Asap Kebakaran Hutan Kalimantan Sudah Sampai Malaysia, Sekolah di Sarawak Ditutup

Pebriansyah Ariefana

Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:19 WIB
Asap Kebakaran Hutan Kalimantan Sudah Sampai Malaysia, Sekolah di Sarawak Ditutup
Kabut asap Karhutla Kalimantan Barat meluas ke Malaysia hingga memaksa penutupan sekolah di Sarawak. (Mongabay)
baca 10 detik
  • Kebakaran hutan di Kalimantan Barat memicu kabut asap hingga melumpuhkan aktivitas sekolah di Malaysia.
  • Anomali iklim El Niño memicu lonjakan drastis titik panas dan mengancam habitat orangutan Kalimantan.
  • Penanganan karhutla dipertanyakan akibat pemangkasan anggaran penanggulangan bencana di tingkat pusat dan daerah.

Suara.com - Persebaran kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat telah menyeberang ke wilayah Malaysia dan memaksa enam sekolah di Sarawak menghentikan aktivitas belajar tatap muka. Lonjakan polusi udara di kawasan perbatasan tersebut kini mencapai tingkat sangat tidak sehat akibat eskalasi titik panas yang terus meluas.

Wilayah Tebedu di Sarawak mencatat Indeks Pencemaran Udara (API) melampaui angka 200 pada 12 Agustus lalu, yang memicu pemerintah setempat memberlakukan pembelajaran daring. Bahkan, lembaga pemantau kualitas udara IQAir sempat menempatkan Kota Kuching di posisi teratas sebagai kota paling berpolusi di dunia pada 11 Agustus.

Dikutip dari Mongabay, Eskalasi karhutla ini menjadi krisis lintas batas terparah musim ini seiring lonjakan drastis titik panas di wilayah Kalimantan Barat. Data resmi APIMS Malaysia mencatat setidaknya 11 kawasan di Sarawak berada pada level kualitas udara tidak sehat dalam periode yang sama.

ILUSTRASI penampakan kebakaran hutan Kalimantan dari satelit Nasa. [NASA Worldview]
ILUSTRASI penampakan kebakaran hutan Kalimantan dari satelit Nasa. [NASA Worldview]

Pemerintah Kota Pontianak telah meliburkan seluruh sekolah secara tidak terbatas demi melindungi anak-anak dari paparan asap pekat. Selain Kalimantan, wilayah Sumatra juga mulai terancam oleh kebakaran lahan gambut yang berpotensi mengirimkan asap ke Singapura.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi bahwa Indonesia baru saja memasuki puncak musim kebakaran pada Agustus dan September. Enam provinsi prioritas kini memfokuskan pemadaman pada area gambut yang sangat mudah terbakar selama musim kemarau.

Kalimantan Barat mencatatkan kerusakan terparah dengan luas area terbakar mencapai 28.680 hektar per 9 Agustus. Angka tersebut menyumbang lebih dari separuh total akumulasi kerusakan lahan di enam provinsi prioritas penanganan.

Namun, estimasi LSM Madani Berkelanjutan menunjukkan angka yang jauh lebih besar, yaitu mencapai 50.558 hektar area terindikasi terbakar di Kalimantan Barat. Peningkatan drastis ini dipicu oleh kemunculan fenomena El Niño kategori kuat yang melanda kawasan Asia Tenggara.

Analisis spasial menunjukkan bahwa lonjakan luas lahan terbakar di Indonesia meningkat hingga delapan kali lipat dari Juni ke Juli. Platform pemantau satelit FireWatch bahkan mendeteksi lebih dari 154.000 titik panas tersebar di seluruh Indonesia hingga pertengahan Agustus.

Mengapa Satwa Langka Turut Terancam Oleh Amukan Karhutla?

baca juga

Amukan si jago merah kini mengancam keselamatan lebih dari 60 individu orangutan Kalimantan di pusat rehabilitasi YIARI Ketapang. Kobaran api yang berkobar hingga jarak satu kilometer dari fasilitas tersebut sempat memicu kekhawatiran besar sebelum berhasil dipadamkan.

Melalui unggahan di media sosial Instagram, pihak YIARI sempat menyampaikan keprihatinannya saat api mendekati area pusat rehabilitasi.

“Api kini sangat dekat dengan pusat rehabilitasi orangutan, dan kami khawatir angin akan membuat api semakin meluas,” kata YIARI dalam unggahan Instagram mereka.

Petugas pemadam kebakaran akhirnya berhasil memadamkan kobaran utama pada 12 Agustus dini hari, meski sisa sisa asap tebal masih menyelimuti area tersebut. Selain di Ketapang, titik panas juga terdeteksi mendekati lanskap Hutan Sungai Putri yang menjadi rumah bagi ribuan orangutan liar.

Kerusakan habitat akibat karhutla juga meluas hingga ke Pulau Jawa, tepatnya di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kebakaran yang melahap 899 hektar savana dan hutan membuat satwa seperti kera ekor panjang turun ke jalanan untuk mencari makan.

