- Putri dan warga Cirebon berjualan atribut kemerdekaan di Asemka Jakarta sejak akhir Juli hingga pertengahan Agustus.
- Sisa bendera tak terjual dibawa pulang oleh Putri untuk disimpan atau dibagikan gratis di kampung halamannya.
- Warga Pondok Labu menyimpan dekorasi kain di pos RT agar dapat digunakan kembali hingga rusak.
Suara.com - Gegap gempita perayaan Hari Kemerdekaan selalu meninggalkan jejak yang kasatmata di sepanjang gang dan jalan raya Ibu Kota.
Beberapa umbul-umbul, bendera segitiga, dan balon-balon masih terpasang rapi di sudut-sudut kota begitu tanggal 17 Agustus berlalu.
Namun di balik hiruk pikuk pesta kemerdekaan itu, tersimpan kisah lain yang jarang tersorot. Ke mana perginya jutaan lembar plastik dan kain merah putih setelah pesta usai?
Kawasan Asemka, Jakarta Barat, menjadi salah satu episentrum perdagangan atribut kemerdekaan setiap tahunnya, dan di sanalah kisah para pedagang musiman bermula.
Putri, seorang pedagang bendera asal Cirebon, mengaku dagangannya hanya buka dalam rentang waktu terbatas menjelang perayaan. "Ini musiman sih," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa masa berjualan itu berlangsung sejak akhir Juli hingga pertengahan Agustus, sebelum akhirnya tutup lapak dan kembali ke Cirebon.
Fenomena "nomaden bendera" ini bukan perkara baru. Putri mengungkapkan, hampir satu RT di kampung halamannya turut merantau ke Jakarta demi berjualan atribut serupa.
"Banyak. Di sini banyak yang jual," katanya.
Selama masa jualan yang hanya berlangsung sekitar satu setengah bulan itu, Putri mengontrak kamar kos di sekitar Asemka demi menekan biaya operasional.
Pertanyaan besar kemudian muncul, yakni bagaimana nasib barang dagangan yang tak laku terjual hingga hari terakhir masa jual.
Berbeda dengan dugaan banyak orang bahwa sisa stok akan dibuang begitu saja, Putri menegaskan bahwa barang-barang tersebut justru diboyong pulang.
"Dibawa. Nanti pas lagi musiman lagi dibawa lagi ke sini," tutur Putri, khususnya untuk bendera polos tanpa angka tahun yang masih bisa dijual kembali tahun berikutnya.
Sementara untuk atribut yang sudah memuat angka tahun tertentu dan tidak lagi relevan untuk dijual, Putri memilih membagikannya secara cuma-cuma di kampung halaman.
"Jadi buat ramein saja," ucapnya, seraya menambahkan bahwa pembagian tersebut sepenuhnya gratis tanpa dipungut biaya.
Pola serupa juga tampak dari sisi konsumen di tingkat rukun tetangga, yang ternyata tak selalu membeli atribut baru setiap tahun.
Thomas, warga RT 04 RW 08 Pondok Labu, Jakarta Selatan, menjelaskan bahwa dekorasi berbahan kain seperti bendera dan umbul-umbul justru menjadi inventaris yang dirawat dan disimpan.
"Iya, ini kan inventaris punya RT. Disimpan lagi di pos, ada tempat buat nyimpan bendera-bendera ini," jelasnya.
Bendera-bendera tersebut tidak serta-merta diganti setiap tahun, melainkan terus dipakai hingga benar-benar rusak.
"Nggak, dipakai sampai serusaknya benderanya aja," tegas Thomas, sambil menjelaskan bahwa hiasan lampu saja yang dipakai sesuka hati tanpa aturan khusus penyimpanan.
Praktik menyimpan dan mendaur pakai atribut kemerdekaan seperti yang dilakukan warga Pondok Labu ini sesungguhnya menjadi secercah harapan di tengah kekhawatiran soal sampah visual pascaperayaan.
Sayangnya, tidak semua elemen dekorasi bernasib sama beruntung. Sebab barang-barang berbahan plastik sekali pakai seperti balon dan sebagian stiker cenderung sulit didaur ulang maupun disimpan kembali.
Kondisi pasar tahun ini pun turut memengaruhi volume atribut yang beredar, seiring pengakuan Putri bahwa penjualan mengalami penurunan signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
"Tahun ini kurang sih," ungkap Putri singkat, sebelum menambahkan bahwa penurunan penjualan tahun ini mencapai sekitar 40 persen dibanding musim sebelumnya.
Penurunan permintaan ini, di satu sisi, bisa dibaca sebagai berkurangnya potensi sampah dekorasi yang akan dihasilkan pascaperayaan.
Namun di sisi lain, hal tersebut juga mencerminkan tantangan ekonomi yang dihadapi para pedagang musiman rantauan seperti Putri, yang menggantungkan penghasilan tahunan mereka dari sekitar satu setengah bulan masa jual di Ibu Kota.
Kisah dari Asemka dan Pondok Labu ini pada akhirnya menyisakan renungan bagi masyarakat luas, bahwa kemeriahan tujuh belasan tak melulu harus berakhir sebagai tumpukan sampah plastik dan kain di tepi jalan.
Menyimpan bendera untuk dipakai kembali, sebagaimana dicontohkan warga RT 04 RW 08 Pondok Labu, maupun kebiasaan pedagang yang membawa pulang dan membagikan sisa stok, menjadi bukti bahwa perayaan kemerdekaan sejatinya bisa dirayakan tanpa harus menyisakan beban baru bagi lingkungan.