- Remaja 14 tahun melakukan penembakan di sekolah Nonthaburi Thailand pada 7 Agustus 2026 yang menewaskan sembilan orang termasuk pelaku.
- Pelaku diketahui telah mempelajari penggunaan senjata api selama satu hingga dua tahun sebelum melancarkan aksi brutal tersebut.
- Pihak kepolisian masih menyelidiki berbagai faktor motif tekanan pelaku serta mengumpulkan sejumlah barang bukti di lokasi kejadian.
Suara.com - Tragedi penembakan di sekolah kawasan Nonthaburi, Thailand, mulai menemukan titik terang.
Polisi mengungkap pelaku telah mempelajari penggunaan senjata api selama 1–2 tahun sebelum melakukan aksi brutal tersebut.
Peristiwa yang terjadi pada 7 Agustus 2026 itu menewaskan sembilan orang, termasuk pelaku.
Korban terbaru adalah siswi berusia 12 tahun yang meninggal akibat luka tembak di kepala, sementara total korban luka mencapai 28 orang.
Polisi menyatakan penyelidikan masih berlangsung dengan memeriksa 17 saksi serta sejumlah barang bukti, termasuk senjata, selongsong peluru, ponsel, dan komputer pelaku.
![Seorang remaja 14 tahun melakukan aksi penembakan terhadap kakek dan neneknya sendiri lalu melakukan penyerangan ke sekolah. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/09/84554-penembakan-di-thailand.jpg)
Fokus utama bukan hanya kronologi kejadian, tetapi juga mengungkap motif di balik tragedi tersebut.
“Kami tidak menemukan satu penyebab tunggal. Ada beberapa faktor yang saling berkaitan,” ujar pihak kepolisian dinukil dari spacebar.th
Dari hasil awal, pelaku diduga menghadapi berbagai tekanan, mulai dari masalah keluarga, kesulitan belajar, hingga konflik dengan teman.
Selain itu, pelaku juga diketahui sering mengonsumsi konten kekerasan di media sosial.
Temuan penting lainnya adalah riwayat ketertarikan pelaku terhadap senjata api.
Polisi menyebut pelaku telah mempelajari penggunaan senjata selama 1–2 tahun, bahkan pernah membawa senjata jenis BB gun ke sekolah sebelumnya.
Meski demikian, belum ada bukti kuat bahwa pelaku pernah berlatih menembak di lapangan resmi.
Aparat masih menelusuri kemungkinan tersebut dengan memeriksa sejumlah lokasi latihan di sekitar wilayah kejadian.
Isu perundungan sempat ramai dibahas di media sosial.
Namun polisi menegaskan, hingga kini belum ada bukti yang menunjukkan pelaku menjadi korban bullying di sekolah.