Namun, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Rudijanta Tjahja Nugraha, memberikan klarifikasi mengenai kondisi satwa liar di area konservasi tersebut.

“Kebakaran tersebut tidak berdampak langsung pada satwa liar karena sebagian besar area yang terbakar adalah lanskap savana taman nasional,” ujar Rudijanta Tjahja Nugraha.

BNPB menyatakan telah mengerahkan 48.000 personel gabungan dan 35 armada udara untuk operasi pengeboman air serta rekayasa cuaca. Namun, sejumlah lembaga masyarakat sipil meragukan kesiapsiagaan pemerintah dalam merespons kecepatan penyebaran api tahun ini.

Kekhawatiran semakin memuncak setelah anggaran penanggulangan bencana BNPB mengalami penurunan drastis menjadi Rp491 miliar pada tahun ini. Pemotongan anggaran tersebut terjadi di tengah pengalihan dana negara untuk program-program prioritas pemerintah pusat.

Menanggapi kekhawatiran publik, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa komitmen negara tidak akan surut dalam menangani kebakaran hutan.

Meski ada jaminan dari pemerintah pusat, alokasi anggaran penanganan karhutla di tingkat daerah seperti Provinsi Riau masih dinilai sangat minim. Lembaga FITRA Riau mencatat anggaran penanganan kebakaran di wilayahnya hanya dialokasikan sebesar Rp3,67 miliar untuk tahun 2026.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Menggugat Pendekatan Reaktif Pemerintah Atasi Karhutla

Menggugat Pendekatan Reaktif Pemerintah Atasi Karhutla

Your Say | Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:34 WIB

Parade Bendera Merah Putih di Bawah Laut Meriahkan HUT RI ke-81

Parade Bendera Merah Putih di Bawah Laut Meriahkan HUT RI ke-81

Video | Senin, 17 Agustus 2026 | 19:00 WIB

Miris! Potret Upacara HUT RI di Tengah Kepungan Karhutla Sumsel

Miris! Potret Upacara HUT RI di Tengah Kepungan Karhutla Sumsel

Foto | Senin, 17 Agustus 2026 | 15:50 WIB

Terkini

Merdeka dari People Pleasing: Mengapa Gen Z Harus Mulai Belajar Berkata 'Tidak'

Merdeka dari People Pleasing: Mengapa Gen Z Harus Mulai Belajar Berkata 'Tidak'

Your Say | Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:20 WIB

Kekerasan Seksual di Perkebunan Sawit seperti Gunung Es, Perlindungan Buruh Masih Minim

Kekerasan Seksual di Perkebunan Sawit seperti Gunung Es, Perlindungan Buruh Masih Minim

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:20 WIB

Makna Lagu "Great Expectation" Sienna Spiro, Ketika Cinta Tejebak Ekspetasi

Makna Lagu "Great Expectation" Sienna Spiro, Ketika Cinta Tejebak Ekspetasi

Your Say | Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:20 WIB

Asap Kebakaran Hutan Kalimantan Sudah Sampai Malaysia, Sekolah di Sarawak Ditutup

Asap Kebakaran Hutan Kalimantan Sudah Sampai Malaysia, Sekolah di Sarawak Ditutup

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:19 WIB

Guns N' Roses Kembali ke Jakarta dan Kenangan Masa Remaja Saya

Guns N' Roses Kembali ke Jakarta dan Kenangan Masa Remaja Saya

Your Say | Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:12 WIB

Warga Jakarta Bayar Mahal Udara Kotor, Revisi Aturan Pencemaran Masih Terpinggirkan

Warga Jakarta Bayar Mahal Udara Kotor, Revisi Aturan Pencemaran Masih Terpinggirkan

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:12 WIB

Rupiah Kian Menguat, Destry Damayanti: Respons Kebijakan Stabilisasi BI

Rupiah Kian Menguat, Destry Damayanti: Respons Kebijakan Stabilisasi BI

Bisnis | Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:10 WIB

Mahasiswa Minta Praperadilan Febrie Ardiansyah Tak Hambat Penelusuran Aset dan Aliran Dana TPPU

Mahasiswa Minta Praperadilan Febrie Ardiansyah Tak Hambat Penelusuran Aset dan Aliran Dana TPPU

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:08 WIB

Belum Tetapkan Tersangka di Kasus Kematian Sutrimo, Polisi Tunggu Hasil Lab Forensik

Belum Tetapkan Tersangka di Kasus Kematian Sutrimo, Polisi Tunggu Hasil Lab Forensik

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:07 WIB

Teriakan Anggota Paskibraka Sayang-sayang Pak Koster Bikin Netizen Geli: Gak Mungkin dari Hati

Teriakan Anggota Paskibraka Sayang-sayang Pak Koster Bikin Netizen Geli: Gak Mungkin dari Hati

Entertainment | Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:06 WIB

×