-
Penembakan di sekolah menengah Ateneo de Zamboanga Filipina menewaskan empat orang dan melukai sembilan korban.
-
Pelaku merupakan siswa senior yang membawa pistol serta senapan ke dalam ruang kelas.
-
Polisi dan tim investigasi masih mendalami motif serangan serta mengevaluasi celah keamanan sekolah.
Suara.com - Pelaku penembakan di sekolah katolik Filipina, Ateneo de Zamboanga di Kota Zamboanga, Filipina Selatan teridentifikasi sebagai pelajar sekolah itu juga. Ayahnya bekerja di Bea Cukai kota yang sama.
Kejadian penembakan ini menewaskan 4 orang dan melukai 9 lainnya pada Selasa pagi. Aksi nekat yang dilakukan seorang siswa senior ini menjadi insiden kekerasan bersenjata paling mematikan di lingkungan sekolah swasta Katolik tersebut.
Penyelidikan awal mengindikasikan kelalaian sistem keamanan kampus sehingga pelaku berhasil lolos membawa dua jenis senjata api aktif ke dalam ruang kelas.

Biadabnya, penembakan massal ini meletus secara mendadak hanya beberapa saat sebelum aktivitas belajar-mengajar resmi dimulai.
Badan Penyelidikan Nasional (NBI) mengonfirmasi bahwa korban tewas terdiri dari dua siswa, dua petugas keamanan, termasuk terduga pelaku.
Sampai saat ini pihak berwenang belum merilis identitas resmi para korban demi kepentingan penyelidikan dan privasi keluarga.
Hasil pemeriksaan lapangan menunjukkan pelaku membawa pistol dan senapan serbu ke area kampus sebelum memuntahkan tembakan tanpa provokasi.
Wali Kota Zamboanga, Khymer Adan Olaso, mengonfirmasi status hubungan antara pelaku dan para korban di institusi pendidikan elit tersebut.
"Pelaku penembakan dan korbannya sama-sama berstatus sebagai siswa di sekolah swasta yang dikelola ordo Jesuit ini," ujar Wali Kota Khymer Adan Olaso, dikutip dari Anadolu, Selasa (18/8/2026).
Video amatir yang beredar merekam kepanikan luar biasa ketika puluhan siswa berlarian keluar gedung saat suara dentuman senjata meletus.
Polisi mengidentifikasi pelaku sebagai siswa laki-laki kelas empat SMA yang beraksi seorang diri.
Informasi lokal menyebutkan ayah dari pelaku merupakan seorang pejabat aktif yang bertugas di Kantor Bea Cukai Kota Zamboanga.
Aparat kepolisian dan tim detektif masih bertahan di lokasi kejadian untuk membongkar motif utama di balik aksi keji ini.
Fokus investigasi saat ini tertuju pada celah pemeriksaan keamanan gerbang yang membuat senjata laras panjang bisa masuk ke lingkungan sekolah.
Peristiwa kekerasan bersenjata ini menjadi tamparan keras bagi regulasi pengawasan senjata api di wilayah Filipina Selatan.
Kasus penembakan di lembaga pendidikan tergolong sangat jarang terjadi di Filipina bila dibandingkan dengan negara-negara barat.
Pemerintah daerah bersama pihak yayasan sekolah kini menyiapkan layanan trauma healing bagi seluruh siswa yang menyaksikan tragedi berdarah tersebut.