- Ratusan pesepeda menyusuri Kota Yogyakarta pada Senin, 17 Agustus 2026, dalam kegiatan Tamansiswa Onthel Mardika.
- Acara tersebut merupakan napak tilas pawai kemerdekaan pertama tahun 1945 yang dilakukan Ki Hadjar Dewantara.
- Kegiatan yang diikuti berbagai komunitas ini bertujuan menghidupkan kembali gagasan pendidikan jiwa merdeka.
Suara.com - Ratusan pesepeda ontel menyusuri jalanan Kota Yogyakarta dalam kegiatan Tamansiswa Onthel Mardika, Senin (17/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi napak tilas pawai kemerdekaan yang disebut sebagai salah satu pawai pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Ketua Panitia Tamansiswa Onthel Mardika 2025, Listyo H. Krisnarjo, mengatakan kegiatan itu menghidupkan kembali perjalanan Ki Hadjar Dewantara yang mengajak warga Tamansiswa bersepeda keliling Kota Yogyakarta setelah mendengar kabar Proklamasi Kemerdekaan dari radio.
Menurut Listyo, peristiwa tersebut kemudian diteliti dan disimpulkan sebagai pawai kemerdekaan Republik Indonesia yang pertama.
Berangkat dari sana, Tamansiswa Onthel Mardika digelar sebagai bentuk niti laku atau meneladani kembali laku perjuangan yang pernah dilakukan Ki Hadjar Dewantara.
"Ternyata bisa disimpulkan ini adalah pawai kemerdekaan Republik Indonesia yang pertama, tepat 17 Agustus 1945 di sore harinya. Nah pada hari ini kita melakukan niti laku kegiatan itu," kata Listyo ditemui di Tamansiswa, Yogyakarta.
Disampaikan Listyo, napak tilas tersebut bukan sekadar kegiatan bersepeda atau mengenang sejarah. Momentum itu digunakan untuk kembali menghidupkan gagasan pendidikan jiwa merdeka yang diwariskan Ki Hadjar Dewantara.

Terutama ketika masyarakat menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan berbangsa.
"Kita niti laku kemudian kita teriakkan lagi dengan kondisi bangsa yang seperti ini kita berteriak bersama-sama sepanjang jalan tadi kita melakukan pekik merdeka berkali-kali," tandasnya.
Ia mengatakan pekik kemerdekaan itu menjadi simbol untuk menyatukan masyarakat yang memiliki kondisi kehidupan berbeda. Menurutnya, kemerdekaan seharusnya menjadi ruang bersama, baik bagi masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan maupun mereka yang tengah merasakan kebahagiaan.
"Sehingga rakyat, baik bagi yang sedang kesusahan atau mungkin yang memang sedang bersuka cita, kita semakin bisa menyatukan rasa itu dalam semangat dan pekik kemerdekaan," ujarnya.
Dalam pandangan Listyo, gagasan jiwa merdeka yang diwariskan Ki Hadjar Dewantara memiliki tiga makna utama, yakni mandiri, tidak terperintah, dan tertib. Ia menilai aspek terakhir kerap terlupakan karena kemerdekaan sering dipahami sebatas kebebasan melakukan apa saja.
Menurutnya, kemerdekaan tidak boleh berhenti pada kebebasan individu. Jiwa merdeka justru menuntut seseorang mampu menentukan sikap sendiri tanpa merampas atau mengganggu hak orang lain untuk merdeka.
"Ketertiban itu atau merdeka itu tidak mengganggu merdekanya orang lain," tegasnya.
Pesan tersebut dibawa dalam perjalanan Tamansiswa Onthel Mardika yang melibatkan ratusan peserta dari berbagai komunitas. Panitia memperkirakan jumlah yang hadir mencapai 250 hingga 300 orang.
Peserta tidak hanya berasal dari Yogyakarta. Sejumlah komunitas sepeda dari luar daerah ikut hadir, termasuk komunitas sepeda kayu dari Klaten yang membawa puluhan peserta menggunakan truk, serta peserta dari Magelang dan berbagai komunitas sepeda ontel lainnya.