-
Kelangkaan dan mahal harga korek api melumpuhkan aktivitas memasak harian pengungsi Palestina di Gaza.
-
Blokade bantuan memaksa warga menggilir penggunaan korek api dan memanfaatkan jasa perbaikan barang bekas.
-
Pembatasan pasokan gas elpiji menjadikan pemantik api alat vital untuk menyalakan kayu bakar.
Suara.com - Sebuah korek api sederhana kini menjadi alat penentu bertahan hidup bagi ribuan pengungsi Palestina di Jalur Gaza. Tanpa benda kecil ini, para ibu tidak dapat menyalakan kayu bakar untuk memasak makanan maupun menyedu susu anak-anak mereka.
Pemblokiran barang masuk oleh militer Israel membuat harga korek api baru meroket hingga ratusan kali lipat. Kondisi tersebut memaksa warga memanfaatkan jasa servis korek api bekas atau saling meminjam percikan api antartenda.
Rabab Deifallah, seorang ibu lima anak yang tinggal di tenda pengungsian, terus berupaya memantik korek api lamanya yang berulang kali rusak. Dikutip dari Al Jazeera, benda tersebut menjadi satu-satunya tumpuan setelah gas elpiji habis dan harganya tidak terjangkau.
![Warga Palestina memeriksa kehancuran setelah serangan tentara Israel di sekitar tenda-tenda pengungsi di dalam tembok Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir al-Balah, di Jalur Gaza, Palestina, Senin (14/10/2024). [Eyad BABA / AFP]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/10/15/64079-serangan-israel-ke-tenda-pengungsi-palestina-konflik-israel-palestina-jalur-gaza.jpg)
“Seluruh kehidupan sehari-hari kami bergantung pada api. Namun memulainya butuh korek api, dan benda kecil ini menjadi salah satu barang yang paling sulit ditemukan di Gaza.”
Sebelum perang berkecamuk pada Oktober 2023, tiga buah korek api bisa dibeli seharga satu shekel (0,33 dolar AS). Saat ini, satu unit korek api baru dipatok senilai 27 dolar AS hingga 33 dolar AS, sementara biaya perbaikannya mencapai 12 dolar AS.
“Apakah saya harus menghabiskan uang sebanyak itu untuk membeli korek api, atau membelinya untuk sekantong tepung?”
Karena keterbatasan dana, warga sering kali tidak memiliki korek api sama sekali di dalam tendanya. Mereka terpaksa meminjam api dari tetangga menggunakan potongan karton atau membiarkan keluarga mengonsumsi makanan dingin.
Mengapa korek api begitu sulit didapatkan di Jalur Gaza?
Hasnaa Mansour, pengungsi asal kamp Jabalia, turut merasakan dampak langsung dari krisis pemantik api ini. Demi menopang hidup enam anaknya, ia mengandalkan tungku tanah liat untuk membuat roti dagangan.
Tanpa adanya gas elpiji, ia membutuhkan nyala api besar dari kayu bakar yang sulit dipicu tanpa pemantik yang berfungsi baik. Kondisi ini membuat proses pengolahan makanan terhambat hingga berjam-jam.
“Jika menggunakan gas, Anda hanya butuh percikan kecil untuk menyalakannya. Namun dengan oven, saya membutuhkan api yang nyata."
“Saya sudah duduk di sini sejak pagi dan hingga pukul 10 saya masih belum bisa menyalakan oven. Saya menyuruh putri kecil saya membawa selembar karton untuk mencari tetangga yang menyalakan api, tetapi dia tidak menemukan siapa pun."
Laporan OCHA menunjukkan bahwa pembatasan akses masuk dan penutupan perbatasan oleh Israel menekan ketersediaan barang pokok. Barang-barang yang dikategorikan memiliki fungsi ganda (dual-use) mengalami prosedur pemeriksaan yang sangat ketat.
Kamar Dagang dan Industri Gaza mencatat korek api termasuk dalam daftar barang yang dilarang melintas ke wilayah tersebut. Sepanjang lima bulan pertama tahun 2026, rata-rata truk bantuan yang masuk hanya 191 unit per hari, jauh di bawah kebutuhan praperang.
Bagaimana warga mengimbangi kelangkaan alat pemantik ini?
Di lokasi pengungsian Sekolah Al-Karmel, Gaza Barat, Shadi Abu Shamlah menggambarkan betapa langkanya alat pemantik api tersebut. Dari ratusan jiwa yang mengungsi di sekolah itu, hanya ada sekitar empat korek api yang beroperasi.
Akibatnya, satu-satunya korek api harus digilir dari satu tenda ke tenda lainnya secara bergantian. Tanpa alat ini, warga terpaksa tidur dalam keadaan lapar karena tidak bisa memasak makanan malam.
“Korek api hari ini adalah tulang punggung kehidupan. Jika Anda memiliki korek api di tenda, Anda aman. Jika tidak punya, Anda terjebak."
“Hal paling sederhana pun butuh api. Anda ingin secangkir teh, ingin memasak, ingin membuat susu untuk anak… Anda butuh api.
Tingginya permintaan perbaikan melahirkan profesi baru bagi sebagian warga yang kehilangan pekerjaan utama. Tamer Al-Shawish, mantan sopir berusia 24 tahun, kini membuka lapak reparasi korek api di dekat lokasi pengungsian.
“Perang telah memaksa kami melakoni pekerjaan yang tidak pernah kami ketahui sebelumnya. Saya mulai memperbaiki korek api agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga."
“Sebelum perang, tidak ada orang yang perlu memperbaiki korek api. Harganya murah dan selalu ada. Ketika gasnya habis, kami akan membuangnya dan membeli yang baru."
“Masyarakat datang membenahi korek api karena harganya lebih murah daripada membeli baru, terutama di tengah tingginya harga dan kelangkaan barang pokok."
Krisis korek api merupakan dampak turunan dari blokade total dan konflik bersenjata yang berlangsung di Jalur Gaza sejak Oktober 2023. Pembatasan ketat terhadap pasokan bahan bakar dan gas elpiji membuat warga bergantung sepenuhnya pada kayu bakar sebagai sumber energi utama.
Sistem distribusi barang dagang yang terputus menciptakan lonjakan inflasi pada barang-barang manufaktur sederhana. Akibatnya, barang kebutuhan harian kecil berubah menjadi komoditas langka yang menentukan keberlangsungan hidup masyarakat di area pengungsian.