- Komunitas SBY menggelar pameran seni kolaboratif untuk memperingati HUT RI dan Hari Jadi Jakarta.
- Acara ini menampilkan 152 karya dari 48 seniman lintas daerah serta anak-anak berkebutuhan khusus.
- Pameran bertujuan menyampaikan pesan perdamaian dan kemanusiaan di tengah dinamika situasi global saat ini.
Suara.com - Seni terbukti mampu melampaui sekat perbedaan. Lewat pameran bertajuk 'Art for Peace and a Better Future', pesan perdamaian digaungkan melalui kolaborasi tanpa batas.
Tak hanya menjadi kado spesial untuk HUT ke-81 RI dan Hari Jadi Jakarta, ajang ini menjadi ruang inklusif yang mempertemukan maestro lintas daerah dengan talenta luar biasa dari anak-anak berkebutuhan khusus."
Wakil Koordinator Seniman, Akbar Lingga Pramana, mengatakan tema tersebut kembali diangkat karena dinilai masih relevan dengan kondisi global saat ini.
Menurutnya, persoalan sosial dan budaya yang berkembang membuat pesan mengenai perdamaian perlu terus disuarakan melalui seni.
“Tema ini masih merupakan tema tahun lalu yang kami angkat kembali. Menurut SBY Community, tema ini masih relevan dengan situasi global, sosial, dan budaya saat ini,” ujar Akbar.
Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya yang berbentuk pameran tunggal, tahun ini pameran dikembangkan melalui kolaborasi.
Sebanyak 152 karya dari 27 pelukis komunitas SBY serta 21 seniman dari cabang di berbagai daerah seperti Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta turut ditampilkan.
Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa komunitas seni ini terbuka bagi seniman dari berbagai latar belakang.
Salah satu karya yang menjadi perhatian adalah lukisan berukuran besar berjudul "Law of the Jungle". Karya tersebut menggambarkan pertemuan berbagai karakter dan latar belakang dalam satu ruang kolaborasi, sekaligus menjadi refleksi terhadap persoalan lingkungan dan dampak globalisasi.
“Law of the Jungle ini menjadi perhatian kami terhadap kondisi lingkungan dan globalisasi. Lewat karya ini, kami ingin menunjukkan bahwa keberagaman karakter dan latar belakang dapat bertemu dalam sebuah kolaborasi,” kata Akbar.
Tak hanya menghadirkan seniman dari berbagai daerah, pameran ini juga membuka ruang ekspresi bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Keterlibatan mereka menjadi bagian dari pesan bahwa seni dapat menjadi ruang yang setara tanpa membedakan latar belakang maupun kondisi seseorang.

“Masalah ruang ekspresi anak-anak berkebutuhan khusus ini penting. Ruang ekspresi tidak melihat kasta, tetapi berbicara tentang kemanusiaan dan persamaan,” ujar Akbar.
Sementara itu, Ediwan Prabowo selaku ketua kordinator "SBY ART COMMUNITY" mengatakan penyelenggaraan pameran tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pesan perdamaian di tengah situasi global.
Tema tersebut, kata dia, sejalan dengan visi yang ingin ditekankan melalui kegiatan seni dan budaya.
“Penyelenggaraan pameran ini untuk memeriahkan HUT RI serta Hari Jadi Kota Jakarta. Ini merupakan pameran pertama kita dan menjadi bagian dari visi yang menekankan perdamaian, melihat situasi global, dengan harapan ke depan akan menjadi lebih baik,” ujar Ediwan.
Melalui pertemuan seniman lintas daerah dan keterlibatan anak-anak berkebutuhan khusus, pameran ini tidak hanya menjadi ruang untuk memamerkan karya.
Seni ditempatkan sebagai medium untuk mempertemukan perbedaan, membangun kepedulian terhadap kemanusiaan, serta menanamkan gagasan bahwa perdamaian dapat tumbuh dari ruang-ruang sederhana seperti komunitas dan kolaborasi.
Reporter : Agustin Dwi Anggraini