi Lubang Hitam. [NASA/JPL-Caltech]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/12/12/84057-ilustrasi-lubang-hitam.jpg)
“Dengan penemuan ini, yang merupakan satu dari sedikit kasus yang baru terkonfirmasi sejauh ini, kami telah memvalidasi teknik baru dan dapat menggunakannya untuk berburu lebih banyak lagi.”
Peristiwa yang dikenal sebagai tidal disruption event ini menghasilkan kilatan cahaya yang sangat terang akibat gaya gravitasi ekstrem lubang hitam memicu kehancuran total bintang.
Sinyal kejutan tersebut awal mulanya terdeteksi pada November 2025 oleh fasilitas pengamatan ZTF di California Selatan dari galaksi yang berjarak 750 juta tahun cahaya.
“Dari setengah juta kilatan cahaya yang dideteksi ZTF setiap malam, algoritma kecerdasan buatan baru kami secara otomatis mengenali kilatan yang sangat mirip dengan peristiwa pembantaian bintang, meskipun lokasinya tidak biasa di pinggiran galaksi,” ujar Stein.
Ledakan materi tersebut menghasilkan energi radiasi inframerah hingga ultraviolet yang mengalahkan terang seluruh galaksi inangnya selama beberapa bulan.
Konfirmasi lanjutan mengenai spektrum energi panas mencapai 30.000 derajat Celsius ini dilakukan melalui kolaborasi teleskop darat SOAR di Cili dan fasilitas UVOT satelit NASA Swift.
“Kombinasi dari seluruh data ini membantu kami menyingkirkan penjelasan lain dan dengan percaya diri menyatakan bahwa ini adalah peristiwa pembantaian bintang, meskipun lokasinya aneh,” kata Jonathan Carney, mahasiswa doktoral di Universitas North Carolina di Chapel Hill, yang memperoleh spektrum pertama pendukung interpretasi kilatan tersebut sebagai peristiwa pembantaian bintang.
Bagaimana lubang hitam raksasa ini bisa terlempar jauh dari tempat asalnya?
“Itu pasti berasal dari pusat galaksi, tetapi bukan galaksi yang menjadi tempatnya berada di pinggiran saat ini,” kata Stein.
“Kami menduga lubang hitam supermasif milik galaksi inang masih berada di intinya, tetapi lubang hitam yang memakan bintang tersebut bisa jadi berawal dari galaksi kecil yang bergabung dengan galaksi besar yang kita lihat hari ini.”
Para ilmuwan mengemukakan hipotesis bahwa dorongan gravitasi dari penggabungan tiga galaksi atau benturan dengan galaksi kerdil telah menendang lubang hitam tersebut ke area pinggiran.
Potensi ditemukannya lebih banyak monster antariksa tak bertuan ini membuka cakrawala baru mengenai sejarah evolusi dan interaksi galaksi di alam semesta.