-
Dua siswa tewas termasuk pelaku dalam penembakan di Ateneo de Zamboanga Filipina.
-
Pelaku kelas sembilan membawa pistol dan senapan ke kelas sebelum mengakhiri hidupnya.
-
Kasus Zamboanga merupakan insiden penembakan sekolah kedua di Filipina dalam dua bulan.
Suara.com - Penembakan di lingkungan sekolah kembali mengguncang Filipina setelah seorang siswa tewas bersama pelaku di Zamboanga City. Tragedi berdarah ini menjadi kasus kedua yang melanda institusi pendidikan negara tersebut dalam jangka waktu kurang dari dua bulan.
Aksi penembakan ini membocorkan celah keamanan di kawasan sekolah swasta Ateneo de Zamboanga yang seharusnya menjadi ruang aman belajar. Pelaku yang merupakan murid kelas sembilan bertindak nekat membawa dua jenis senjata api ke dalam area kampus.
Penyelidikan awal kepolisian mengungkap bahwa pelaku membawa pistol serta senapan sebelum melepas tembakan secara brutal ke arah para siswa di dalam ruang kelas. Rentetan tembakan tersebut langsung mengakhiri nyawa seorang siswa kelas sepuluh yang menjadi korban sasaran.

Setelah melancarkan aksi mematikannya di kelas, pelaku yang masih berusia remaja tersebut memilih mengakhiri hidupnya sendiri di lokasi kejadian. Pihak kepolisian memastikan tidak ada korban luka tambahan dalam peristiwa mencekam ini.
Presiden universitas, Ernald Andal, menyatakan bahwa situasi di lapangan telah berhasil dikendalikan sepenuhnya oleh aparat keamanan dan pihak kampus.
"Kami tidak ingin hal seperti ini terjadi. Kami ingin memprioritaskan keselamatan seluruh siswa kami," ujar Ernald Andal dikutip dari CNN Internasional, Selasa (18/8/2026).
Suasana kepanikan sempat melanda area luar gedung lima lantai tersebut saat orang tua siswa berkumpul menanti kejelasan kondisi anak-anak mereka. Petugas olah tempat kejadian perkara bersama personel militer dan polisi bersenjata lengkap langsung mengamankan seluruh area seluas delapan hektar tersebut.
Peristiwa di Zamboanga ini semakin memperpanjang daftar hitam kekerasan bersenjata yang melibatkan pelajar di kawasan Asia Tenggara. Insiden ini terjadi hanya berjarak sepuluh hari dari aksi pembantaian serupa oleh seorang siswa di pinggiran kota Bangkok, Thailand.
Kasus kekerasan dengan senjata api di lingkungan sekolah sebenarnya tergolong sangat jarang terjadi di kawasan Filipina. Pemerintah setempat menerapkan aturan kepemilikan senjata api yang relatif ketat, mencakup pemeriksaan latar belakang hingga evaluasi psikologis berkala bagi calon pemilik.
Meski regulasi hukum ditulis sangat ketat, peredaran senjata api ilegal yang longgar di tengah masyarakat tetap menjadi ancaman nyata. Fenomena ini terbukti berulang kali berhasil menembus benteng pertahanan keamanan institusi pendidikan formal.
Sebelum tragedi di Zamboanga meletus, aksi serupa telah merenggut nyawa tiga siswa dan melukai sekitar 20 orang lainnya di Tacloban City pada Juni lalu. Dalam peristiwa berdarah di sekolah negeri tersebut, dua orang siswa nekat membuka tembakan ke arah teman-teman sekolah mereka sendiri.